Pendapatan Menurun, Masyarakat Urungkan Mudik dan Berharap pada Mudik Gratis

Sabtu, 29 Mar 2025, 12:45 WIB

JAKARTA- Arus mudik lebaran tahun ini hampir mencapai puncaknya di mana jutaan masyarakat yang selama ini bekerja dan mencari nafkah di kota-kota besar seperti Jakarta kembali ke kampung halamannya. Kebanyakan dari pemudik tersebut kembali ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta hingga ke luar Pulau Jawa seperti Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Beruntung, bagi mereka yang bisa mudik karena bisa merayakan hari raya Idul Fitri 1446 H bersama sanak saudara di kampung halaman. Tidak sedikit pula, masyarakat yang harus mengurungkan niatnya untuk mudik karena biayanya dinilai cukup berat di tengah perekonomian yang lesu.

Ket. Foto: Keluarga penerima program mudik gratis berfoto bersama sesaat sebelum diberangkatkan, Kamis (27/3). — Sumber: istimewa

Bunga misalnya, harus mengurungkan niatnya untuk mudik ke Pamekasan, Madura karena biaya yang harus dikeluarkan bersama suami dan anak-anaknya cukup besar.

“Kalau pulang sekeluarga bisa habis jutaan buat ongkos, makanya berharap jika ada tawaran mudik gratis, tapi nggak dapat,” kata Bunga.

Warga Cipinang Asem, Jakarta Timur yang sehari-harinya berjualan kelontongan itu mengaku ekonominya sejak tahun lalu seret, karena dagangan sepi. “Sepertinya kok orang-orang pada irit belanja ya, mungkin lagi nggak punya duit juga,” katanya.

Ditemui pada kesempatan lain, Abdul Muntolo (45), salah seorang peserta mudik gratis BRI asal Kranji-Bekasi, mengaku sangat beruntung berkesempatan untuk pulang kampung dan berlebaran bersama keluarga di Surabaya.

“Program mudik gratis yang diselenggarakan BRI sangat membantu saya dan keluarga terutama karena biaya tiket sekarang yang mahal. BRI mempermudah kami sebagai nasabah, terutama pedagang kaki lima,” kata Abdul yang ditemui bersama istri dan tiga anaknya.

Senada dengan itu, Suyoto yang juga sebagai pekerja toko listrik di Benhill, juga merasa sangat terbantu dengan mudik gratis BRI karena memfasilitasi dia untuk mudik ke Klaten, Jawa Tengah.

“Meskipun ekonomi sedang sulit, tapi bisa diringankan beban oleh BRI melalui fasilitas mudik gratis, apalagi ditambah dengan fasilitas pemeriksaan kesehatan, souvenir, dan uang saku untuk perjalanan,” timpal Suyoto.

Regional CEO BRI Jakarta 2, Suyitno, mengatakan Regional Office BRI Jakarta 2 pada tahun ini memberangkatkan lebih dari 2.700 pemudik dari total kuota pemudik yang disediakan oleh BRI sebanyak 8.500 orang.

Dari 2.700 pemudik yang berpartisipasi dalam program mudik gratis itu, diangkut menggunakan 52 armada bus dengan tiga rute, yaitu Jakarta - Wonosari (Jalur Selatan), Jakarta - Wonogiri (Jalur Utara), dan Jakarta - Surabaya (Tol Transjawa).

Redistribusi Pendapatan

Menanggapi fenomena mudik saat ini, pemerhati masalah sosial ekonomi Awan Santosa mengatakan Pemerintah harus mewaspadai melemahnya daya beli masyarakat.

“Meskipun banyak yang mudik, tetapi yang tidak mudik juga jumlahnya banyak. Kalau pun mudik mereka terbantu oleh program mudik gratis, bukan karena mereka mampu untuk mudik,” kata Awan.

Banyak masyarakat kata Awan lebih menahan diri untuk tidak berbelanja termasuk untuk mudik karena membutuhkan biaya yang besar. Mereka lebih memilih menghemat uang agar dapur tetap ngepul di saat ekonomi lesu, apalagi dalam beberapa waktu ke depan.

“Jadi jangan sampai efisiensi justru menghambat perputaran ekonomi, efisiensi anggaran oleh Pemerintah harus menjadi instrumen redistribusi pendapatan dan peredaran ekonomi yang mengangkat kesejahteraan rakyat,” pungkas Awan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.