Tekan Impor, Industri Dasar Dalam Negeri Harus Kompetitif

Selasa, 25 Mar 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Kebijakan hilirisasi baja yang didorong pemerintah sangat urgen bagi pembangunan infrastruktur di Tanah Air.

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, ide hilirisasi membangun industri dasar memang sangat penting untuk dikembangkan karena berkaitan banyak input yang selama ini harus diimpor.

Ket. Foto: Eko Listiyanto Ekonom Indef - Tentu karena baja itu termasuk industri dasar maka sangat urgen untuk didorong mengenai hilirisasi baja, terlebih lagi RI masih mengimpor baja. — Sumber: antara

Sebagai tantangannya, industri dasar yang sudah dibangun di dalam negeri kalah bersaing dalam harga dengan produk impor.

“Akibatnya untuk proyek pemerintah pun banyak menggunakan produk impor, termasuk penggunaan baja dalam pembangunan infrastruktur,”tegas Suhartoko.

Persoalan efisiensi katanya menjadi problem besar dalam membangun industri dasar. Selain itu skala usaha yang dibangun juga tidak mendukung untuk menekan biaya. Dengan potensi permintaan domestik yang besar, seharusnya dibangun skala usaha yang besar yang menciptakan biaya yang rendah.

Dalam pengelolaan bisnis, terutama di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga menghadapi tantangan khususnya profesionalisme yang sering dikalahkan oleh kepentingan lain.

Secara terpisah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengungkapkan, kebijakan hilirisasi baja yang didorong pemerintah sangat urgen bagi pembangunan infrastruktur di Tanah Air.

“Tentu karena baja itu termasuk industri dasar maka sangat urgen untuk didorong mengenai hilirisasi baja, terlebih lagi Indonesia masih mengimpor baja untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya,” kata Eko.

Hilirisasi baja menjadi semakin penting untuk digenjot mengingat Indonesia saat ini masih terus melakukan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah.

“Tentu kalau bisa dihilirisasi maka nilai tambah baja produksi Indonesia akan semakin tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik sendiri maupun ketika Indonesia mampu melakukan ekspor baja,” kata Eko.

Tidak hanya untuk pembangunan infrastruktur, hilirisasi baja juga dapat membantu peningkatan produksi peralatan rumah tangga maupun konstruksi, kendaraan, dan sebagainya sehingga nilai tambah baja produksi dalam negeri menjadi lebih tinggi.

Ketua Komisi VI DPR Eko Hendro Purnomo menyatakan bahwa Indonesia harus dapat menguatkan proteksinya. Komisi VI DPR pun mendukung restrukturisasi dan transformasi Krakatau Steel untuk peningkatan kinerja dan berkontribusi dalam kemajuan industri baja nasional.

Sebagai perusahaan BUMN dan produsen baja terintegrasi di Indonesia, Krakatau Steel harus bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Dalam 10 tahun ke depan, negara kita sedang membangun, kebutuhan bajanya sangat banyak, seharusnya ini menjadi peluang bagi industri baja nasional.

Dukungan dari pemerintah dan terutama Himbara juga harus berperan dalam menyokong Krakatau Steel untuk bisa bangkit kembali. Industri baja nasional harus mendapatkan perlindungan, bukan hanya business to business, tapi juga government to government,” kata Eko.

Menurut data Badan Pusat Statistik, impor besi dan baja cenderung meningkat sejak 2020 di mana total impor dari berbagai negara mencapai 11,4 juta ton, di tahun 2021 meningkat menjadi total 13,0 juta ton, kemudian meningkat menjadi 14,1 juta ton pada 2022 dan sedikit menurun pada 2023 menjadi sebesar 13,8 juta ton.

Kurangi Impor

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu bara Indonesia (Aspebindo) Anggawira menyampaikan bahwa hilirisasi baja dapat memperkuat kemandirian industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.

“Hilirisasi baja yang mencakup pengolahan dan peningkatan nilai tambah produk baja di dalam negeri, dapat memperkuat kemandirian industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor,” kata Anggawira.

Anggawira menyampaikan bahwa industri baja memiliki peran krusial dalam pembangunan infrastruktur dan sektor-sektor strategis lainnya di Indonesia.

Salah satu sektor industri yang ia soroti adalah sektor konstruksi. Anggawira memperkirakan dalam membangun sebuah perumahan saja, Indonesia membutuhkan sekitar 30–40 persen baja. 

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Viral Rekening Bank Mandiri Rp80,9 Juta Diblokir, DPR Buka Suara

Thailand Hentikan Laju Tim Bola Voli Putri Indonesia

Luis Enrique Peringatkan PSG: Jangan Terlena, Harus Keluar dari Zona Nyaman

Spalletti Tuntut Lebih dari Kolo Muani Usai Juventus Hanya Menang Tipis

Selandia Baru Susul Australia, Anak di Bawah 16 Tahun Terancam Dilarang Bermedia Sosial

Pertarungan Perebutan Kursi Presiden FIFA Memanas, Ceferin Prediksi Infantino Bakal Dapat Penantang

Review Lioness S3E4: Misi Penyelamatan Gagal yang Paksa CIA Langgar Garis Merah

Hari Berenang Khusus Anak Kulit Hitam di Kolam Renang Berlin Batal setelah Diwarnai Polemik Rasial

Usai Gempa M7,7 NTT: Retakan 100 Meter Muncul di Kawah Gunung Kelimutu

Pengunjung Bromo Diserang Hipotermia, Prajurit Marinir Beri Pertolongan Pertama

Berenang di Danau, Bocah 8 Tahun di Louisiana Meninggal akibat Amuba Pemakan Otak

Dibangun Bersama Guru Disabilitas, Papan Tulis AI Buatan Siswa Bandung Raih Juara Google

Pertamina Lubricants Layani Ganti Oli Gratis untuk 1.000 Pengemudi Ojol

Atas Perintah Presiden Prabowo, Menhut Raja Antoni Turun Langsung Tangani Karhutla Kalbar.

Atasi Kekeringan di Lamongan, PU Normalisasi 1,6 KM Sungai & Kerahkan Pompa

Ekosistem Terbuka Dinilai Penting untuk Memperluas Penerapan Agentic AI

Genjot Literasi Pajak Generasi Muda, IKPI Gelar Lomba Cerdas Cermat Nasional

Rumah Sekunder Makin Terjangkau secara Riil, tetapi Stok Hunian Kian Terbatas

Trump Sebut Iran “Runtuh Total”, AS Siapkan “D-Day Ekonomi” untuk Teheran

81 Miles for Indonesia, XLSmart Hubungkan Negeri lewat 5G dan Semangat Berbagi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.