Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harga Cabai Melonjak Tajam, Solusi Cepat Pemerintah Mulai Diterapkan

📅 Senin, 10 Mar 2025, 14:40 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Harga Cabai Melonjak Tajam, Solusi Cepat Pemerintah Mulai Diterapkan Doc: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Ket. Ilustrasi - Pedagang sayur mengambil cabai rawit saat melayani pembeli di Pasar Induk Rau, Serang, Banten.

JAKARTA – Kenaikan harga sejumlah bahan pangan selama Ramadan tentu saja sangat mengkhawatirkan. Sebab, lonjakan harga tersebut dapat menambah beban ekonomi masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Karenanya, upaya yang cepat dan terukur sangat diperlukan, terlebih dari aparat pemerintah. Jika tak segera diatasi, dikhawatirkan lonjakan harga bisa berlangsung lama.

Pemerintah perlu bertindak cepat menstabilkan harga cabai yang belakangan mengalami fluktuasi di beberapa daerah, misalnya di Kabupaten Lombok Tengah dan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk mendukung upaya penstabilan itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) berkoordinasi secara simultan untuk mengadakan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) cabai.

"Bapanas bersama Dinas Pangan Provinsi dan Kabupaten/ Kota melaksanakan kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM), serta mendorong Gerakan Jual Cabai Harga Petani yang digagas Kementerian Pertanian, agar turut merambah ke wilayah yang bukan sentra produksi cabai. Ini yang kita terus dorong untuk penstabilan cabai, terutama di Lombok Tengah dan Mataram," sebut Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi di Jakarta, Sabtu (8/3/).

Berdasarkan data dari Panel Harga Pangan, per 7 Maret 2025, indeks harga cabai rawit merah telah berada 49,97 persen melebihi Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen. Rerata harga secara nasional untuk cabai rawit merah berada di harga 85.482 rupiah per kilogram (kg).

"Selain GPM, kita juga akan mengupayakan penstabilan cabai dengan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Ini karena pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus hadir untuk masyarakat dapat membeli pangan pokok dengan harga baik. Jadi skema kerja sama antar daerah yang surplus dengan daerah yang sedang defisit bisa dengan FDP ini," sambungnya.

Seperti diketahui, sepanjang 2024, pemerintah bersama segenap stakeholder pangan telah melaksanakan FDP yang realisasinya total mencapai 750 ribu kg. Dari itu, FDP cabai total terlaksana sebanyak 250 ribu kg. Ini terdiri dari cabai merah besar 206,4 kg; cabai merah keriting 38,7 ribu kg; dan cabai rawit merah 4,9 ribu kg.

Adapun sebagaimana yang tersampaikan dalam Rakor SPHP cabai, tengah pekan lalu,, penyebab terjadinya fluktuasi harga cabai dikarenakan ketersediaan yang terbatas di Lombok Tengah dan bukan termasuk daerah sentra produksi cabai. Pasokan pun didatangkan dari Lombok Timur dengan harga 180 ribu per kg.

Sementara produksi cabai turut mengalami depresiasi akibat faktor musim hujan, sehingga terpaksa ada libur petik. Terlebih tidak semua petani cabai yang memiliki fasilitas green house, sehingga berpengaruh pada tumbuh kembang tanaman cabai.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Andi Muhammad Idil Fitri menjelaskan kenaikan harga cabai di Lombok Tengah disebabkan oleh libur petik petani, yang berdampak pada pasokan di pasar.

Harga Stabil

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Jaya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, untuk memastikan harga bahan pokok tetap stabil di tengah meningkatnya permintaan selama Ramadan.

Dalam inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Jaya Lenteng Agung, Jakarta, Mentan menemukan harga sejumlah komoditas pangan relatif aman. Beberapa komoditas seperti cabai yang sebelumnya mengalami lonjakan harga kini mulai berangsur turun.

Mentan juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba mengambil keuntungan dengan menaikkan harga secara tidak wajar, terutama saat Ramadan. Menurutnya, stabilitas harga pangan sangat penting agar masyarakat dapat beribadah dengan tenang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Belajar merangkai kain batik di Semarang

56 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Rona
Nekat Bolos Wamil, Mino WIN...
Daerah
DPRD DKI: Digitalisasi Park...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.