• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Candi yang Penuh Prasasti ...

Candi yang Penuh Prasasti Angka Tahun

Sabtu, 22 Feb 2025, 06:15 WIB

Candi Panataran yang dulu bernama Candi Palah merupakan bangunan bersejarah di Kabupaten Blitar. Dengan luas mencapai 12.946 meter persegi kompleks candi yang membujur arah barat daya - tenggara memiliki beberapa bangunan.

1740152996_36b078e4bed259e2f00a.jpg

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Foto: Disbudpar Blitar

Kompleks Candi Penataran dikelilingi oleh pagar dinding. Saat masuk di gerbang atau pintu masuk yang mengarah ke barat daya akan disambut dengan dua oleh dua arca dwarapala yang menyimbolkan penjaga pintu bangunan suci.

Pada arca dwarapala terdapat angka tahun 1232 Saka yang jika menggunakan tarikh Masehi berangka tahun 1310 Masehi. Masyarakat setempat atau masyarakat Blitar menyebutnya dwarapala sebagai Reco Pentung yang artinya arca yang membawa pentungan.

1740152995_d0e8ad31924456657fab.jpg

Foto: Istimewa

Berdasarkan pahatan angka tahun yang ada pada kedua lapik arca tersebut, bangunan Candi Palah baru diresmikan menjadi Candi Negara pada masa pemerintahannya Jayanegara dari Majapahit. Sebelah timur kedua arca tersebut terdapat sisa-sisa pintu gerbang yang terbuat dari batu bata merah.

Setelah melewati dua acara tersebut mengunjung akan menaiki tujuh anak tangga menuju Bale Agung. Lokasi bangunan tersebut terletak di bagian barat laut halaman depan, posisinya sedikit menjorok ke depan.

Bangunan Bale Agung seluruhnya terbuat dari batu, dindingnya masih polos dan memiliki empat buah tangga. Bua buah terletak di sisi tenggara, sehingga bangunan ini terkesan menghadap tenggara. Sedangkan dua buah yang lain terletak di sisi timur laut dan barat daya terkesan sebagai tangga ke pintu samping.

Selanjutnya terdapat Pendopo Teras yang berada di sebelah tenggara bangunan Bale Agung. Pendopo Teras seluruhnya terdiri dari batu, berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 29,05meter x 9,22 meter x 1,5 meter.

Pendopo Teras dahulu kala digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji dalam upacara keagamaan atau tempat peristirahatan raja dan bangsawan lainnya. Pada sisi barat terdapat dua buah tangga naik yang berupa undak-undakan, tangga ini tidak berlanjut di dinding bagian timur.

Bangunan Pendopo Teras berangka tahun 1297 Saka atau 1375 Masehi yang semakin menandakan bangunan Candi Penataran dibuat secara bertahap atau tidak dalam periode yang sama. Letak pahatan tahun ini agak sulit mencarinya karena berbaur dengan hiasan yang berupa sulur daun-daunan, lokasinya berada di pelipit bagian atas dinding sisi timur.

Seperti pada Bale Agung, Pendopo Teras juga dililit teras ular yang ekornya saling berbelitan, kepalanya tersembul ke atas di antara pilar-pilar bangunan. Kepala ular sedikit mendongak ke atas, memakai kalung dan berjambul.

1740152996_1b015bb409d5737aec1a.jpg

Foto: Istimewa

Pada dinding Pendopo Teras terdapat relief-relief yang menceritakan berbagai kisah yang belum semua terinterpretasi dengan pasti, di antaranya adalah cerita Bubuksah dan Gagang Aking (dalam cerita rakyat juga dikenal sebagai kisah Bela-belu dan Dami Aking), Sang Satyawan, dan Sri Tanjung.

Bangun selanjutnya adalah Candi Candra Sengkala berangka tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi. Masyarakat Jawa Timur lebih mengenalnya dengan nama Candi Brawijaya yang merupakan bangunan yang paling dikenal dalam kompleks Candi Penataran dan juga digunakan sebagai lambang Kodam V Brawijaya.

Terkadang ada juga yang menyebutnya Candi Ganesha karena di dalam bilik candinya terdapat sesosok arca Ganesha. Lokasi candi berada di sebelah tenggara bangunan pendopo teras dalam jarak sekitar 20 meter.

Pintu masuk candi terletak di bagian barat, pipi tangganya berakhir pada bentuk ukel besar dengan hiasan tumpal yang berupa bunga-bungaan dalam susunan segitiga sama kaki. Bagian dalam relung candi terdapat sebuah arca Ganesha dari batu dalam posisi duduk di atas padmasana.

Pada bagian atas bilik candi pada batu penutup cungkup terdapat relief Surya Majapahit yang benyak ditemui di candi Jawa Timur, berupa yakni lingkaran yang dikelilingi oleh jurai pancaran sinar yang berupa garis-garis lurus dalam susunan beberapa segitiga sama kaki.

1740152996_69654901b59ab63c6d56.jpg

Foto: ANTARA/ Irfan Anshori

Memasuki halaman kedua, terdapat dua buah arca Dwarapala dalam ukuran yang lebih kecil dibanding yang berada di pintu masuk candi. Seperti pada arca Dwarapala di pintu masuk, Dwarapala ini pun pada lapik arcanya juga terpahat angka tahun, tertulis tahun 1214 Saka atau 1319 Masehi, setahun lebih tua dibanding Dwarapala di pintu masuk, juga berasal dari zaman Raja Jayanegara.

Selanjutnya adalah halaman tengah atau halaman kedua ini terbagi menjadi dua bagian oleh tembok bata yang membujur arah percandian di tengah halaman. Pada bagian dalam halaman tengah ini terdapat Candi Naga yang hanya tersisa bagian kaki dan badan dengan ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter.

Nama Candi Naga digunakan untuk menamakan bangunan ini karena sekeliling tubuh candi dililit naga dan disangga tokoh-tokoh berbusana raya seperti raja sebanyak sembilan buah, masing-masing berada di sudut-sudut bangunan, bagian tengah ketiga dinding dan di sebelah kiri dan kanan pintu masuk.

Para Batara ini menggambarkan sosok makhluk kahyangan, yaitu para dewa dilihat berdasarkan dari ciri busana raya dan perhiasan mewah yang dikenakannya. Di bangunan ini gambar naga di sangga 9 orang ini mengisyaratkan sebuah candrasengkala ”Naga muluk sinangga jalma” yang berarti angka tahun 1208 Saka atau 1286 M sebuah masa pemerintahan Kertanegara.  hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.