Sungguh Berat Derita Warga Ini, Lebih dari 500.000 Orang Mengungsi di Kongo Akibat Pemberontakan

Rabu, 29 Jan 2025, 01:30 WIB

Jenewa - Lebih dari 500.000 orang baru-baru ini mengungsi di wilayah timur dari Republik Demokratik Kongo (DRC) akibat gerakan pemberontakan bersenjata, kata juru bicara Badan Pengungsi PBB (UNHCR), Matthew Saltmarsh, pada Selasa (28/1).

Sebelumnya pada Senin (27/1), aliansi pemberontak yang termasuk anggota gerakan M23 mengeklaim telah merebut Goma, ibu kota Provinsi Kivu Utara, yang merupakan kota terbesar di wilayah timur DRC.

Ket. Foto: Ilustrasi - Warga Kongo berbondong-bondong mengungsi. — Sumber: ANTARA/Anadolu

"Krisis kemanusiaan di DRC semakin memburuk sejak pengarahan terakhir kami pada Jumat (24 Januari), dengan kini hampir setengah juta orang mengungsi di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan," ujar Saltmarsh dalam sebuah pengarahan.

Sementara itu, surat kabar The New Times di Rwanda melaporkan bahwa Rwanda telah mengevakuasi 2.000 orang dari DRC, sebagian besar adalah staf misi PBB yang bertugas di Goma.

Kelompok itu dilaporkan mencakup pimpinan Misi Stabilisasi Organisasi PBB di DRC (MONUSCO), serta staf asing yang melarikan diri akibat majunya pergerakan pemberontak hingga ke arah perbatasan.

Para pengungsi diterima di distrik perbatasan Ribavu, kemudian dipindahkan ke Kigali, ibu kota Rwanda, di mana mereka ditempatkan di Stadion Pele, menurut laporan tersebut.

Pihak PBB sedang mendiskusikan akomodasi bagi staf mereka di hotel, dan juga tengah mengatur penerbangan menuju ibu kota DRC, Kinshasa, tambah laporan itu.

Kelompok M23, yang memperjuangkan kepentingan etnis minoritas Tutsi di DRC, pertama kali memberontak melawan pemerintah pada 2012.

Namun, kelompok itu mengalami kekalahan besar pada 2013 dan dibubarkan.

Pada 2021, pemberontak kembali mengangkat senjata, menuduh pemerintah melanggar kesepakatan untuk mengintegrasikan mantan anggota M23 yang telah dilucuti ke dalam angkatan bersenjata.

DRC berulang kali menuduh Rwanda mendukung para pemberontak, sementara Rwanda membantah memiliki hubungan dengan gerakan tersebut.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

Tidak Hanya Jadi Ajang Olahraga, Purwokerto City Run 2026 Kenalkan Budaya Lokal

KemenPU Tangani 1.229 Titik Kekeringan: 41 Ribu Hektar Sawah & 616 Ribu Jiwa Terbantu

Kebakaran Rumah di Kebayoran Baru, Sebanyak 81 Personel Dikerahkan

Gempa M5,9 Mengguncang Jepang Bagian Timur termasuk Tokyo, Layanan Kereta Api Terganggu

269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar

Budi Doremi Rilis Lagu Baru "Cinta Sendiri", Ajak Pendengar untuk Move On

Jaga Tradisi 5 Abad Kota Banjarmasin, Pemkot Gelar Festival Karya Tari

Peringati HUT RI, Polda Metro Jaya Fasilitasi Perpanjangan SIM Gratis Ribuan Pengemudi Ojol

IQAir: Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Ini, Kelima Terburuk di Dunia

Kebakaran Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, Rumah Suku Sasak Hangus Terbakar

Tim Bola Voli Putri Indonesia Bungkam Kazakstan, Revans Terbayar

Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia

Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU

Karhutla di Jambi Terus Meningkat, Perusahaan Migas Petrochina Jabung Bantu Padamkan

Liga Inggris: Manchester United Tersungkur di Kandang Hull, Tottenham Dipermalukan Brentford

Serie A Italia: Inter dan Napoli Awali Musim 2026-27 dengan Kemenangan, De Bruyne Jadi Pembeda

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.