Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sah Perintah Tegas Ini, Kepala Daerah Terpilih Harus Prioritaskan Stunting

📅 Sabtu, 25 Jan 2025, 00:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sah Perintah Tegas Ini, Kepala Daerah Terpilih Harus Prioritaskan Stunting Doc: ANTARA/Zuhdiar Laeis
Ket. Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Budi Setiyono.

Semarang - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) meminta kepala daerah terpilih, baik gubernur maupun bupati/wali kota untuk memprioritaskan program penanganan stunting selama lima tahun ke depan.

"Kami mengimbau kepala gubernur terpilih, bupati/wali kota terpilih untuk menjadikan penanganan stunting sebagai prioritas," kata Sekretaris Kemendukbangga Prof Budi Setiyono, di Semarang, Jumat.

Termasuk pula para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk ikut mengawal program penanganan stunting.

Menurut dia, penanganan stunting harus menjadi prioritas Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sehingga angka stunting bisa ditekan secara masif.

"Kalau di RPJMD tidak tergambar (prioritas penanganan stunting) risiko penurunan prevalensi stunting tidak signifikan. Kami ingin kepala daerah terpilih memberikan perhatian sungguh-sungguh, kemudian teman-teman DPRD," katanya.

Ia mengatakan bahwa stunting dipengaruhi oleh faktor nutrisi dan non-nutrisi sehingga perlu penanganan secara komprehensif untuk mencegah stunting.

"Kalau nutrisi itu bagaimana kemudian mencukupi asupan gizi secara wajar dan sehat. Yang non-nutrisi ini, misalnya sanitasi, air bersih, perilaku, seperti merokok dan sebagainya," katanya.

Untuk non-nutrisi, kata dia, diperlukan edukasi, terutama terhadap perempuan mengenai batasan usia untuk hamil, sebab terlalu muda dan terlalu tua juga berisiko anaknya mengalami stunting.

Budi mengatakan bahwa Kemendukbangga memiliki data keluarga risiko stunting (KRS) yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk dilakukan intervensi, misalnya penyediaan jamban dan sanitasi yang layak.

"Kemendukbangga punya data penduduk risiko stunting, rumah berapa besar, foto jamban bagaimana. Nah, seberapa serius Pemda bisa memanfaatkan data ini, misalnya untuk program perumahan sehat dan perencanaan air bersih," katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Jawa Tengah Eka Sulistia Ediningsih menyebutkan angka prevalensi stunting di Jateng pada 2024 sebesar 20,7 persen.

Ia mengatakan bahwa prevalensi stunting pada 2024 itu mengalami penurunan 0,01 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni 2023 sebesar 20,8 persen.

"(Angka stunting, red.) Yang terendah di Kabupaten Demak sebesar 9,5 persen, atau turun dari 16,2 persen pada 2023. Yang tertinggi Wonosobo," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.