Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Optimalkan Modernisasi Sektor Perikanan

📅 Sabtu, 18 Jan 2025, 00:00 WIB | Oleh:
Optimalkan Modernisasi Sektor Perikanan Doc: antara
Ket. Pembangunan Ekonomi - Produktivitas Nelayan Indonesia Jauh di Bawah Sejumlah Negara Lain

JAKARTA - Penerapan perikanan modern berperan penting dalam meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir di daerah itu. Karenanya, penggunaan teknologi perlu dioptimalkan dalam pengembangan sektor perikanan, baik budi daya maupun tangkap.

“Perikanan modern menghadirkan teknologi canggih, armada penangkapan besar dengan alat tangkap yang efektif,” kata Guru Besar bidang Perikanan dan Kelautan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Maluku Prof Yoise Lopulalan di Ambon, Jumat (17/1).

Menurut dia,dengan beragam terobosan dan pembaruan yang dihadirkan, konsep perikanan modern ini dapat memungkinkan nelayan di wilayah kepulauan seperti Maluku untuk memiliki waktu operasi panjang di daerah penangkapan yang jauh, serta produksi dan produktivitas yang tinggi dengan orientasi pasar yang luas.

Pasalnya, banyak wilayah pesisir yang masyarakatnya menggunakan sistem tradisional dalam melakukan penangkapan ikan di lautan. Alhasil, saat tangkapan dibawa ke daratan, kualitas ikan atau tangkapan tersebut sudah tak segar lagi.

Berkaitan dengan hal itu, kata Lopulalan, posisi sosial nelayan sangat menarik untuk dicermati karena di kebanyakan masyarakat, nelayan memiliki status yang sangat rendah sehingga sulit mengakses teknologi perikanan modern.

“Sebagai contoh, di India, kebanyakan nelayan berasal dari kasta rendah. Di Jepang, saat ini nelayan juga mengalami degradasi status, sehingga Jepang menghadapi masalah regenerasi nelayan karena sedikitnya kalangan muda yang bersedia menjadi nelayan, meskipun dijanjikan berbagai fasilitas subsidi dari pemerintah,” jelasnya.

Dia melanjutkan rendahnya posisi nelayan juga diakibatkan oleh keterasingan mereka. Keterasingan ini menyebabkan masyarakat bukan nelayan tidak mengetahui lebih jauh tentang dunia nelayan.

Keterasingan tersebut terjadi karena sedikitnya waktu dan kesempatan nelayan untuk berinteraksi dengan masyarakat lainnya. “Hal ini disebabkan oleh banyaknya alokasi waktu nelayan untuk kegiatan penangkapan ikan dibandingkan untuk bersosialisasi dengan masyarakat non nelayan yang secara geografis relatif jauh dari pantai,” tuturnya.

Dia menambahkan jika melihat kondisi nelayan di Indonesia sendiri saat ini berada pada fase sangat memprihatinkan. Mereka masih terjerat oleh kemiskinan, baik kemiskinan kultural maupun struktural. Mereka juga terbelenggu oleh kemiskinan ekonomi, informasi, permodalan, pendidikan, kesehatan, bahkan politik.

Untuk mengetahui tingkat pendapatan nelayan, bisa dilakukan dengan melihat proporsi produksi ikan dengan jumlah nelayan per hari. Indonesia memiliki potensi lestari sebesar 6,26 juta ton per tahun, namun produksi nelayan Indonesia per harinya hanya mencapai 5,5 kilogram, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara lain seperti Rusia (140 kilogram/nelayan/hari), Jepang (70 kilogram/nelayan/hari), dan Amerika (100 kilogram/nelayan/hari).

Perkuat Pembiayaan

Pada kesempatan lain,Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkomitmen memperkuat pembiayaan untuk sektor UMKM pertanian dan perikanan guna mendukung ketahanan pangan nasional.

"Tentu peran UMKM di sektor pertanian dan perikanan sangat penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional," kata Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza dalam Rapat Koordinasi Bidang Pangan yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (17/1).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

48 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

51 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.