Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Badiul Fitra: Kombinasi Krisis Membuat Ekonomi Melambat

📅 Jumat, 13 Des 2024, 08:45 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Badiul Fitra: Kombinasi Krisis Membuat Ekonomi Melambat Doc: istimewa
Ket. Pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi mengatakan, tekanan ekonomi saat ini tak lepas dari kombinasi krisis karena pandemi, geopolitik global yang tak berkesudahan dan fragmentasi perdagangan global, ditambah buruknya penanganan masalah domestik

JAKARTA-Bayang bayang terjadinya perlambatan ekonomi tahun depan kian nyata. Pengamat kebijakan publik Fitra (Forum Indonesia untuk Transparan), Badiul Hadi mengatakan, kondisi ekonomi saat ini memang tidak lepas dari kombinasi krisis karena pandemi, geopolitik global yang tidak berkesudahan dan fragmentasi perdagangan global. 

"Hal ini berdampak pada ketidakpastian dan hambatan pada rantai pasok lintas negaranya,"ucap Badiul, Jumat (13/12) mengomentari pernyataan terbaru petinggi IMF.

Tingginya inflasi beberapa tahun terakhir ujar Badiul tidak lepas dari kegagalan kebijakan moneter dalam menyeimbangkan inflasi dan pertumbuhan. Di sisi lain, subsidi besar besaran dan dan stimulus ekonomi menyebabkan pembengkakan utang pemerintah di banyak negara. 

Bagi negara negara berkembang, dampaknya saat ini adalah jatuh tempo pembayaran utang. "Situasi ini diperparah oleh rendahnya produktivitas global, dan rendahnya investasinya di pendidikan dan ketenagakerjaan,"papar Badiul.

Solusi yang bisa ditawarkan adalah memperkuat kerja sama negara negara diglobal mengurangi fragmentasi perdagangan, misalnya mereformasi

 World Trade Organization (WTO/organisasi dagang dunia) agar lebih relevan dengan kondisi sekarang. "Perlunya membangun dialog untuk mengakhiri konflik geopolitik untuk menciptakan stabilitas ekonomi global,"ungkap Badiul.

Kemudian, perlu mereformasi kebijakan fiskal dan moneter, kebijakan perpajakan yang progresif untuk mengurangi ketergantungan pada utang.

Hal lainnya pemerintah harus fokus pada ekonomi berkelanjutan, transisi energi bersih untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menawarkan insentif bagi investasi dalam sektor hijau.

Diketahui, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional atau IMF Kristalina Georgieva memberikan peringatan, kondisi ekonomi global akan mengalami pertumbuhan yang rendah pada tahun depan. Pemicunya ialah beban ekonomi yang ditanggung negara-negara didunia saat menangani masa krisis Pandemi Covid-19, hingga konflik atau peperangan di berbagai belahan dunia yang tak kunjung berakhir.

Kondisi tersebut mengakibatkan tekanan inflasi beberapa tahun terakhir tinggi, fragmentasi perdagangan global, hingga besarnya risiko resesi. "Masalah utama yang dihadapi ekonomi global pada 2025 adalah pertumbuhan yang rendah," ucap Kristalina dikutip dari akun instagramnya, Rabu (11/12)

Ia mengakui, berbagai negara dunia sudah menghabiskan beberapa tahun terakhir untuk menangani masalah tersebut, dan terbukti berhasil membuat ekonomi global menunjukkan ketahanan yang tinggi saat ini. Namun, efek dari penanganan berbagai masalah itu, ia tekankan beban utang global saat ini terus meningkat saat melambatnya pertumbuhan ekonomi. Diperburuk dengan tren semakin rendahnya produktivitas dunia.

IMF juga memperkirakan pertumbuhan global menjadi 3,2 persen pada 2025, lebih rendah sepersepuluh poin dari perkiraan pada bulan Juli. Sementara pertumbuhan jangka menengah diperkirakan akan merosot menjadi 3,1 persen dalam lima tahun ke depan, jauh di bawah tren sebelum pandemi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Kemenkes Perluas Cek Kesehatan Gratis

19 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenkes Perluas Cek Keseha...

Aldila Tak Mampu Menerobos Semifinal WTA Ningbo

38 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Aldila Tak Mampu Menerobos ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.