Suriah Punya Kesempatan Ciptakan Perdamaian

Selasa, 10 Des 2024, 02:59 WIB

ISTANBUL - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, pada Minggu (8/12), mengatakan bahwa Suriah kini menghadapi peluang bersejarah untuk mengejar masa depan yang damai dan stabil.

“Setelah 14 tahun perang brutal dan jatuhnya rezim diktator, hari ini rakyat Suriah dapat memanfaatkan kesempatan bersejarah untuk membangun masa depan yang stabil dan damai,” kata Guterres. “Masa depan Suriah adalah hak rakyat Suriah untuk menentukan, dan utusan Khusus saya akan bekerja sama dengan mereka untuk mewujudkannya,” imbuh dia serayamenekankan pentingnya upaya besar untuk memastikan transisi politik yang tertib menuju pembaruan institusi.

Ket. Foto: Warga Suriah berkumpul di Alun-alun Umayyad, Damaskus, saat merayakan kebebasan setelah tergulingnya Presiden Bashar al-Assad pada Senin (9/12). — Sumber: AFP/LOUAI BESHARA

“Pada masa sensitif ini, penting untuk menjaga ketenangan, menghindari kekerasan, dan melindungi hak-hak seluruh rakyat Suriah tanpa diskriminasi,” ucap Guterres.

Dia pun menegaskan bahwa keberadaan tempat dan personel diplomatik serta konsuler harus dihormati dalam segala situasi sesuai dengan hukum internasional. Ke depan, ia menyoroti perlunya dukungan internasional untuk memastikan bahwa transisi politik Suriah bersifat inklusif, menyeluruh, dan selaras dengan aspirasi sah rakyatnya.

“Kedaulatan, kesatuan, kemerdekaan, dan integritas teritorial Suriah harus dipulihkan,” ujar Sekjen PBB.

PBB juga tetap berkomitmen untuk menghormati kenangan mereka yang telah menderita selama konflik berlangsung. Guterres menegaskan dedikasi organisasi tersebut untuk membantu rakyat Suriah membangun negara yang menjunjung keadilan, kebebasan, rekonsiliasi, dan kesejahteraan bagi semua.

“Inilah jalur menuju perdamaian yang berkelanjutan di Suriah,” tutur dia.

Setelah periode relatif tenang, bentrokan antara pasukan rezim Assad dan kelompok anti-rezim kembali pecah pada 27 November di daerah pedesaan barat Aleppo, kota besar di utara Suriah. Selama lebih dari 10 hari, pasukan oposisi melancarkan serangan kilat, merebut kota-kota penting, dan pada Minggu berhasil menguasai Ibu Kota Damaskus. Kemajuan cepat tersebut, didukung oleh unit militer yang membelot, menyebabkan runtuhnya rezim Assad setelah 13 tahun perang saudara.

1733759011_0f06ced0b6425789bf08.jpg

Stabilitas regional

Sementara itu Liga Arab pada Minggu menyerukan kepada pihak-pihak yang peduli dengan stabilitas regional dan internasional untuk mendukung rakyat Suriah dalam masa transisi kekuasaan yang akan datang, termasuk dengan mencabut sanksi.

“Sekretaris Jenderal menyerukan kepada semua kekuatan yang ingin mewujudkan stabilitas regional dan internasional untuk mendukung rakyat Suriah selama masa transisi yang sulit ini, termasuk dengan mencabut sanksi apa pun,” demikian pernyataan organisasi tersebut.

Liga Arab menyebut bahwa Suriah tengah mengalami salah satu periode paling penting dan berbahaya dalam sejarah modern negara tersebut. Situasi ini, menurut mereka, menuntut semua warga Suriah untuk menegakkan konsep toleransi dan dialog, mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya, bertindak secara bertanggung jawab, serta bekerja menuju transisi kekuasaan yang damai dan menyeluruh.

Organisasi itu pun menegaskan bahwa negara-negara Arab sepakat pentingnya menjaga kedaulatan dan integritas wilayah Suriah, sambil menolak segala bentuk intervensi ­asing. SB/Ant/Sputnik-OANA/Anadolu/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.