Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menhut Sebut Perhutanan Sosial Solusi Ciptakan Ketahanan Pangan

📅 Selasa, 26 Nov 2024, 19:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menhut Sebut Perhutanan Sosial Solusi Ciptakan Ketahanan Pangan Doc: ANTARA/Kemenhut
Ket. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni

JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni menyatakan kesiapannya untuk mendukung visi besar Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan Indonesia harus memiliki ketahanan pangan nasional dan program makan siang bergizi melalui program perhutanan sosial.

Menurut dia, saat ini terdapat 8 hektare perhutanan sosial yang sudah produktif dan sudah diredistribusi kepada masyarakat. Meski begitu, masih terdapat beberapa hektare yang masih belum dimanfaatkan dengan baik.

“Kami di Kementerian Kehutanan secara serius mendukung visi besar Pak Presiden Prabowo Subianto untuk swasembada pangan dan makan bergizi gratis ini. Nah kebetulan seperti yang dikatakan oleh Profesor tadi, kami memiliki program perhutanan sosial. Ada 8 juta hektare yang sudah diredistribusi kepada masyarakat, dan sisa 7 juta lagi lahan yang bisa dimanfaatkan,” kata Raja Juli Antoni di Jakarta, Selasa (26/11).

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya untuk mendukung distribusi pangan bergizi kepada kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak, tetapi juga untuk memberdayakan masyarakat di berbagai daerah, khususnya petani dan komunitas lokal.

“Dari 8 juta hektare ini, perlu diintensifikasi bagaimana kawasan tersebut dapat terhubung dengan kawasan kerja Badan Gizi Nasional. Dengan demikian, program ini bisa sukses dalam pengiriman kepada ibu hamil dan anak-anak, sekaligus menghidupkan ekonomi petani di daerah-daerah terpencil,” jelas dia.

Sehingga, kolaborasi antara Kemenhut dan juga Badan Gizi Nasional (BGN) ini menjadi kunci sukses terciptanya cita-cita pemerintah di bawah kabinet Merah Putih. Nantinya, lahan-lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai kebutuhan pangan dengan BGN sebagai off taker-nya.

Dengan begitu, cita-cita Indonesia memiliki kedaulatan pangan dan juga swasembada pangan dapat terwujud dengan baik melalui kolaborasi antara kementerian dan juga Badan. Sehingga, Indonesia Emas pada 2045, dapat tercipta bukan hanya sekedar angan-angan belaka. Ant/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Mobil Tabrak Kerumunan Oran...
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.