Impor Sapi Lemahkan Daya Saing Lokal
Senin, 18 Nov 2024, 00:00 WIBKebijakan impor sapi perah sangat ironis karena dilakukan di tengah situasi di mana produksi susu lokal tidak terserap maksimal.
JAKARTA - Rencana impor dua juta sapi perah oleh 60 perusahaan untuk memenuhi kebutuhan susu nasional dinilai melemahkan daya saing peternak lokal. Padahal, semestinya peternak lokal perlu diberikan kesempatan untuk memanfaatkan pasar domestik.
Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron, menyayangkan kebijakan tersebut, terutama di tengah situasi di mana produksi susu lokal tidak terserap maksimal. Menurutnya, langkah ini mencerminkan lemahnya pengelolaan sektor pangan, yang seharusnya menjadi kekuatan utama Indonesia sebagai negara agraris.
"Sebagai negara agraris, kita punya potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri, bahkan untuk ekspor. Tapi, lihat apa yang terjadi? Produksi susu petani lokal di Boyolali terbuang percuma, sementara kita malah mengimpor sapi," ungkap Herman, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Dirinya menilai persoalan utama bukan pada kapasitas produksi, melainkan pada pengelolaan distribusi yang tidak efektif dan efisien. Dia mendesak pemerintah segera mengonsolidasikan lintas sektor, termasuk kementerian, agar memastikan hasil produksi memiliki pasar yang jelas.
âPetani kita mampu menghasilkan produk dalam jumlah besar, tetapi distribusinya belum didukung sistem yang memadai. Ini bukan hanya berdampak pada peternak susu, tetapi juga pada petani wortel, bawang merah, dan cabai yang sering kali mengalami krisis harga. Pola seperti ini harus segera diakhiri,â jelasnya.
Herman juga menekankan pentingnya pembangunan sistem distribusi berbasis klaster agraris yang menghubungkan produksi langsung dengan pasar. âJika pemerintah mampu menciptakan klaster agraris yang terkelola dengan baik, maka produksi, distribusi, dan pemasaran dapat terintegrasi. Ini adalah solusi jangka panjang,â tambahnya.
Menurutnya, rencana impor sapi perah justru berpotensi melemahkan daya saing petani lokal. Dalam kondisi peternak susu lokal yang sudah menghadapi tantangan besar, kebijakan ini dapat semakin membebani mereka.
"Kita seharusnya fokus memperkuat produksi lokal. Kalau tidak, petani kita akan semakin kehilangan harapan," tegas Herman.
Dia juga mengaitkan isu ini dengan program nasional, seperti Makan Bergizi Gratis, yang dirancang untuk meningkatkan gizi masyarakat sekaligus memberdayakan ekonomi daerah. Menurut Herman, program ini dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan penyerapan produksi lokal.
"Para pembantu Presiden harus segera merumuskan kebijakan konkret dan berkelanjutan. Keterlambatan menangani persoalan ini tidak hanya merugikan petani, tetapi juga mengancam ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Proses Izin
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sebelumnya menyampaikan 60 perusahaan dari dalam dan luar negeri akan berinvestasi di industri sapi perah. Perusahaan-perusahaan ini akan mengimpor sapi perah hidup dengan total sekitar dua juta ekor.
Sudaryono menjelaskan langkah ini dilakukan untuk mengimbangi pertumbuhan kebutuhan susu akibat meningkatnya jumlah penduduk. Saat ini, impor sapi masih dalam proses perizinan, dan pemerintah sedang mencocokkannya dengan kelompok peternak yang ada.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Mudik Lebaran 2026: Terpadu, Aman, dan Efisien Berkat Koordinasi Semua Pihak
-
Program Makan Bergizi Gratis di Papua Barat Daya Belum Merata, Dua Daerah Masih Tertunda
-
Catat Tanggalnya! Jadwal 7 Kereta di Daop 5 Bergeser
-
MBG Ciptakan 600 Ribu Lapangan Kerja dan Dongkrak Ekonomi Lokal
-
Tradisi Tumpengan Diusulkan Jadi Kekayaan Intelektual Gastronomi Nasional
-
Indonesia Masters 2026: Sebanyak 16 Wakil Indonesia dari Lima Sektor ke Babak Kedua
-
SGC Dorong Petani Lampung Bangkit dengan Skema Kemitraan Tebu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.