Malaysia Protes Reklamasi Vietnam di LTS

Selasa, 05 Nov 2024, 02:59 WIB

KUALA LUMPUR - Malaysia telah mengirimkan surat keluhan ke Vietnam atas dugaan perluasan kawasan terumbu karang di Laut Tiongkok Selatan (LTS) yang diklaim kedua negara sebagai milik mereka, kata dua pejabat pada Senin (4/11).

Keluhan ini menyoroti satu lagi dari banyak pertikaian di jalur perairan strategis tersebut, yang sebagian besarnya diklaim kedaulatannya oleh Tiongkok, dengan Beijing terlibat dalam pertikaian yang sering terjadi dengan Filipina dan pertikaian sporadis dengan Vietnam.

Ket. Foto: Nelayan Vietnam l ­Sejumlah nelayan Vietnam berada di kapal mereka usai menangkap ikan di LTS pada Agustus 2022 lalu. Pada Senin (4/11), sebuah lembaga pemikir Tiongkok mengkonfirmasi bahwa ada sejumlah nelayan Vietnam ditahan oleh Tiongkok karena telah m — Sumber: AFP/Nhac NGUYEN

Fitur yang paling diperebutkan berada di sekitar Kepulauan Spratly, di mana Tiongkok, Taiwan, Malaysia, Vietnam, Brunei, dan Filipina, semuanya memiliki berbagai klaim.

“Surat keluhan dari Malaysia telah dikirimkan ke Kementerian Luar Negeri Vietnam pada awal Oktober, tetapi sejauh ini belum mendapat balasan,” kata kedua pejabat tersebut, yang menolak disebutkan identitasnya secara lebih rinci karena masalah tersebut sensitif.

Keluhan tersebut diajukan terkait dugaan perluasan buatan oleh Vietnam di Barque Canada Reef, sebuah pulau kecil di Kepulauan Spratly tempat Vietnam telah membangun sejumlah infrastruktur, menurut citra satelit yang dianalisis oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional, sebuah lembaga pemikir yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat (AS), yang dirilis bulan lalu.

Pada akhir Oktober lalu, kantor berita Radio Free Asia melaporkan bahwa Vietnam juga membangun landasan udara di terumbu karang tersebut.

Kepulauan Spratly yang kecil telah mengalami pembangunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir karena negara-negara berupaya untuk memperkuat klaim teritorial mereka dan membuktikan bahwa mereka dapat mempertahankan tempat tinggal manusia di puluhan pulau kecil dan fitur lainnya.

Aktivitas Tiongkok telah menarik perhatian paling besar, dengan tujuh pulau yang dibangun di atas terumbu karang yang terendam, beberapa dilengkapi dengan landasan pacu, dermaga, menara kontrol, dan baterai misil.

Meskipun keluhan antara Malaysia dan Vietnam mengenai wilayah jarang terjadi, Malaysia telah mempermasalahkan secara berkala apa yang disebutnya sebagai pelanggaran batas oleh nelayan Vietnam ke zona ekonomi eksklusifnya, yang menyebabkan penangkapan beberapa awak kapal.

Penahanan Nelayan

Sementara itu sebuah lembaga pemikir Tiongkok melaporkan bahwa sejumlah nelayan Vietnam telah berada dalam tahanan Tiongkok di Kepulauan Paracel selama lebih dari enam bulan. Laporan itu muncul beberapa hari setelah Vietnam menuntut agar Tiongkok membebaskan semua nelayan dan kapal yang ditahan serta menghentikan pelecehan terhadap mereka.

Inisiatif Penyelidikan Laut Tiongkok Selatan (SCSPI), sebuah lembaga pemikir yang disetujui oleh pemerintah yang berbasis di Beijing, mengatakan di platform media sosial X bahwa para nelayan Vietnam itu ditahan pada bulan April dan Mei karena melakukan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal di perairan sekitar Kepulauan Paracel.

Vietnam, Tiongkok dan Taiwan semuanya mengklaim kedaulatan atas Kepulauan Paracel, tetapi Beijing telah mengendalikan seluruh wilayah tersebut sejak 1974, setelah mengalahkan pasukan pemerintah Vietnam selatan saat itu.

Pekan lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam mengatakan bahwa Hanoi dengan tegas memprotes dan menuntut Tiongkokuntuk segera membebaskan semua nelayan.

Vietnam mengatakan bahwa Kepulauan Paracel telah menjadi tempat penangkapan ikan tradisional selama beberapa generasi nelayannya, namun Tiongkok telah menghentikan dan mengusir kapal-kapal Vietnam dari perairan di sekitar kepulauan tersebut, dan terkadang menahan ­mereka.

Bulan lalu, Vietnam mengatakan bahwa personil penegak hukum Tiongkok menaiki sebuah kapal nelayan dari Provinsi Quang Ngai dan memukuli para kru dengan jeruji besi, melukai empat orang di antaranya secara serius, sehingga mendorong pemerintah Vietnam untuk melayangkan protes.  RFA/ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Mau Tahu Rahasia Kecantikan Kulit dan Rambut Korea, Saksikan di BXc 2 pada 27 Agustus Mendatang

Aplikasi GoPay Hadirkan Fitur DBL Indonesia, Meriahkan Kompetisi Basket Pelajar se-Indonesia

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Resmikan Jaksinema Pasar Rumput, Wagub Rano Minta Bioskop Mini Rp15 Ribu di Tiap Rusun

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.