Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pertanian Ubi Jalar Pandeglang Jadi Andalan Ekonomi Petani

📅 Minggu, 29 Sep 2024, 16:00 WIB | Oleh:
Pertanian Ubi Jalar Pandeglang Jadi Andalan Ekonomi Petani Doc: ANTARA/Mansyur
Ket. Pedagang pengecer ubi jalar di Pasar Rangkasbitung yang dipasok dari Pandeglang dan banyak permintaan konsumen.

Pandeglang --Ubi jalar Pandeglang menjadi andalan ekonomi petani karena mampu memasok ke sejumlah daerah di Provinsi Banten, Kota Bogor dan Jakarta.

"Kita produksi ubi jalar rata-rata 5.000 ton dari luas panen 250 hektare per bulan," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang Nuridawati di Pandeglang, Minggu.

Pertanian ubi jalar di Pandeglang kebanyakan dikembangkan oleh petani di lahan - lahan areal persawahan.

Sentra produksi pertanian ubi jalar itu tersebar di Kecamatan Menes, Mandalawangi, Jiput, Saketi dan Cikedal.

Selama ini, petani yang mengembangkan pertanian ubi jalar cukup sejahtera, terlebih harga di tingkat penampung atau tengkulak Rp4 ribu per kilogram.

"Jika poduksi ubi jalar 10 ton per hektare dengan harga Rp4 ribu per kilogram maka bisa menghasilkan pendapatan Rp40 juta per hektare," kata Nuridawati.

Menurut dia, produksi ubi jalar dipasok ke sejumlah daerah di Provinsi Banten, Kota Bogor dan Jakarta untuk dijadikan bahan baku makanan camilan oleh pelaku usaha, seperti keripik ubi, bolu ubi, onde-onde ubi, donat ubi, pedagang gorengan dan lainnya.

Selain itu juga banyak konsumen membeli ubi jalar untuk makanan alternatif sebagai pengganti beras dengan cara direbus dan cocok bagi pasien diabetes melitus.

Keunggulan ubi jalar Pandeglang itu, selain ubinya besar juga manis, pulen dan bisa bertahan lama tidak membusuk.

"Kami mengapresiasi produksi ubi jalar dipasok ke luar daerah mencapai puluhan ton per hari menggunakan angkutan Colt," katanya.

Ade Supriyadi (60) seorang petani warga Desa Cilaban Bulan Menes Kabupaten Pandeglang mengaku dirinya sejak 30 tahun mengembangkan pertanian ubi jalar bisa menghasilkan pendapatan ekonomi juga menyerap tenaga kerja 4 orang.

"Kami sekarang harga ubi jalar cukup baik Rp4 ribu per kilogram dan bisa menjual 20 ton per musim dari luas tanam dua hektare sehingga bisa menghasilkan Rp80 juta," kata Ade.

Sementara itu, Emen (60) seorang penampung ubi jalar Pandeglang mengaku dirinya setiap dua hari sekali memasok ubi jalar ke pelanggandi Pasar Rangkasbitung, Serang dan Tangerang.

"Kami sekali memasok hingga mencapai 10 ton dan dijual ke pelangganRp 5 ribu per kilogram dan bisa mendapatkan omzet Rp5 juta," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Daerah
Kualitas Udara Pontianak Ca...
Nasional
Perkuat Peran Posyandu untu...

AS Undang Putin Hadiri KTT G20 di Klub Golf Trump

39 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
AS Undang Putin Hadiri KTT ...
Olahraga
Thailand Berambisi Besar Ju...
Advertisement
Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.