Sumber Daya Desa Terus Berkurang, Swasembada Pangan Makin Sulit

Sabtu, 21 Sep 2024, 00:03 WIB

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan harga beras yang tinggi di dalam negeri dipengaruhi oleh biaya produksi yang juga besar. Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas, Rachmi Widiriani, menyampaikan petani berhak mendapat keuntungan lantaran biaya yang dikeluarkan untuk menanam beras tidak sedikit. Namun, hal itu berdampak pada harga yang tinggi di pasaran. "Kalau kita runut dari cost factor produksi beras di dalam negeri memang tinggi.

Jadi, petani juga berhak mendapatkan keuntungan," kata Rachmi, di Bali, Jumat (20/9). Saat ini, petani mendapat cukup keuntungan karena harga gabah yang dibeli di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Menanggapi hal itu, Guru Besar Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto, mengatakan jika penghasilan petani tidak diperbaiki, dikhawatirkan akan memicu urbanisasi yang berujung pada penurunan swasembada pangan.

Ket. Foto: Suarakan Hak Petani untuk Kesejahteraan I Petani membentangkan poster bertuliskan Petani Soko Guru (tiang utama atau tonggak) Bangsa saat mengikuti aksi menyambut Hari Tani Nasional di Alunalun Pati, Jawa Tengah, Jumat (20/9). Aksi yang diikuti ratusan petani dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) itu dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional sekaligus menyuarakan hak-hak petani seperti hak untuk mendapatkan kesejahteraan, penghidupan yang layak serta hak untuk mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum. — Sumber: ANTARA/Yusuf Nugroho

"Penduduk desa sekarang sudah banyak yang enggan bertani, banyak yang enggan tinggal di desa dan lahan pertanian semakin hilang, berganti menjadi perumahan serta lahan bisnis. Jika nasib petani tidak diperbaiki, akan mendorong masyarakat desa untuk hijrah ke kota. Sebab, secara naluriah mereka tentu punya harapan yang lebih dari apa yang selama ini mereka dapatkan di desa," kata Bagong. Imbasnya ke swasembada pangan yang terus menurun dan dampaknya sudah dirasakan masyarakat dengan semakin mahalnya harga beras. Makin sulitnya swasembada pangan itu karena sumber daya di perdesaan terus berkurang.

Terpisah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, mengatakan harga beras di tingkat konsumen memang dipengaruhi banyak faktor. Harga input, biaya transportasi dan distribusi, stok menjadi beberapa di antaranya. Harga input dari waktu ke waktu mengalami kenaikan terutama pupuk dan pestisida, juga tenaga kerja yang makin mahal dan langka. "Sayangnya, biaya input yang besar tidak diimbangi perubahan atau kenaikan harga jual. Jika dibandingkan keduanya menghasilkan tingkat pendapatan petani yang cenderung stagnan," kata Said.

Petani Selalu Kalah

Meski demikian, harga input bukan satu-satunya faktor, jumlah produksi dan stok beras di pasaran merupakan faktor yang sangat besar berpengaruh pada kenaikan harga beras. Biaya input hanya berpengaruh lebih banyak pada tingkat pendapatan petani.

"Kenapa demikian, karena petani menjual gabah, bukan beras, dan selama ini petani tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Artinya, petani tidak pernah punya posisi yang kuat untuk mempertahankan harga yang menguntungkan.

Mereka kecenderungannya selalu kalah dengan tengkulak atau penggilingan," terang Said. Faktor lain yang berhubungan adalah biaya produksi gabah ke beras dan biaya transportasi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pungutanpungutan juga menjadi pengaruh pada kenaikan harga.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.