Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Mengangkat Nilai Ekonomi Negara 'Global South'

📅 Jumat, 06 Sep 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mengangkat Nilai Ekonomi Negara 'Global South' Doc: ANTARA FOTO/MEDIA CENTER IAF II-HLF MSP/NYOMAN HEN
Ket. Wakil Menlu, Pahala Nugraha Mansury saat pembukaan sesi Tematik SSTC High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP) 2024 di Nusa Dua, Bali, Selasa (3/9).

BALI - Sejak beberapa dekade terakhir, dunia seakan terbagi dengan dikotomi ekonomi utara (north) dan selatan (south) yang turut memunculkan dinamika geopolitik dan berimplikasi terhadap ekonomi dunia. Kedua istilah tersebut secara internasional pertama kali dikenalkan oleh aktivis politik asal Amerika Serikat, Carl Oglesby, pada 1969.

Istilah tersebut bisa juga merujuk nama lain, yakni Dunia Ketiga yang sebagian besar belum maju ekonominya karena berpenghasilan rendah atau negara yang masih berkembang, di luar wilayah Eropa dan Amerika Utara. Meski kenyataannya tidak semua negara di belahan bumi bagian selatan tergolong berpenghasilan rendah, misalnya Australia dan Selandia Baru.

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Pahala Mansury, menyebut negara-negara mengalami fragmentasi ekonomi, di antaranya lebih mengedepankan kepentingan sesuai kelompoknya. Saat ini, eskalasi fragmentasi ekonomi berdampak terhadap tren penurunan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) secara global pada 2023 mencapai tujuh persen. Begitu juga tren perdagangan global yang merosot pada tingkat yang hampir sama.

Dalam jangka panjang, fragmentasi ekonomi diperkirakan memicu variasi biaya dari hasil ekonomi global dengan estimasi sekitar empat persen. Akibat dari tren itu, negara berkembanglah yang menanggung sebagian besar biaya dari fragmentasi ekonomi.

Menjawab tantangan global itu, pemerintah Indonesia menghadirkan Forum Indonesia-Afrika (IAF) ke-2 dan Forum Tingkat Tinggi Kemitraan Multi-Pihak (HLF MSP) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, 1-3 September 2024. Agenda tersebut mengedepankan kerja sama saling menguntungkan negara-negara berkembang yang mayoritas berada di "Global South", termasuk di antaranya Afrika dan Indonesia.

Sesuai "Semangat Bandung" yang menjadi landasan sejak Konferensi Asia Afrika 1955, forum itu menjadi wadah merancang masa depan lebih berkelanjutan dan inklusif. Forum tersebut menghasilkan kesepakatan bisnis mencapai 3,5 miliar dollar AS atau naik enam kali lipat dari pelaksanaan forum pertama pada 2018 yang mencapai 586,6 juta dollar AS.

Sumber Daya

Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebutkan Afrika kaya akan sumber daya alam (SDA) yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. Benua terbesar kedua itu menyimpan sekitar 30 persen cadangan mineral dunia, 8 persen gas alam dunia, dan 12 persen cadangan minyak dunia. Tidak hanya itu, Afrika juga memiliki 40 persen emas dunia, hingga 90 persen kromium dan platina hingga cadangan kobalt, berlian, platina, dan uranium terbesar di dunia.

Tidak hanya dari sisi SDA, menurut Forum Ekonomi Dunia (WEF), Afrika pada 2022 memiliki sekitar 1,3 miliar penduduk dengan proyeksi sekitar 60 persen di antaranya berusia di bawah 25 tahun. Pada 2030, penduduk muda Afrika diproyeksi menjadi 42 persen dari pemuda secara global.

Kondisi SDA dan SDM Afrika tersebut memiliki kemiripan dengan Indonesia, termasuk sumber daya alam dan bonus demografi, yakni diperkirakan 70 persen penduduknya berusia produktif 15-64 tahun pada 2045. Keduanya juga memiliki visi yang sama, yakni Agenda Afrika 2063 dan Visi Indonesia Emas 2045.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
Advertisement
jjroyal-luwak
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Rumor Kim Jong-un Meninggal karena Perdarahan Otak di Beijing Memanas, Muncul Foto Hadir di Pameran - Adiknya Diklaim Rebut Kekuasaan dan 9.000 Tentara Tiongkok Dikirim ke Korut

Rumor Kim Jong-un Meninggal karena Perdarahan Otak di Beijing Memanas, Muncul Foto Hadir di Pameran - Adiknya Diklaim Rebut Kekuasaan dan 9.000 Tentara Tiongkok Dikirim ke Korut

20 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.