Penerapan SDGs Masih Setengah Hati

Rabu, 04 Sep 2024, 10:56 WIB

JAKARTA - Indonesia beserta negara lain di dunia belum secara serius mengejar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Suistainable Development Goals (SDGs). Bahkan, mereka terkesan hanya serius di atas kertas saja, namun minim di tingkat implementasi.

Peneliti Lingkungan Hidup dari Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, mengatakan dari data United Nations (UN) SDGs, hanya 48 persen target berada dalam jalurnya alias on the track. "Sisanya masih lemah, bahkan 15 persen justru regresif atau memburuk," ucap Hafidz kepada Koran Jakarta, Selasa (3/9).

Ket. Foto: PROYEK “FOREST CITY” | Sejumlah warga berjalan santai di Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI), Perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (28/7). TH2TI yang memiliki koleksi 50 ribu pohon dengan luas lahan tanam mencapai 90 hektare tersebut merupakan upaya pemerintah setempat untuk mempertahankan kebaradaan tanaman hutan endemik dan menjadi percontohan pembangunan hutan kota berkelanjutan (forest city) di Ibu Kota Nusantara (IKN). — Sumber: ANTARA/BAYU PRATAMA S

Menurut Hafidz, dalam waktu enam tahun tersisa apabila tidak ada komitmen serius dari para pihak di tingkat global ataupun nasional, Indonesia akan mengalami kegagalan sebagaimana Millenium Development Goals (MDGs).

Padahal, berbagai upaya serius sudah dilakukan untuk mengimplementasikan SDGs di tingkat pemerintah hingga level terbawah serta melibatkan bisnis. "Tetapi, belum ada orkestrasi untuk mampu mengoptimalkan sumber daya yang ada agar mencapai hasil maksimal," urainya.

Indonesia menekankan pentingnya perubahan transformatif guna mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Suistainable Development Goals (SDGs).

Hal itu disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, dalam sambutannya pada High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP) 2024 di Badung, Bali, awal pekan ini.

Dia memaparkan hanya 15 persen dari target SDGs yang berada di jalur yang benar, sementara banyak lainnya mengalami kemunduran.

Akibatnya, lebih dari separuh populasi dunia berisiko tertinggal dan tidak terlibat sebagai subjek pembangunan. Kondisi itu diperburuk oleh munculnya berbagai tantangan global, mulai dari ketegangan geopolitik, ketimpangan, kemiskinan ekstrem, perubahan iklim, pandemi global, krisis keuangan, hingga gangguan rantai pasokan global.

Untuk itu, papar dia, Indonesia menyerukan adanya langkah transformatif dan kerja sama internasional yang lebih kuat dan kritis dari sebelumnya.

Inovasi Pembiayaan

Koordinator Tim Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Yanuar Nugroho, mengatakan perlu adanya inovasi pembiayaan guna memenuhi target SDGs.

Yanuar mengungkapkan kebutuhan pendanaan untuk SDGs meningkat 700 miliar dollar AS dari target sebelum pandemi Covid-19, yakni dari satu triliun dollar AS menjadi 1,7 triliun dollar AS.

Sementara sumber pendanaan tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pemerintah. "Ada pendanaan dari sektor swasta. Ada yang sifatnya investasi, ada juga yang sekarang disebut sebagai innovative financing atau pembiayaan inovatif. Indonesia sedang mengejar itu," ujar dia, di Badung, Bali.

Dia mencontohkan pemerintah mengeluarkan Surat Utang Negara (SUN) SDG atau SDG bond. Langkah ini merupakan salah satu cara memobilisasi dana dari sektor non-pemerintah.

Skema lain yang penting adalah pembiayaan campuran atau blended finance, di mana dana pemerintah digabungkan dengan dana swasta untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

11 Tahun J&T Express, Perkuat Teknologi Logistik dan Perluas Dampak Sosial

Jakmania Protes Kenaikan Harga Tiket, Resmi Boikot Launching Tim Persija

LG Buka Peluang Kreator Digital Raih Komisi Lewat Life’s Good Creator Club

Direktur CIA Mendadak Terbang ke Moskow, Beri Peringatan Keras Soal Ancaman Negara Baltik

Usia 61 Tahun, IKPI Tegaskan Peran Sebagai Jembatan Pemerintah dan Wajib Pajak

Tim Ahli Ungkap Dugaan Jebolnya Danau Glasial di Balik Banjir Dahsyat Nepal-Tibet

Kampanyekan Gemarikan di SDN Cempaka Putih Barat 07, KPKP Jakpus Penuhi Gizi Anak untuk Cegah "Stunting"

Swasembada Gula Dimulai dari Lampung

Meta Resmi Ubah Aturan Facebook dan Instagram: Batas 2 Jam hingga Mode Malam

170 Pendaki Berhasil Dievakuasi Turun dari Ranu Kumbolo, Pemadaman Karhutla Gunung Semeru Masih Berlangsung

Kuota 30 Persen Hunian MBR di TOD: Ini Poin Penting Usulan Ranperda Rusun Jakarta

KTM dan Gombong Culture Festival Dibuka, Menkop Ferry Juliantoro: Benteng Van Der Wijck Akan Jadi Ikon Pariwisata dan Ekonomi Kebumen Bakal Berkembang

PLN Bekali UMKM Binaan Kembangkan Inovasi Produk Berbasis Kopi.

UEFA Terapkan Aturan Baru Liga Champions 2026/27, Undian Arsenal dan Liverpool Terdampak

Puan Dorong Kemlu Perkuat Koordinasi soal Karhutla Kalimantan

Warga Betawi Terancam Tersisih, DPRD DKI Desak Kebijakan Afirmatif di Ranperda

DPR RI Berkomitmen Sahkan RUU Perampasan Aset pada 15 Desember 2026

Tanggapi Budie Arie, Puan Maharani: Pemilu Tetap Digelar Setiap Lima Tahun

Kementerian UMKM: Pemulihan UMKM Sumatra Dikawal hingga 2028

OJK Ungkap Jumlah Akun Pengguna Keuangan Digital Capai 22,93 Juta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.