Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Harus Cepat Atasi Lonjakan PHK

📅 Kamis, 29 Agu 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Harus Cepat Atasi Lonjakan PHK Doc: Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES

JAKARTA - Pemerintah diminta agar mengambil langkah yang cepat dan tepat untuk mengatasi lonjakan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia. Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eisha Rachbini, dalam sebuah diskusi, di Jakarta, mengatakan dalam jangka pendek pemerintah harus fokus pada upaya menjaga daya beli masyarakat.

Beberapa langkah yang bisa diambil, antara lain pemberian subsidi kepada pekerja yang terkena PHK, menyediakan program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mereka agar bisa bekerja di sektor lain, dan menghubungkan mereka dengan peluang kerja baru. "Jadi, masa tunggu untuk mencari pekerjaan bisa dipercepat," kata Eisha. Sementara untuk mengatasi masalah PHK secara mendasar, Eisha menyebut pemerintah perlu melakukan transformasi ekonomi jangka panjang.

Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan, antara lain reindustrialisasi, peningkatan iklim usaha, optimalisasi hilirisasi sumber daya alam, dan mendatangkan investasi yang dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat RI.

Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), sejak Januari hingga Mei 2024, terdapat 20-30 pabrik telah gulung tikar, mengakibatkan 10.800 karyawan kehilangan pekerjaan. Kementerian Perindustrian juga melaporkan enam pabrik besar telah tutup hingga Juni 2024, yakni PT Dupantex, PT Kusumahadi Santosa, PT Kusuma Putra Santosa, PT Pamor Spinning Mills, PT Sai Aparel di Jawa Tengah, serta PT Alenatex di Jawa Barat, dengan total 11.000 buruh terkena PHK. Eisha lebih lanjut menjelaskan fenomena PHK ini erat kaitannya dengan perlambatan sektor industri manufaktur, yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.

Industri manufaktur, terutama sektor tekstil, tengah mengalami penurunan daya saing yang signifikan. Kondisi itu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perlambatan permintaan global, ketergantungan terhadap bahan baku impor, dan kenaikan biaya produksi. "Bahan baku, logistik, dan gejolak geopolitik sudah membuat struktur biaya meningkat. Mungkin mereka sudah mencoba memperkecil margin penjualannya, tetapi ketika tidak bisa menanggung kenaikan biaya, mereka harus mem-PHK beberapa pekerjanya," ujar Eisha.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK) masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 8,62 persen. Lalu, tingkat pengangguran tamatan SMA sebesar 6,73 persen.

Sementara itu, tingkat pengangguran pada lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 meningkat dari 5,52 persen pada Februari 2023, menjadi 5,63 persen pada Februari 2024. Jumlah penduduk usia kerja (15-64 tahun) di Indonesia mencapai 214 juta orang. Dari jumlah itu, hanya sekitar 69,8 persen atau 149,38 juta orang yang bekerja. Masih ada sekitar 7,2 juta orang yang belum mendapatkan pekerjaan.

Stabilitas Sosial

Pada kesempatan lain, pengamat ekonomi dari Universitas Islam Indonesia (UII), Suharto, menyatakan bahwa tingginya angka PHK itu erat kaitannya dengan melemahnya sektor bisnis yang pada akhirnya berimbas pada daya beli masyarakat.

Suharto menjelaskan bahwa penurunan daya beli masyarakat tecermin dari fenomena deflasi yang terjadi selama dua bulan berturut-turut. "Situasi ini tentu perlu segera diatasi agar stabilitas sosial masyarakat tetap terjaga, terutama menjelang suksesi kepemimpinan nasional," kata Suharto.

Menurut Suharto, ada dua kebijakan yang bisa segera dilakukan oleh pemerintah dalam jangka pendek, yakni kebijakan fiskal dan moneter. Ia juga menggarisbawahi pentingnya peran pemerintah daerah dalam menghindari kebijakankebijakan yang dapat memperparah gelombang pengangguran.

"Pemerintah daerah sebaiknya memberikan kelonggaran kepada UMKM dan menghindari penertiban yang justru melemahkan sektor ini dan lapangan kerja yang tersedia," sarannya. Sementara itu, Manajer Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi, mengatakan mendorong kebijakan terkait penguatan daya beli masyarakat sangat relevan mengingat daya beli adalah salah satu indikator kesehatan ekonomi yang langsung berdampak pada konsumsi rumah tangga, yang menyumbang sekitar 55 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Selain itu, kebijakan yang cepat dan tepat untuk mengatasi lonjakan PHK harus mencakup langkah-langkah fiskal, seperti pemberian insentif atas komitmen tidak melakukan PHK. "Pemerintah perlu memperkuat program jaring pengaman sosial untuk mereka yang terdampak PHK. Ini tidak hanya melibatkan pemberian bantuan langsung tunai (BLT) atau subsidi pangan, tetapi juga peningkatan keterampilan untuk memfasilitasi transisi tenaga kerja ke sektor-sektor lain yang mungkin lebih tahan terhadap krisis," kata Badiul.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Serangan Houthi Meningkat, ...

Kesialan Persebaya atau Dewi Fortuna bagi PSM?

46 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Kesialan Persebaya atau Dew...
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.