Kepala BKKBN Tegaskan Jangan Ada Lagi Orang Tua Tak Izinkan Anaknya Imunisasi
Kamis, 01 Agu 2024, 00:10 WIBJakarta - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo mengingatkan jangan ada lagi orang tua yang tidak mengizinkan anaknya imunisasi.
"Dokter-dokter anak teruslah mengedukasi dengan tepat agar tidak ada lagi orang tua yang tidak memberi izin imunisasi pada anaknya, karena edukasi atau pengetahuan ibu adalah komponen utama bagi kesehatan anak-anak," ujar Hasto dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam Kelas orang tua hebat (Kerabat) seri ketujuh tahun 2024 edisi Hari Anak Nasional yang diselenggarakan secara hibrida pada Selasa (30/7).
Hasto menekankan pentingnya tenaga medis di puskesmas atau rumah sakit untuk terus membersamai orang tua mendorong imunisasi sukses, mengingat persentase anak yang tidak imunisasi karena tidak diizinkan keluarga masih tinggi.
"Proporsi alasan tidak diimunisasi pada anak 0-59 bulan karena tidak diizinkan keluarga sebesar 47 persen, lalu dengan alasan khawatir akan efek samping sebesar 45 persen," katanya.
Ia juga menyebutkan masih ada 35,8 persen anak umur 12-23 bulan yang tidak lengkap imunisasi dasar, sedangkan proporsi imunisasi lanjutan lengkap pada anak 24-35 bulan sebesar 42,5 persen, tidak lengkap 48,6 persen, dan tidak imunisasi 8,9 persen.
"Gizi yang baik, pengasuhan, dan stimulasi adalah beberapa faktor yang dapat mencegah stunting. Selain itu, imunisasi lengkap juga sangat penting, jangan terlewatkan agar penyakit yang telah lama hilang jangan sampai muncul lagi," ucapnya.
Hasto juga menegaskan pentingnya para ibu membaca agar sadar tentang pentingnya pemberian imunisasi dan pencegahan stunting dengan memberi asupan bergizi, serta pengasuhan yang terbaik bagi anak-anak.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak usia dini di Indonesia diperkirakan sebanyak 30,2 juta jiwa pada 2023. Jumlah tersebut setara dengan 10,91 persen dari total penduduk Indonesia tahun ini.
Menurut usianya, sebanyak 59,95 persen anak usia dini di Indonesia berada di rentang umur 1-4 tahun, dan 28,83 persen di kelompok umur 5-6 tahun. Sedangkan 11,22 persen anak usia dini berumur kurang dari satu tahun.
"Penting untuk menyiapkan anak berkualitas dalam rangka menyambut Indonesia Emas tahun 2045, tetapi sebelum itu kita harus menyambut bonus demografi, di mana kita harus menjadi generasi produktif sehingga bisa menanggung generasi tua," paparnya.
Menurut Hasto, anak harus menjadi generasi yang cerdas serta memiliki intelektual dan kemampuan cukup karena akan menjadi tulang punggung Indonesia di tahun 2035.
"Kita harus keluar dari jebakan pendapatan rendah, kalau lewat 2035 kita tidak bisa keluar dari kemiskinan, maka akan semakin sulit karena sudah banyak populasi menua dan usia produktif tidak sebanyak sekarang. Mari, kita manfaatkan dengan baik 10 tahun terakhir untuk meningkatkan pendapatan per kapita melalui anak sehat dan produktif," tuturnya.
Berita Terkait:
-
KKP Bekali Pengurus KNMP Teknik Pengelolaan Gudang Beku
-
BRIN: Pencemaran Sungai Cisadane Berisiko Timbulkan Efek Kesehatan Kronis, Masyarakat Dilarang Konsumsi Air dan Ikannya
-
KKP Pastikan Layanan Pelabuhan Perikanan Tetap Optimal di Libur Lebaran 2026
-
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka Ingatkan Pemudik Jaga Kesehatan dan Keselamatan Saat Perjalanan
-
Pemusnahan barang bukti narkotika di BNN Pusat
-
Generasi Muda RI Enggan Nikah dan Miliki Anak, BKKBN Temukan Faktor Utama Penyebabnya
-
Posko PMI Kota Semarang Melayani 15 Pemudik per Hari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.