Perkuat Kedaulatan Pangan agar Krisis di Sudan Tidak Terjadi di Indonesia

Kamis, 25 Jul 2024, 00:03 WIB

WASHINGTON - Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric, pada Selasa (23/7), di Washington, menyatakan kekhawatirannya mengenai situasi pangan yang memburuk di Sudan.

Dia mengatakan hampir 26 juta orang, baik pria, perempuan, dan anak-anak mengalami kelaparan akut yang kalau dibandingkan, jumlah tersebut setara dengan seluruh populasi Australia.

Ket. Foto: Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric — Sumber: ISTIMEWA

"Dari 26 juta orang tersebut, 750 ribu orang hanya tinggal selangkah lagi mengalami kelaparan yang bagi kami berarti fase 5 IPC (Keamanan Pangan Terpadu). Orang-orang di Sudan menghadapi "skenario terburuk," tambahnya.

Sudan didera pertempuran antara tentara yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, Kepala Dewan Berdaulat yang berkuasa, dan kelompok paramiliter Pasukan Reaksi Cepat (RSF) yang dipimpin mantan wakilnya, Mohamed Hamdan Daglo.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto, yang diminta pendapatnya, mengaku prihatin dengan situasi pangan di Sudan yang semakin memburuk, sambil menekankan pentingnya peningkatan kualitas kedaulatan pangan di Indonesia.

Menurut Dwijono, situasi di Sudan seharusnya menjadi peringatan bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan pangannya.

"Kedaulatan pangan bukan hanya tentang ketersediaan pangan, tetapi juga tentang kemampuan suatu negara untuk memproduksi dan menyediakan pangan bagi seluruh rakyatnya secara berkelanjutan dan berkualitas," jelas Dwijono.

Indonesia sebagai negara agraris dengan sumber daya alam yang melimpah, memiliki potensi besar untuk mencapai kedaulatan pangan. Namun, tantangan yang dihadapi cukup kompleks, mulai dari perubahan iklim, alih fungsi lahan pertanian, hingga kebergantungan pada impor pangan.

"Perubahan iklim telah mempengaruhi pola tanam dan hasil produksi pertanian. Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan perumahan juga mengurangi luas lahan produktif. Selain itu, ketergantungan pada impor pangan membuat kita rentan terhadap fluktuasi harga pangan global," paparnya.

Pemerintah, tambah Dwijono, perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produksi pangan lokal dan mengurangi kebergantungan pada impor.

"Pemerintah harus fokus pada peningkatan produktivitas pertanian melalui teknologi pertanian yang inovatif, peningkatan kapasitas petani, serta perlindungan lahan pertanian. Selain itu, diversifikasi pangan lokal juga harus menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas," tandasnya.

Demokratisasi Pangan

Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan RI harus mengantisipasi agar tidak dilanda krisis seperti di Sudan. Sebab itu, kedaulatan pangan perlu diwujudkan melalui demokratisasi pangan, melalui reforma agraria serta peningkatan produksi pangan rakyat.

Selain itu, juga perlu membenahi distribusi dan tata niaga, serta mengonsumsi pangan lokal. "Hentikan liberalisasi pertanian dan pangan, karena liberalisasi membuat pangan rakyat tidak bisa berkembang. Liberalisasi itu melalui banyaknya regulasi yang mendorong impor pangan oleh swasta," kata Awan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.