Ilmuwan Semakin Khawatir dengan Penyebaran Flu Burung

Rabu, 03 Jul 2024, 00:00 WIB

CHICAGO - Para ilmuwan yang melacak penyebaran flu burung baru-baru ini mengaku semakin khawatir bahwa kesenjangan dalam pengawasan dapat membuat mereka tertinggal beberapa langkah di belakang pandemi baru.

Dikutip dari The Straits Times, banyak dari mereka telah memantau subtipe baru flu burung H5N1 pada burung yang bermigrasi sejak tahun 2020. Namun, penyebaran virus ke 129 peternakan sapi perah di 12 negara bagian AS menandakan perubahan yang dapat membuatnya semakin mudah menular antarmanusia. Infeksi juga telah ditemukan pada mamalia lain, mulai dari alpaka hingga kucing rumahan.

Ket. Foto: Flu Burung — Sumber: ISTIMEWA

"Ini hampir tampak seperti pandemi yang berlangsung lambat. Saat ini, ancamannya cukup rendah, tetapi itu bisa berubah dalam sekejap," kata Scott Hensley, pengajar mikrobiologi di Universitas Pennsylvania.

Semakin dini peringatan terjadinya lonjakan pada manusia, semakin cepat pula pejabat kesehatan global dapat mengambil langkah-langkah untuk melindungi orang-orang dengan meluncurkan pengembangan vaksin, pengujian skala luas, dan tindakan pengendalian.

Pengawasan federal terhadap sapi perah di Amerika Serikat saat ini terbatas pada pengujian ternak sebelum mereka melintasi batas negara bagian. Pejabat kesehatan pemerintah dan pakar flu pandemi mengatakan upaya pengujian negara bagian tidak konsisten, sementara pengujian terhadap orang yang terpapar sapi sakit masih sedikit.

"Anda perlu mengetahui peternakan mana saja yang positif, berapa banyak sapi yang positif, seberapa cepat virus menyebar, berapa lama sapi-sapi ini tetap menular, dan rute penularan yang tepat," kata ahli virus flu Belanda Ron Fouchier dari Erasmus Medical Centre di Rotterdam.

Pengawasan Terbatas

Sementara itu, Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS, Jeanne Marrazzo, mengatakan pengawasan terhadap manusia masih sangat terbatas. Ia menggambarkan jaringan pengawasan flu manusia milik Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau Disease Control and Prevention's (CDC) sebagai mekanisme pelaporan dan penyajian pasif.

"Departemen Pertanian AS atau Department of Agriculture (USDA) lebih proaktif dalam menguji sapi, tetapi tidak mengumumkan peternakan mana yang terdampak," katanya.

Beberapa ahli mengatakan pendekatan yang berbeda dari lembaga kesehatan hewan dan manusia dapat menghambat respons yang lebih cepat.

"Jika Anda merancang sistem dari awal, Anda akan memiliki satu lembaga. Ini bukan satu-satunya contoh di mana kita memiliki masalah lingkungan atau hewan yang menyebabkan masalah pada manusia," kata Gigi Gronvall, pakar biosekuriti di Johns Hopkins Centre for Health Security.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Tidak Hanya Jadi Ajang Olahraga, Purwokerto City Run 2026 Kenalkan Budaya Lokal

KemenPU Tangani 1.229 Titik Kekeringan: 41 Ribu Hektar Sawah & 616 Ribu Jiwa Terbantu

Kebakaran Rumah di Kebayoran Baru, Sebanyak 81 Personel Dikerahkan

Gempa M5,9 Mengguncang Jepang Bagian Timur termasuk Tokyo, Layanan Kereta Api Terganggu

269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar

Budi Doremi Rilis Lagu Baru "Cinta Sendiri", Ajak Pendengar untuk Move On

Jaga Tradisi 5 Abad Kota Banjarmasin, Pemkot Gelar Festival Karya Tari

Peringati HUT RI, Polda Metro Jaya Fasilitasi Perpanjangan SIM Gratis Ribuan Pengemudi Ojol

IQAir: Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Ini, Kelima Terburuk di Dunia

Kebakaran Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, Rumah Suku Sasak Hangus Terbakar

Tim Bola Voli Putri Indonesia Bungkam Kazakstan, Revans Terbayar

Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia

Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU

Karhutla di Jambi Terus Meningkat, Perusahaan Migas Petrochina Jabung Bantu Padamkan

Liga Inggris: Manchester United Tersungkur di Kandang Hull, Tottenham Dipermalukan Brentford

Serie A Italia: Inter dan Napoli Awali Musim 2026-27 dengan Kemenangan, De Bruyne Jadi Pembeda

Bayern Taklukkan Dortmund 2-1 dan Rebut Piala Super Jerman

La Liga Spanyol: Carlos Espi Jadi Penentu, Real Madrid Menang Dramatis di Markas Espanyol

Pemerintah Kota Jambi Dorong Tirta Mayang Tingkatkan Kualitas Air

Tarif Retribusi Turun! Pedagang Pasar Ajibarang Gelar Tasyakuran

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.