Kemendag Sulit Buat Formula Aturan Impor yang Tepat

Senin, 01 Jul 2024, 00:03 WIB

JAKARTA - Kementerian Perdagangan dinilai kesulitan membuat formula aturan yang tepat tentang perdagangan internasional khususnya impor. Dari berbagai aturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) semuanya hampir membawa dampak bagi perekonomian dalam negeri.

Hal itu diakui Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan, di Bandung, dalam keterangannya mengenai rencana untuk mengenakan bea masuk hingga 200 persen barang-barang impor asal Tiongkok yang bisa mengganggu produksi dalam negeri seperti tekstil dan produk-produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ket. Foto: Adhi Cahya Fahadayna Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya (UB) Malang - Yang perlu diwaspadai negara-negara di Asia adalah pertarungan sesungguhnya antara AS dan Tiongkok. — Sumber: ISTIMEWA

Menurut Zulkifli, banjirnya barang asal Tiongkok ke pasar Asia termasuk Indonesia sebagai akibat perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), sehingga produksi Tiongkok over capacity dan over supply yang membanjiri Indonesia mulai dari pakaian, baja, tekstil, dan lain sebagainya.

Sebagai respons, maka lahirlah Permendag Nomor 37 Tahun 2023 yang betul-betul mengunci arus barang masuk dari luar negeri dibanding sebelumnya yang bisa langsung masuk ke toko atau konsumen tanpa sekat.

"Dengan Permendag 37 itu betul-betul bisa mengunci bisa mengendalikan impor," katanya.

Namun, ketika diberlakukan, kata Zulkifli, pemerintah kedodoran, di mana barang-barang Pekerja Migran Indonesia (PMI) ketika sampai Indonesia tidak bisa dibawa dari bandara usai pemeriksaan bea cukai.

"Barang tidak bisa jalan ratusan sampai ribuan kontainer. Ngamuk PMI, bea cukai tidak siap mendetailkan produk yang segitu banyak. Akhirnya diubah menjadi Permendag Nomor 7, dengan PMI dikembalikan lagi 500 dollar terserah nanti kayak apa barangnya," kata Zulkifli.

Namun, Permendag Nomor 7 itu dalam praktiknya tidak mudah, karena akhirnya 20.000 kontainer barang-barang di berbagai pelabuhan menumpuk, hingga akhirnya permendag itu harus diubah lagi.

"Akhirnya kita ubah Permendag Nomor 7 jadi Permendag Nomor 8, dan barang 20.000 kontainer, dalam satu bulan habis. Namun, industri tekstil dan lain sebagainya komplain luar biasa ramai lagi minta dikembalikan Permendag 37. Dari situ dibutuhkan aturan baru untuk melindungi barang-barang yang deras masuk ke sini," ungkap Mendag seperti dikutip dari Antara.

Langkah Antisipasi

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya (UB), Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan pemerintah perlu melakukan berbagai upaya ekonomi dalam mengantisiapasi potensi dominasi Tiongkok.

"Sebetulnya yang perlu diwaspadai negara-negara di Asia adalah pertarungan sesungguhnya antara AS dan Tiongkok, bukan ekonomi AS menginvasi ekonomi Tiongkok atau sebaliknya, tetapi medan pertarungannya lebih terjadi di Asia, di mana dominasi AS sudah begitu longgar sehingga Tiongkok mulai mengambil alih," kata Adhi.

Sekarang bergantung AS, apakah mereka mampu menunjukkan perannya di Asia sebagai penyeimbang. Jika tidak, maka bukan tidak mungkin gurita Tiongkok semakin mencengkeram Asia.

"AS harus memiliki penawaran yang menarik agar partner-partner Asia mau kembali kepadanya," pungkasnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Melon Jadi Harapan Baru! Kelompok Tani di Kulon Progo Genjot Ketahanan Pangan

AS Kenakan Tarif 50 Persen untuk Barang Kanada Senilai US$20 Miliar, Ottawa Siapkan Balasan

Gubernur Pramono Tegas! Efisiensi Bukan Alasan untuk Mengorbankan Layanan Dasar Warga Jakarta

Pasukan Tambahan Berdatangan! Tiga Batalyon dari Jawa Bantu Atasi Karhutla Kalimantan

Mengkhawatirkan! 9 Kali Meletus dalam Sehari, Gunung Anak Krakatau Jadi Sorotan

Koperasi Tak Boleh Kuno Lagi! Menkop Ferry Dorong Digitalisasi hingga Ekspansi Bisnis

Dugaan Jual Beli Kursi Jalur Mandiri Unsoed Terjadi di Masa Rektor Akhmad Sodiq.

Gempa NTT, Pelni Cabang Ambon Siapkan Layanan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan.

Relawan Medis UMI Makassar Tembus Pegunungan Manggarai, Bantu Warga Terdampak Bencana.

Baznas Salurkan 1.000 Mushaf Al Quran kepada Masyarakat Kampung Baduy.

Hujan Kalsel Diprakirakan Meningkat Oktober, BMKG Sebut Bisa Bantu Atasi Karhutla.

Karhutla Tanah Bumbu, Polisi Bagikan Masker untuk Lindungi Warga dari Asap.

Karhutla Jadi Perhatian, Papua Tengah Bentuk Satgas untuk 8 Kabupaten.

Kementerian PU Turun Tangani Karhutla di Tanjung Selor, Kaltara.

Kabut Asap Karhutla Muncul, Pelayaran Speedboat Tanjung Selor-Tarakan Tetap Normal.

Sungai Musi Dipenuhi Sampah, Wali Kota Palembang Ajak Warga Bergerak.

Pemerintah Luruskan Istilah “Emas di Bawah Bantal”, Ternyata Ada 1.800 Ton Senilai Rp4.000 Triliun

Mau Selamatkan Harimau? Rantai Makanan Harus Dijaga.

Rayakan 5 Abad Banjarmasin, Festival Tari Daerah Jadi Upaya Lestarikan Tradisi.

Polisi Buru Pemodal Sindikat Uang Palsu Rp36 Miliar di Tangsel

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.