Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tak Hanya Siswa, Guru pun Perlu Aktif di Media Sosial, Inilah Alasan Utamanya

📅 Jumat, 28 Jun 2024, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tak Hanya Siswa, Guru pun Perlu Aktif di Media Sosial, Inilah Alasan Utamanya Doc: ANTARA/Pexels
Ket. Ilustrasi - Seseorang sedang memegang ponsel untuk mengakses platform media sosial.

Elga Ahmad Prayoga, Université de Genève

Media sosial (medsos) merupakan laman atau aplikasi yang memungkinkan penggunanya membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial. Di Indonesia, 10 platform medsos yang paling banyak digunakan adalah: WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, Telegram, X (dulunya Twitter), Facebook Messenger, Pinterest, Kuaishou, dan LinkedIn.

Popularitas medsos juga merambah dunia pendidikan. Selain siswa, banyak guru juga aktif membuat konten di media sosial. Baru-baru ini, misalnya, warganet Indonesia memperbincangkan sosok Melan Achmad, seorang pensiunan guru yang secara konsisten mengajar matematika melalui siaran langsung di TikTok.

Ini merupakan langkah positif karena media sosial dapat menjadi ruang bagi guru untuk mengoreksi informasi yang tidak akurat, mengembangkan metode belajar yang lebih interaktif dan mengembangkan diri melalui jejaring.

Kontribusi kehadiran guru di media sosial

Ada tiga alasan utama mengapa guru perlu hadir di media sosial, yaitu:

1. Sebagai mekanisme koreksi dan konfirmasi

Jumlah pengguna medsos yang berusia dini di Indonesia sangatlah signifikan. Pendaftaran ke medsos memang bisa dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua, dengan memodifikasi tanggal lahir mereka sendiri meski media sosial seperti Instagram, Facebook, Snapchat, TikTok, dan YouTube (kecuali YouTube Kids), telah sepakat melarang anak-anak di bawah usia 13 tahun mengakses platform mereka.

Realita ini mengkhawatirkan, sebab pelajar saat ini lebih suka menggunakan medsos untuk mencari tahu informasi secara cepat, termasuk untuk kepentingan studi mereka. Padahal, mayoritas pengguna internet usia muda, terutama yang berlatar belakang sosial ekonomi rendah, belum memiliki literasi yang baik.

Artinya, mereka belum memiliki keterampilan dalam menangkap dan mengolah berita dari media, seperti mengenali bias politik atau mengidentifikasi bahwa sebuah unggahan di media sosial telah disponsori oleh pihak tertentu.

Memang sudah banyak ditemukan konten berisi pengetahuan dan informasi yang bebas tersedia di media sosial. Sebut saja Bright Side, Did You Know, dan Seputar Info 21. Sayangnya, sumber daya ilmu pengetahuan umum tersebut tidak semuanya dapat diverifikasi kebenarannya karena bisa berasal dari sembarang orang tanpa latar belakang profesi atau pendidikan yang relevan.

Di sinilah peran guru di media sosial diperlukan.

Tak hanya di kelas, guru perlu mendampingi siswa-siswi dalam pembelajaran mereka melalui dunia maya, semisal dengan melakukan klarifikasi atas informasi yang keliru. Guru juga bisa hadir dengan kepakarannya masing-masing melalui akun medsosnya, untuk mengimbangi dan mengonfirmasi pengetahuan yang tersebar masif tanpa kendali di media sosial.

2. Media berbagi dan kolaborasi

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Luar Negeri
Kemlu RI Pantau Keamanan WN...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.