Pengamat Nilai Pelaksanaan Demokrasi Cenderung Transaksional

Kamis, 20 Jun 2024, 09:32 WIB

JAKARTA - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Bina Nusantara (Binus) Malang, Frederik M. Gasa mengatakan, pasca penyelenggaraan Pilpres dan Pileg pada Februari lalu, banyak riak-riak politik yang muncul ke permukaan. Salah satu penyebabnya, praktik demokrasi saat ini cenderung transaksional dan telah jauh dari esensi demokrasi itu sendiri.

"Proses demokrasi saat ini tidak lagi fokus pada bagaimana pemimpin yang benar-benar melahirkan wakil rakyat yang representatif, namun justru keterpilihannya lahir dari praktik yang bertolak belakang dengan demokrasi itu sendiri yakni atas asas untung rugi," kat Frederik dari Malang, Rabu (19/6), merespons pernyataan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) Bambang Soesatyo terkait demokrasi transaksional.

Ket. Foto: Pengamat Komunikasi Politik Universitas Bina Nusantara (Binus) Malang, Frederik M. Gasa menilai penerapan demokrasi saat ini sangat transaksional. — Sumber: Istimewa

Bagaimana hal ini tidak terjadi, ongkos politik yang mahal ditambah mindset masyarakat yang masih pragmatis dan emotional dalam memilih menjadikan demokrasi saat ini seperti sebuah proses jual beli. "Jika harga yang ditawarkan pas, maka kita akan dapatkan suara yang diinginkan," ungkap Frederik.

Dia mengatakan, kita akan sulit menemukan wakil rakyat dan pemimpin yang ideal, yang merepresentasikan suara mayoritas, mengedepankan kepentingan umum, dan mengupayakan bonum commune (kebaikan bersama), karena mereka lahir dari praktik yang keliru. Logika yang dibangun adalah logika untung-rugi.

"Suara dan kepentingan masyarakat hanya akan menjadi komoditas lima tahunan. Negeri ini akan terus berjalan di tempat dan tidak beranjak kemana-mana jika ini terus terjadi. Lalu Indonesia Emas 2045 apakah kelak hanya jadi utopia semata? Entahlah," katanya.

Menurutnya, demokrasi saat ini perlu dievaluasi bersama dan prosesnya tidak semata-mata menjadi tugas wakil rakyat, tetapi seluruh lapisan masyarakat.

"Paling penting, bagi saya, adalah kita sebagai masyarakat perlu untuk melihat momentum pemilihan umum sebagai momentum evaluasi sekaligus memberikan asesmen atas kinerja wakil rakyat dalam kurun waktu tertentu. Menjadi rasional menjadi sangat penting!" tegasnya.

"Literasi politik mampu mendewasakan kita untuk semakin bijak dalam menggunakan hak suara agar tidak mudah untuk diperjualbelikan. Masalah muncul karena suara kita mudah untuk digadaikan dengan beberapa lembar rupiah. Konsekuensinya tidak main-main: lima tahun dalam kesengsaraan! Demokrasi kita sudah seharusnya naik kelas!," tandas dia.

Dia menekankan bahwa demokrasi harusnya penuh dengan jual beli gagasan, bukan suara. Demokrasi sudah seharusnya melahirkan pemimpin yang tahu malu. "Malu kalau korupsi, kolusi dan nepotisme. Barangkali saja, jika budaya malu ini ada, KPK tidak perlu lagi ada di Indonesia karena kita tahu malu. Demokrasi kita sudah seharusnya mengantarkan masyarakat diatas garis kemiskinan bukan justru memperburuknya," tutupnya.

Diketahui, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan evaluasi sistem demokrasi diperlukan untuk mencegah lahirnya pemimpin-pemimpin yang muncul dari sistem suap-menyuap yang tidak baik untuk keberlangsungan bangsa.

Menurutnya, sistem demokrasi langsung yang saat ini berlaku sudah memungkinkan terjadinya demokrasi transaksional dan salah satu faktor terpilihnya seorang pemimpin justru berdasarkan modal biaya dibandingkan dengan faktor lainnya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Karhutla Menggila! Kalsel Bentuk Tim Khusus untuk Tangani 3 Lokasi Prioritas

Tinggalkan Kemacetan Horor! Proyek Kereta Parung Panjang-Jasinga Siap Tembus 6 Stasiun Baru!

Pascakebakaran, 120 Bangunan di Desa Adat Sade Lombok Hangus Terbakar

Bupati Bogor Beri Kejutan! Tim Angklung HUT RI Diboyong Jalan-Jalan ke Taman Safari

Bikin Anak Pengungsi Tersenyum, Polri Gelar Trauma Healing Pascagempa Manggarai

Jonatan Nomor Satu Dunia Tunggal Putra Bulu Tangkis

Tebing Gunung Gajah, Menantang dan Keras Kepala tetapi Luar Biasa Indah

PSG Nyaris Tumbang, Dua Gol Ferran Torres Bawa Pulang Poin dari Rennes

Karhutla dan Asap Jadi Ancaman, Wamenko Dorong Penanganan yang Lindungi Kesehatan

Gagal Juara Bukan Akhir! Timo Apresiasi Mental Tangguh Timnya

Ratu Tisha Ungkap Mimpi Besar Timnas Indonesia: Harus Punya Mental Baja!

Tiongkok Mendadak Tunda Misi Bulan Chang’e-7, Ada Masalah Usai Roket Meledak

Antisipasi Gempa Susulan, Misa Digelar di Halaman Gereja

ISPA Jadi Keluhan Terbanyak di Pengungsian Gempa NTT, Posko Kesehatan Disiagakan

Kemarau Panjang, Debit Situ Cileunca Menyusut dan Ganggu Pasokan Air Bersih Bandung Raya

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.