Ketersediaan Infrastruktur Kesehatan RI Masih Rendah
Rabu, 19 Jun 2024, 08:13 WIBJAKARTA - Ketersediaan infrastruktur penunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia masih rendah sehingga membebani daya saingnya di kancah dunia. Meski demikian, peringkat daya saing RI di dunia meningkat dan bahkan menggeser Malaysia.
Riset IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2024 mencatat peringkat daya saing Indonesia didongkrak oleh tinggi pada efisiensi bisnis (rangking ke-14), efisiensi pemerintah (23) dan performa ekonomi (24). Namun, IMD mencatat RI masih lemah pada ketersediaan infrastruktur, terutama terkait kesehatan dan lingkungan (61), pendidikan (57), sains (45) dan teknologi (32).
Meski demikian, riset IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2024 menyebutkan peringkat daya saing Indonesia naik ke posisi 27 dunia. Posisi peringkat Indonesia tahun ini naik signifikan hingga tujuh peringkat dari posisi sebelumnya yakni peringkat 34 dunia pada 2023.
Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi tiga besar setelah Singapura dan Thailand. "Dalam beberapa dekade terakhir, negara seperti Tiongkok, India, Brasil, Indonesia, dan Turki mengalami pertumbuhan dan pembangunan pesat. Imbasnya kini mereka memegang peranan penting dalam perdagangan, investasi, inovasi, dan geopolitik," kata Direktur World Competitiveness Center (WCC) IMD, Arturo Bris di Jakarta, Selasa (18/6).
Berdasarkan laporan WCR 2024, beberapa negara dengan daya saing terbaik di kawasan Asia Tenggara mencakup Singapura (1), Thailand (25), Indonesia (27), Malaysia (34), dan Filipina (52). Tahun ini, Indonesia dan Malaysia bertukar posisi. Peringkat Malaysia jatuh ke posisi 34 dari peringkat 27 pada 2023.
Tarik Investasi
Menurut Bris, jebloknya performa Malaysia tahun ini lantaran pelemahan mata uang, dan ketidakstabilan politik dan ketidakpastian kebijakan pemerintah. Sementara Indonesia naik dari peringkat 34 tahun lalu, menempati takhta Malaysia di posisi 27.
"Daya saing Indonesia didongkrak oleh peningkatan performa ekonomi, kemampuan menarik kapital, dan pertumbuhan PDB (produk domestik bruto). Tahun ini performa ekonomi Asia Tenggara amat baik, kecuali untuk Malaysia yang turun peringkat," kata Arturo Bris.
Secara keseluruhan, peringkat Indonesia bahkan hanya terpaut tipis dengan Inggris (28), hingga berhasil melampaui daya saing Jepang (38) dan India (39). Peringkat daya saing Inggris anjlok setelah British Exit (Brexit) lantaran terisolasi dari negara Eropa lain. Peringkat Inggris baru membaik tahun ini.
Bris menjelaskan lebih lanjut, IMD WCC menggunakan empat indikator penentu peringkat WCR 2024, yaitu performa ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.
Terkait efisiensi bisnis, hal yang berhasil mendongkrak skor Indonesia adalah soal masifnya ketersediaan tenaga kerja (2), efektivitas manajemen perusahaan (10), perilaku dan tata nilai masyarakat yang mendukung efisiensi perusahaan(12). Meski demikian finansial (25) dan produktivitas (30) perusahaan masih perlu ditingkatkan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Wagub Rano Karno: 97 Persen Program Jakarta Selesai dalam Setahun
-
Harga Gas Eropa Melonjak Naik 70 Persen Pasca Konflik Timur Tengah
-
J&T Express Tembus 30 Miliar Paket pada 2025, Indonesia Jadi Kontributor Utama Pertumbuhan
-
Kurangi Ketergantungan Impor Obat, Proyek Plasma Indonesia Menang di IJGlobal Awards
-
8.200 Rumah Subsidi untuk MBR di Sumut Telah Rampung Dibangun
-
Efek Berantai Konflik: Energi Naik, Harga Pangan Ikut Tercekik
-
Pertamina Hulu Energi Targetkan Produksi Minyak 2026 Capai 595 Ribu Barel Per Hari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.