Laporan: Perubahan Iklim Menyebabkan Panas Ekstrem selama 26 Hari pada Tahun Lalu

Kamis, 30 Mei 2024, 00:02 WIB

PARIS - Menurut sebuah laporan yang dirilis pada Selasa (28/5), dunia mengalami rata-rata suhu panas ekstrem selama 26 hari lagi selama 12 bulan terakhir yang mungkin tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan iklim.

Panas adalah penyebab utama kematian terkait iklim, dan laporan ini lebih lanjut menunjukkan peran pemanasan global dalam meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di seluruh dunia.

Ket. Foto: Secara total, 76 gelombang panas ekstrem tercatat terjadi di 90 negara berbeda di setiap benua kecuali Antartika. — Sumber: istimewa

Dikutip dariThe Straits Times, untuk penelitian ini, para ilmuwan menggunakan tahun 1991 hingga 2020 untuk menentukan suhu yang termasuk dalam 10 persen teratas di setiap negara selama periode tersebut.

Selanjutnya, mereka melihat 12 bulan hingga 15 Mei 2024, untuk menentukan berapa hari selama periode tersebut suhu berada dalam, atau di luar kisaran sebelumnya.

Kemudian, dengan menggunakan metode tinjauan sejawat, mereka meneliti pengaruh perubahan iklim pada setiap hari yang sangat panas tersebut.

"Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia bertambah secara rata-rata, di seluruh tempat di dunia, suhu panas ekstrem selama 26 hari lebih lama dibandingkan jika tidak ada perubahan iklim".

Laporan tersebut diterbitkan oleh Pusat Iklim Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, jaringan ilmiah Atribusi Cuaca Dunia, dan organisasi penelitian nirlaba Climate Central.

Menurut pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus, tahun 2023 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat.

Pada tahun 2024, gelombang panas ekstrem telah melanda sebagian besar dunia, mulai dari Meksiko hingga Pakistan.

Laporan tersebut menyebutkan dalam 12 bulan terakhir, sekitar 6,3 miliar orang, sekitar 80 persen populasi global, mengalami setidaknya 31 hari cuaca yang tergolong panas ekstrem.

Secara total, 76 gelombang panas ekstrem tercatat terjadi di 90 negara berbeda di setiap benua kecuali Antartika.

Lima negara yang paling terkena dampaknya berada di Amerika Latin.

Laporan tersebut menyatakan bahwa tanpa pengaruh perubahan iklim, Suriname diperkirakan akan mengalami 24 hari cuaca panas ekstrem, bukan 182 hari; Ekuador 10 bukan 180; Guyana 33 bukan 174; El Salvador 15 bukan 163; dan Panama 12 bukan 149.

"(Panas ekstrem) diketahui telah menewaskan puluhan ribu orang selama 12 bulan terakhir, namun jumlah sebenarnya kemungkinan mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan," kata Palang Merah dalam sebuah pernyataan.

"Banjir dan angin topan mungkin menjadi berita utama, namun dampak panas ekstrem juga sama mematikannya," kata Jagan Chapagain, sekretaris jenderal Federasi Palang Merah Internasional.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Bupati Bogor Beri Kejutan! Tim Angklung HUT RI Diboyong Jalan-Jalan ke Taman Safari

Bikin Anak Pengungsi Tersenyum, Polri Gelar Trauma Healing Pascagempa Manggarai

Jonatan Nomor Satu Dunia Tunggal Putra Bulu Tangkis

Tebing Gunung Gajah, Menantang dan Keras Kepala tetapi Luar Biasa Indah

PSG Nyaris Tumbang, Dua Gol Ferran Torres Bawa Pulang Poin dari Rennes

Karhutla dan Asap Jadi Ancaman, Wamenko Dorong Penanganan yang Lindungi Kesehatan

Gagal Juara Bukan Akhir! Timo Apresiasi Mental Tangguh Timnya

Ratu Tisha Ungkap Mimpi Besar Timnas Indonesia: Harus Punya Mental Baja!

Tiongkok Mendadak Tunda Misi Bulan Chang’e-7, Ada Masalah Usai Roket Meledak

Antisipasi Gempa Susulan, Misa Digelar di Halaman Gereja

ISPA Jadi Keluhan Terbanyak di Pengungsian Gempa NTT, Posko Kesehatan Disiagakan

Kemarau Panjang, Debit Situ Cileunca Menyusut dan Ganggu Pasokan Air Bersih Bandung Raya

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.