• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Reimajinasi, Pendekatan Ba...

Reimajinasi, Pendekatan Baru Pengelolaan Museum dan Cagar Budaya

Minggu, 19 Mei 2024, 20:18 WIB

YOGYAKARTA - Pemerintah menggunakan cara baru dalam mengelola museum, galeri, dan cagar budaya. Melalui lembaga baru bernama Indonesian Heritage Agency (IHA), berbentuk badan layanan umum (BLU) pemerintah tengah merevitalisasi situs-situs dengan pendekatan yang mengusung konsep reimajinasi.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala IHA, Ahmad Mahendra, menjelaskan konsep reimajinasi digagas berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mencakup tiga pilar utama. Pertama adalahreprogramming(pemrograman ulang), keduaredesigning(perancangan ulang), dan ketigareinvigorating(penyegaran kembali).

Ket. Foto: Wajah Baru Museum Benteng Vredeburg yang diresmikan pada Kamis (16/5) setelah mengalami revitalisasi yang dimulai pada 4 Maret 2024. Proses revitalisasi yang dilakukan Indonesian Heritage Agency (IHA), mengusung konsep reimajinasi. — Sumber: Haryo Brono

"Reprogrammingadalah tentang memprogram ulang koleksi dan kuratorial, mempertajam narasi besar dari setiap museum dan cagar budaya untuk memastikan bahwa kisah-kisah yang diceritakan tidak hanya berakar dalam sejarah, tetapi juga relevan dengan konteks sosial dan budaya saat ini," katanya dalam konferensi pers sebelum acara peluncuran IHA di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Kamis (16/5).

Reimajinasi dilaksanakan oleh IHA yang beroperasi di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia. Lembaga ini selanjutnya bertanggung jawab atas pengelolaan 18 museum dan galeriserta 34 cagar budaya nasional, memastikan pelestarian dan pemanfaatan optimal warisan budaya Indonesia.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid menjelaskan, IHA, yang dibentuk pada 1 September 2023 sebagai Badan Layanan Umum, memiliki visi untuk menjadikan museum dan cagar budaya sebagai ruang kolaboratif terbuka yang memperkaya pengetahuan sejarah dan budaya. Dengan adanya IHA, Indonesia telah meletakkan salah satu tonggak penting dalam upaya pelestarian warisan budaya di Indonesia.

"Hal ini bukan hanya tentang pengelolaan museum dan cagar budaya, tetapi juga tentang bagaimana kita, sebagai bangsa, memanfaatkan dan merawat kekayaan budaya yang kita miliki," ungkapnya.

Mahendra, menambahkan terdapat dua upaya guna mewujudkan komitmen IHA dalam memelihara dan melestarikan warisan budaya dan sejarah Indonesia. Pertama optimalisasi standar pelayanan dan pengelolaan, serta konsistensi revitalisasi secara merata.

"Optimalisasi standar pelayanan dan pengelolaan, serta konsistensi upaya revitalisasi secara merata pada seluruh museum dan cagar budaya dibawah naungan IHA adalah kunci untuk meningkatkan pengalaman pengunjung, sekaligus mendekatkan diri kepada publik," jelasnya.

Ia melanjutkan, melalui IHA, Kemendikbudristek berkomitmen mengembangkan dan menerapkan kaidah- kaidah pelestarian bangunan cagar budaya yang mencakup pemeliharaan fisik, pemahaman dan penyebaran ilmu pengetahuan mengenai aspek-aspek budaya.

"Melalui pendekatan ini, IHA berusaha memastikan bahwa warisan budaya Indonesia terlindungi secara holistik, mempertahankan nilai historis serta keotentikannya untuk generasi mendatang," imbuh Mahendra.

Hilmar lebih lanjut menjelaskan bahwa IHA diharapkan menjadi motor penggerak dalam mewujudkan masyarakat yang berbudaya. Menurutnya, museum dan cagar budaya harus dikelola dengan cara yang lebih profesional, sehingga betul-betul menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan yang menyenangkan bagi masyarakat.

"Sebagai warisan budaya, Museum dan Cagar Budaya pasti harus dilindungi, namun lebih penting ia memberi manfaat bagi masyarakat," tegas Hilmar.

Rangkaian peluncuran IHA yang dilaksanakan di Museum Benteng Vredeburg pada Kamis malam(16/5), sejalan dengan momentum peringatan Hari Museum Internasional. Rangkaian kegiatan peluncuran yang dihadiri Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim disertai dengan peluncuran peluncuran dua museum IHA, yakni Museum Song Terus di Pacitan, Jawa Timur dan Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta.

Dalam sambutannya Nadiem menuturkan, lahirnya IHA menandai langkah bersama menuju keberlanjutan transformasi dunia pendidikan dan ekosistem kebudayaan Indonesia. Pada kesempatan ini, ia juga menekankan pentingnya peran museum dan cagar budaya sebagai sarana pembelajaran yang mendukung inisiatif Merdeka Belajar di ruang publik.

"Ini saatnya kita mengambil langkah berani untuk mentransformasi museum dan cagar budaya yang kita miliki. Ini saatnya kita menjadikan museum dan cagar budaya sebagai ruang belajar yang terbuka, inklusif, dan mendukung perwujudan pembelajar sepanjang hayat," tuturnya.

Ia berharap, masyarakat berpartisipasi aktif dalam proses revitalisasi dunia permuseuman dan cagar budaya Indonesia. Sebab, menurutnya wajah museum saat ini terutama yang telah direvitalisasi sangat menggugah imajinasi, wawasan, dan pengetahuan pengunjung.

Nadiem memuji dan mencontohkan keberhasilan revitalisasi Museum Song Terus di Pacitan. Ia berharap hal ini bisa menjadi acuan bagi pengelola museum di berbagai kota di Indonesia, sehingga dapat menarik perhatian seluruh kalangan masyarakat.

"Jadikan museum dan cagar budaya sebagai tujuan wisata edukasi, dan bawa serta anak-anak kita untuk mengenal dan mempelajari jati diri bangsa dan akar budayanya," ujarnya.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X yang hadir dalam peluncuran IHA mengatakan, eksistensi museum dan cagar budaya dicita-citakan bersama tidak berhenti di taraf apresiasi dan lahiriah semata. Namun, dapat dijadikan sebagai modal sosial untuk membangun budaya yang mampu mengeskalasi kesejahteraan, baik lahir maupun batin bagi masyarakatnya.

"Dengan harapan itulah, saya mengucapkan selamat atas launching IHA sebagai pengemban visi kolaboratif, mendorong daya cipta, perubahan sosial, serta pembangunan masyarakat yang berbudaya. Yang akhirnya museum dan cagar budaya benar-benar bisa membawa manfaat bagi masyarakat Indonesia," papar Keraton Yogyakarta ini.

Sri Sultan menyampaikan museum dan cagar budaya laksana benteng monumental yang berupaya memelihara warisan kebesaran manusia dan penjaga masa lalu yang agung. Museum dan cagar budaya adalah entitas terdepan suar pengetahuan dan kesaksian hidup dari peradaban yang bermetamorfosis tanpa henti.

"Museum dan cagar budaya juga menjadi manifestasi persatuan dan identitas, di antara individu dan masyarakat. Berbagai koleksi dan artefak akan dikelola, agar dapat berfungsi sebagai pusat pertukaran budaya, dan memupuk rasa saling pengertian," ungkap Sultan.

"Selain itu, museum dan cagar budaya sebagai entitas, diharapkan memberikan pengalaman pendidikan yang memperkaya dan berfungsi sebagai buku pelajaran hidup bagi masyarakat dari segala usia," lanjut Sultan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.