Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Musim Panas 2023 Terpanas dalam 2.000 Tahun Terakhir

📅 Kamis, 16 Mei 2024, 00:00 WIB | Oleh:
Musim Panas 2023 Terpanas dalam 2.000 Tahun Terakhir Doc: ISTIMEWA
Ket. Petugas pemadam kebakaran Ceska memadamkan api yang berkobar di dekat Desa Provatonas, wilayah Evros, Yunani, beberapa waktu lalu.

LONDON - Menurut sebuah penelitian terbaru, kondisi panas terik musim panas di belahan bumi utara yang memicu kebakaran hutan di seluruh Mediterania, membuat jalan-jalan di Texas menjadi bengkok dan jaringan listrik yang membebani di Tiongkok, tahun lalu, menjadikannya musim panas terpanas dalam kurun waktu 2.000 tahun.

Temuan mengejutkan ini berasal dari salah satu dari dua studi yang dirilis pada hari Selasa (14/5), ketika suhu global dan emisi pemanasan iklim terus meningkat.

Dikutip dari The Straits Times, para ilmuwan dengan cepat menyatakan periode Juni hingga Agustus tahun lalu sebagai periode terpanas sejak pencatatan dimulai pada tahun 1940-an.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature menunjukkan panas tahun 2023 melampaui suhu dalam jangka waktu yang jauh lebih lama. Temuan ini diperoleh dengan melihat catatan meteorologi yang berasal dari pertengahan tahun 1800-an dan data suhu berdasarkan analisis lingkaran pohon di sembilan lokasi di utara.

"Jika Anda melihat sejarah yang panjang, Anda dapat melihat betapa dramatisnya pemanasan global saat ini," kata rekan penulis studi, Jan Esper, seorang ilmuwan iklim di Universitas Johannes Gutenberg di Jerman.

Suhu musim panas tahun lalu di wilayah antara 30 dan 90 derajat lintang utara mencapai 2,07 derajat Celsius (3,73 derajat Fahrenheit) lebih tinggi dibandingkan rata-rata pra-industri.

Berdasarkan data lingkaran pohon, bulan-bulan musim panas pada tahun 2023 rata-rata lebih hangat 2,2 Celsius (4 Fahrenheit) dibandingkan perkiraan suhu rata-rata sepanjang tahun 1 hingga 1890.

Tidak Mengejutkan

Temuan ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Pada bulan Januari, para ilmuwan dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa mengatakan tahun 2023 sangat mungkin menjadi tahun terpanas dalam 100.000 tahun terakhir.

Namun, mustahil untuk membuktikan rekor panjang seperti itu. Dia dan dua ilmuwan Eropa lain berpendapat dalam sebuah makalah tahun lalu, perbandingan tahun demi tahun tidak dapat dilakukan dalam skala waktu yang luas dengan metode ilmiah saat ini, termasuk mengumpulkan data suhu dari sumber seperti sedimen laut atau rawa gambut. "Kami tidak memiliki data seperti itu," kata Esper

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

3 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.