• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Misi Mengetahui Bulan Sat...

Misi Mengetahui Bulan Saturnus

Selasa, 14 Mei 2024, 06:25 WIB

Setelah rusaknya Ingenuity di Mars, NASA mengatakan akan kembali mendaratkan helikopter ke Mars meski waktunya belum pasti. Sedangkan satu-satunya helikopter ke planet lain dengan jaminan peluncuran yang baru dikonfirmasi pada 16 April lalu adalah Dragonfly.

Wahana ini rencananya akan mengambil sampel dunia lebih jauh lagi dari Mars yaitu permukaan bulan Saturnus yang bernama Titan. Yang unik dan membedakan dengan misi penjelajahan di permukaan Planet Mars adalah sampel dari material dari Titan akan dianalisis di tempat, bukan dibawa ke Bumi.

Ket. Foto: — Sumber: afp/Handout / various sources

Berbeda dengan Mars, Titan memiliki atmosfer yang mirip dengan sup kental 60 persen lebih padat dibandingkan atmosfer Bumi. Atmosfer padat seperti itu menguntungkan helikopter karena baling-balingnya akan mampu mendorong udara tebal untuk menghasilkan daya dorong yang sangat besar.

"Kepadatan atmosfer berarti manusia mungkin bisa terbang dengan berenang di udara Titan," kata William Warmbrodt, Kepala Aeromekanik di Pusat Penelitian Ames NASA, dikutip dariScientific American.

Lingkungan aerodinamis yang menguntungkan memungkinkan para insinyur merancang pesawat yang jauh lebih berat, yang lebih mirip sesuatu dari fiksi ilmiah. Meskipun Ingenuity dan Dragonfly berbagi desain rotor koaksial bertumpuk.

Seukuran mobil dan berat lebih dari 450 kilogram, Dragonfly cukup besar untuk membuat Ingenuity terlihat sangat kecil. Helikopter ini memiliki empat set rotor bertumpuk yang mengelilingi perimeternya.

Para insinyur juga telah melengkapi Dragonfly dengan sumber tenaga nuklir, tanpa sel surya yang digunakan oleh Ingenuity dan sejenisnya. Bahan bakar Plutonium 238 akan memberi daya pada generator termoelektrik radioisotop Dragonfly untuk mengisi baterai pesawat untuk penerbangan.

Insinyur NASA, Jason Cornelius, mengatakan sumber tenaga nuklir diperlukan karena intensitas cahaya matahari di sekitar planet itu terlalu redup untuk mengisi panel surya di Titan. Cahaya redup ini disebabkan oleh dua hal jarak bulan Titan yang sangat jauh dari matahari serta atmosfernya yang tebal dan meredupkan cahaya.

"Kami juga menggunakan panas dari pembangkit listrik tenaga nuklir untuk menjaga kendaraan tetap hangat," imbuh dia.

Kondisi hangat diperlukan karena suhu permukaan Titan sekitar minus 180 derajat Celsius. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.