Sarana Penyimpan Pangan Masih Minim

Senin, 13 Mei 2024, 08:47 WIB

JAKARTA - Pemerintah menegaskan Indonesia masih mengalami kendala di aspek perpanjangan shelf life atau kerap disebut masa simpan pangan. Padahal, ini merupakan faktor penting dalam menunjang distribusi logistik pangan yang menjangkau seluruh daerah. Akibatnya, ketahanan pangan nasional rentan.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mengemukakan pihaknya menaruh atensi pada pengembangan sarana prasarana (sarpras) rantai dingin (cold chain). "Dalam beberapa kesempatan, saya selalu sampaikan kepada Bapak Presiden Joko Widodo bahwa cold chain ini sangat penting. Di luar negeri sudah mulai sejak lama. Kalau kita baru mulai, tidak mengapa. Kita sudah memulai tapi cepat, karena Indonesia ini tidak seperti negara lain, kita ini negara kepulauan," papar Arief di Jakarta, pekan lalu.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Untuk itu, sejak 2022, Bapanas dalam mendukung penguatan cadangan pangan telah menyalurkan total 30 sarpras cold chain di 12 provinsi sentra produsen pangan strategis. Jenis alatnya antara lain cold storage dengan kapasitas hingga 12 ton, air blast freezer kapasitas hingga tiga ton, heat pump dryer kapasitas 200 kilogram (kg) per batch, dan refeer container kapasitas hingga 20 ton.

"Tantangan pangan global itu sebenarnya hari ini cukup mengkhawatirkan. Jumlah penduduknya naik, lahan makin sempit, harga makin mahal, geopolitiknya tidak bisa kita prediksi. Salah satu solusinya tentu kita tingkatkan produksi dalam negeri," sambungnya.

Namun, lanjutnya, setelah produksi dalam negeri naik, sudah banyak, saking banyaknya malah harganya jatuh. Jadinya, petaninya enggan menanam lagi, peternak juga.

Salah satu penerima bantuan sarpras cold chain yang turut hadir di kegiatan hari ini, Zainal dari Aulia Madinah Broiler Lampung, menuturkan adanya peningkatkan yang signifikan dan positif sejak menggunakan air blast freezer.

"Kalau untuk di tempat kita karena memang kita produksi ayam frozen memang alat itu benar-benar dipakai, karena kalau untuk produksi ayam memang setiap hari. Dampak positifnya ternyata listrik itu memang bisa lebih hemat karena dengan kapasitas yang besar, bisa langsung untuk membekukan sekaligus dua sampai tiga ton," ucapnya.

Zainal menambahkan, peningkatan dari sisi produksi juga turut terbantu. Semula UMKM memproduksi masih dua truk dalam satu hari. Setelah mendapatkan bantuan ini, bisa empat sampai lima truk dalam satu hari.

Butuh Koneksitas

Dari Yogyakarta, Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosam mengatakan perlu adanya koneksitas pelaku dan data produksi, distribusi, dan konsumsi pangan nasional. Koneksitas antara petani, pedagang, dan konsumen (buruh) di antaranya dengan mengembangkan koperasi multipihak di sektor pangan.

Adapun teknisnya, terang Awan, koperasi ini dimiliki oleh kelompok/koperasi yang terkait dengan rantai pasok pangan, seperti halnya petani, pedagang, konsumen, dan sebagainya. "Hal ini supaya ada koneksitas antarpihak yang menjadi basis produksi, harga, dan pasar," ungkapnya.

Diakuinya, di Indonesia masih sedikit jumlahnya, bahkan baru keluar Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Permenkop) tentang Koperasi Multipihak tersebut pada 2021.

Setelah beleid itu terbit memang sudah mulai didirikan di beberapa wilayah dan sektor/bidang, namun dirinya berharap sudah menjamur jumlahnya.

Redaktur: Fredrikus Wolgabrink Sabini

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.