Digitalisasi Sistem Pembayaran Diperbarui
Selasa, 30 Apr 2024, 10:54 WIBJAKARTA - Bank Indonesia (BI) tengah memperbarui, menyempurnakan, dan memperluas digitalisasi sistem pembayaran melalui penyusunan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025-2030.
"Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025-2030 yang sedang kami susun, nanti kita akan luncurkan BSPI 2025-2030 ini secara resmi ya Insyaa Allah tengah tahun," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Senin (29/4).
Dalam acara peluncuran (kick-off) dan Seminar Hackathon Bank Indonesia 2024 itu, Perry mengatakan ada sejumlah inisiatif utama yang menjadi garis besar BSPI 2025-2030, di antaranya terkait infrastruktur, industri dan inovasi.
Inisiatif tersebut adalah terus memperbarui, memodernisasi dan memperkuat infrastruktur sistem pembayaran yaitu pengembangan sistem pembayaran ritel, tidak hanya BI-Fast, tapi juga fast payment oleh swasta, serta berkolaborasi untuk mendorong ekonomi keuangan digital nasional.
Infrastruktur pembayaran wholesale juga akan diperbarui dan dimodernisasi, yakni Real Time Gross Settlement (RTGS), yang tidak hanya multi currency, tapi juga modern sesuai dengan ISO 2022.
Demikian juga dengan infrastruktur pusat data pembayaran, guna mendorong ekonomi keuangan digital. Selanjutnya, BSPI 2025-2030 juga mendukung inisiatif untuk penguatan dan konsolidasi industri pelaku sistem pembayaran.
"Konsolidasi tentu saja kita perlu lakukan. Ada dua kelompok, kelompok pelaku atau perusahaan sistem pembayaran yang besar dan tentu saja yang lainnya," ujarnya.
Dia menekankan semua para pelaku industri sistem pembayaran didorong berkolaborasi untuk mendukung pembayaran secara digital.
Masing-masing pelaku industri berperan sesuai dengan kemampuan, teknologinya, manajemen risikonya, kapasitas sumber daya manusianya dalam rangka memperluas layanan digital sistem pembayaran.
Selain itu, Bank Indonesia dan industri bekerja sama untuk terus mendorong inovasi digital guna mendukung digitalisasi ekonomi keuangan nasional dan sistem pembayaran
"Digitalisasi ekonomi keuangan nasional, digitalisasi sistem pembayaran, semuanya perlu bisa memperluas layanan digitalisasi dan pembayaran dengan tetap memperhatikan, mempertimbangkan dan mengutamakan juga perlindungan konsumen, APU PPT (Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme)," ujarnya.
Dukung Inovasi
Lebih lanjut, Perry mengatakan Bank Indonesia mendukung inovasi digital melalui gelaran Hackathon 2024, yakni kompetisi untuk memecahkan tantangan ekonomi dan keuangan digital melalui inovasi dan solusi berbasis teknologi.
Pada kuartal I-2024 nominal transaksi QRIS tumbuh 175,44 persen secara year on year (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 48,12 juta dan jumlah merchant 31,61 juta hingga saat ini.
Hackathon terbuka bagi masyarakat umum (individu dan lembaga) dengan periode registrasi 29 April hingga 6 Juni 2024. Hackathon diarahkan untuk dapat menjawab tiga permasalahan utama sebagai subtema, yaitu proses pengambilan keputusan yang efisien, perluasan akseptasi pasar melalui penyediaan layanan yang inovatif, serta manajemen risiko dan pelindungan konsumen.
Tiga hal tersebut bermanfaat untuk menjawab tantangan pengambil kebijakan dan industri serta untuk kepentingan masyarakat sehingga kemudian dapat diimplementasikan dalam ekosistem digital.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
KKI 2026 Catat Transaksi Rp177,21 Miliar, UMKM DKI Kuatkan Ekspor & Pembiayaan
-
JEF 2026 Dirancang BI DKI Jadi Ajang Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
-
Rhoma Irama Obati Kerinduan Fans Setelah 20 Tahun, Goyang Publik Malaysia di Latihan Pestapora
-
30 UMKM Binaan BI DKI Mejeng di KKI 2026, Target Perluas Pasar & Akses Pembiayaan
-
Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Timmas Indonesia vs Singapura, Wajib Menang, Herdman Siapkan Wajah Baru
-
Youth Today, Leaders Tomorrow: BI dan Pemprov DKI Bentuk 500 Pemimpin Muda Jakarta
-
BI Pastikan Uang Digital Tidak Akan Gantikan Uang Tunai
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.