Tanpa Perbaikan HPP, Penyerapan Gabah Petani Bakal Gagal

Jumat, 15 Mar 2024, 00:03 WIB

JAKARTA - Sikap pemerintah yang bersikukuh mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah di bawah harga produksi di tingkat petani diyakini akan membuat upaya pemerintah menyerap hasil panen bakal gagal. Hal itu karena petani akan menahan gabahnya dan tidak menjual dengan harga rugi.

Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, mengakui kalau harga gabah di tingkat petani sudah mulai turun karena sudah mulai masuk masa panen raya dan impor beras yang terus dilakukan pemerintah.

Ket. Foto: M QOMARUNNAJMI Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi SPI - Pemerintah gagal melakukan penyerapan panen petani dan tidak bisa mengisi cadangan beras pemerintah (CBP) dan impor beras akan berulang lagi. — Sumber: ISTIMEWA

Untuk sekarang ini, jelas Qomar, harga masih di atas biaya produksi petani. "Tren penurunan ini sangat mungkin akan terus terjadi sampai di bawah biaya produksi petani," tegasnya.

Tanpa penyesuaian HPP gabah, kejadian yang sekarang terjadi akan terulang lagi.

"Pemerintah gagal melakukan penyerapan panen petani dan tidak bisa mengisi cadangan beras pemerintah (CBP) dan impor beras akan berulang lagi di waktu mendatang," kata Qomar.

Penyesuaian HPP dengan biaya produksi petani akan memastikan keuntungan untuk petani yang mendesak dilakukan untuk memastikan penyerapan panen petani dalam jangka pendek dan dalam jangka panjang. Jika demikian, pemerintah akan mampu menstabilkan harga pangan serta menjaga semangat petani untuk memacu produktivitas.

Dari Yogyakarta, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, mengatakan penurunan harga gabah kering tentu saja akan mengurangi pendapatan petani. Namun demikian, penurunan harga juga bisa dianggap positif jika diimbangi dengan peningkatan produksi atau akses yang lebih baik ke pasar, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang.

"Dari perspektif konsumen, penurunan harga GKP bisa dianggap sebagai berita baik karena dapat mengakibatkan penurunan harga bahan pangan akhir, seperti beras, yang dapat mengurangi tekanan inflasi dan meningkatkan daya beli masyarakat. Maka demikian, perlu diingat bahwa stabilitas harga ini tidak boleh dianggap sebagai indikator tunggal keberhasilan dalam sektor pertanian," papar Maruf.

Menurut Maruf, penting untuk terus memperhatikan faktor-faktor lain, seperti produktivitas, keberlanjutan lingkungan seperti daya dukung pengairan, serta kesejahteraan petani secara keseluruhan dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan sektor pertanian secara berkelanjutan.

Mulai Turun

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebutkan bahwa rata-rata nasional harga gabah kering panen (GKP) mulai menunjukkan stabilitas setelah memasuki masa panen raya padi di berbagai daerah di Indonesia.

Deputi bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Bapanas, Nyoto Suwignyo, dalam keterangan di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa rata-rata harga gabah kering panen (GKP) mulai stabil tercatat turun menjadi 6.820 rupiah per kg setelah sebelumnya mencapai di atas 8.000 rupiah per kg.

"Saat ini telah memasuki masa panen, di beberapa wilayah sentra padi khususnya, harga gabah di tingkat petani ini secara perlahan-lahan sedang mengalami penurunan sejak Februari," ujar Nyoto.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

Coba Lerai Perkelahian, Dua Polisi Dikeroyok Masa saat Karnaval di Blora

Gubernur Pramono Sebut Keluarga Kuat dan Masyarakat Peduli Jadi Kunci Kerukunan Jakarta

Dua Anggota Polisi Jadi Korban Pengeroyokan saat Karnaval HUT RI di Blora

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.