Studi: 1 Miliar Lebih Penduduk Dunia Menderita Obesitas

Jumat, 01 Mar 2024, 09:13 WIB

PARIS - Lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia kini menderita obesitas dan jumlahnya meningkat lebih dari empat kali lipat sejak 1990, menurut sebuah penelitian yang dirilis oleh jurnal medis Lancet.

Epidemi ini terutama melanda negara-negara miskin dan angkanya meningkat lebih cepat di kalangan anak-anak dan remaja dibandingkan orang dewasa, menurut penelitian yang dilakukan bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ket. Foto: Angka obesitas di kalangan anak-anak dan remaja meningkat lebih cepat dibandingkan orang dewasa, menurut penelitian yang dilakukan bersama WHO. — Sumber: YAHOO/AFP/JEFF HAYNES

Penelitian yang dirilis menjelang Hari Obesitas Sedunia pada tanggal 4 Maret ini memperkirakan terdapat sekitar 226 juta orang dewasa, remaja, dan anak-anak yang mengalami obesitas di dunia pada 1990. Angka tersebut meningkat menjadi 1.038 juta pada 2022.

Francesco Branca, direktur nutrisi untuk kesehatan di WHO, mengatakan kenaikan angka kematian melebihi satu miliar orang terjadi "jauh lebih awal dari yang kita perkirakan".

Meskipun para dokter mengetahui bahwa angka obesitas meningkat dengan cepat, angka simbolis tersebut sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2030.

Para peneliti menganalisis pengukuran berat dan tinggi badan lebih dari 220 juta orang di lebih dari 190 negara untuk mencapai perkiraan tersebut, kata Lancet.

Mereka memperkirakan 504 juta perempuan dewasa dan 374 juta laki-laki mengalami obesitas pada 2022. Studi tersebut menyebutkan angka obesitas pada laki-laki meningkat hampir tiga kali lipat (14 persen) sejak 1990 dan lebih dari dua kali lipat pada perempuan (18,5 persen).

Menurut penelitian tersebut, sekitar 159 juta anak-anak dan remaja hidup dengan obesitas pada 2022, naik dari sekitar 31 juta pada 1990.

Penyakit kronis dan kompleks ini disertai dengan risiko kematian yang lebih besar akibat penyakit jantung, diabetes, dan kanker tertentu.Kelebihan berat badan meningkatkan risiko kematian selama pandemi virus corona.

Negara-negara di Polinesia dan Mikronesia, Karibia, Timur Tengah, dan Afrika Utara adalah negara yang paling menderita akibat kenaikan ini.

"Negara-negara ini kini memiliki tingkat obesitas yang lebih tinggi dibandingkan banyak negara industri berpendapatan tinggi, khususnya di Eropa," kata studi tersebut.

"Dulu kita cenderung menganggap obesitas sebagai masalah orang kaya, sekarang menjadi masalah dunia," kata Branca, yang menyoroti perubahan gaya hidup yang cepat di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Pola Makan Buruk

"Transformasi sistem pangan yang sangat cepat tidak menjadi lebih baik".

Majid Ezzati dari Imperial College London, penulis utama studi tersebut, mengatakan ada tanda-tanda obesitas mulai menurun di beberapa negara Eropa selatan seperti Prancis dan Spanyol, "terutama bagi perempuan".

Namun dia mengatakan, di sebagian besar negara, terdapat lebih banyak orang yang menderita obesitas dibandingkan dengan orang yang kekurangan berat badan, yang menurut penelitian telah menurun sejak 1990.

Meskipun kurang makan adalah penyebab utama berat badan kurang, pola makan yang buruk adalah faktor utama terjadinya obesitas.

"Studi baru ini menyoroti pentingnya mencegah dan mengelola obesitas sejak awal hingga dewasa, melalui pola makan, aktivitas fisik, dan perawatan yang memadai, sesuai kebutuhan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Dia menambahkan, "kembali ke jalur yang benar" untuk memenuhi target global dalam mengurangi tingkat obesitas "membutuhkan kerja sama dari sektor swasta, yang harus bertanggung jawab atas dampak kesehatan dari produk mereka".

WHO telah mendukung pajak atas minuman manis, membatasi pemasaran makanan tidak sehat kepada anak-anak, dan meningkatkan subsidi untuk makanan sehat.

Para ahli mengatakan pengobatan baru terhadap diabetes juga dapat membantu memerangi obesitas.

Branca mengatakan obat baru ini "merupakan alat yang penting namun bukan solusi dari masalah".

"Obesitas adalah masalah jangka panjang dan penting untuk melihat dampak obat-obatan ini terhadap efek atau efek samping jangka panjang," katanya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.