Publik Prihatin dengan Menurunnya Kualitas Demokrasi

Jumat, 09 Feb 2024, 14:46 WIB

JAKARTA - Para guru besar di kampus-kampus ternama secara bergelombang menyampaikan seruan moral yang menyoroti demokrasi Indonesia.

"Seruan para guru besar menujukkan merosotnya kualitas demokrasi di Indonesia. Ada keprihatinan publik termasuk orang-orang kampus terhadap kualitas demokrasi kita," tegas pengamat Komunikasi Politik Universitas Binas Nusantara (Binus) Malang, Frederik M. Gasa, menanggapi pernyataan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Wawan Mas'udi, yang menyoroti menurunnya kualitas demokrasi.

Ket. Foto: Ilustrasi - Kontestasi Pemilu 2024 ini, publik dihadapkan dengan berbagai macam isu yang melahirkan diskusi dan perdebatan di ruang-ruang publik, belakangan tentang menurunnya kualitas demokrasi. — Sumber: KORAN JAKARTA/ISTIMEWA

Frederik mengatakan momentum pemilihan umum (pemilu) selalu menghadirkan cerita yang menarik untuk diikuti. Pada kontestasi Pemilu 2024 ini, publik dihadapkan dengan berbagai macam isu yang melahirkan diskusi dan perdebatan di ruang-ruang publik. Beberapa hari terakhir terkait isu menurunnya kualitas demokrasi

Namun dari banyak hal yang tersaji itu, masyarakat harus dapat memilah dan memilih apa saja yang relevan dan patut dipercayai. Preferensi politik sudah diputuskan masing-masing, tetapi yang menjadi soal adalah apakah benar demokrasi warnanya seperti ini?

"Hal inilah yang kemudian direspons oleh Dekan Fisipol UGM yang melihat bahwa 14 Februari 2024 akan menjadi pertaruhan terakhir kualitas demokrasi di Indonesia. Bagi saya, yang patut diapresiasi adalah masyarakat menjadi lebih partisipatif. Ada semangat yang sama untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik," ucap Frederik.

Dia menjelaskan, setiap pasangan calon presiden dan wapres punya tujuan yang sama meski dengan pendekatan dan strategi yang berbeda. Demokrasi menyoal keterwakilan, dan masyarakat harus mampu meyakini bahwa mereka terwakilkan melalui ketiga pasangan calon yang ada.

Layaknya negara demokrasi, intrik dan drama adalah hal lumrah. Pada level akar rumput, masyakarat pun tidak perlu terlalu terbawa perasaan, karena sesungguhnya apa yang kita amati pada berbagai media, tentang silih argumen dan saling serang adalah panggung depan saja.

"Banyak hal, kenyataannya mungkin berbeda dan berlawanan pada panggung belakangnya. Yang paling penting adalah bagaimana rasa dan akal kita gunakan dengan baik dan bijak," urainya.

Diketahui, proses pemungutan suara Pemilu 2024 menjadi pertaruhan terakhir dalam mempertahankan kualitas demokrasi di Indonesia yang merupakan salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Dekan FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Wawan Mas'udi (Koran Jakarta, 9/2) mengatakan, sebagai upaya mempertahankan kualitas demokrasi, maka proses pemungutan dan perhitungan suara pada 14 Februari 2024 harus benar-benar dipastikan bersih, transparan, dan akuntabel.

"Saya kira akan menjadi upaya terakhir mempertahankan kualitas demokrasi dan ini tentu menjadi catatan sangat tebal, problem-problem proses elektoral sekarang yang sedang kita lewati," papar Wawan dalam diskusi "Pojok Bulaksumur" di Kampus UGM, Sleman, DIY, Rabu (7/2) seperti dikutip dari Antara.

Dia menekankan hal itu mengingat dalam rangkaian proses Pemilu 2024 telah muncul kasus pelanggaran etika oleh Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman disusul Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari.

"Kalau sampai itu (pelanggaran) terjadi lagi mekanisme-mekanisme yang mengarah atau praktik-praktik yang mengarah kepada kecurangan, berat kita untuk bisa mengklaim sebagai negara dengan ukuran-ukuran demokrasi meskipun itu standar," katanya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.