Piala Afrika: Mesir Singkirkan Juara Bertahan Pantai Gading, Nigeria Tantang Maroko di Semifinal

Minggu, 11 Jan 2026, 06:33 WIB

MARRAKESH, MAROKO – Mesir yang dipimpin Mohamed Salah menyingkirkan juara bertahan Pantai Gading dari ajang Piala Afrika (AFCON) setelah menang dramatis 3-2 pada laga perempat final, Minggu (11/1) dini hari WIB. Di pertandingan lainnya, Victor Osimhen tampil gemilang saat Nigeria menundukkan Aljazair 2-0 untuk memastikan duel semifinal melawan tuan rumah Maroko.

Bertanding di Agadir, laga delapan besar antara Mesir dan Pantai Gading berlangsung sengit. Omar Marmoush dan Ramy Rabia membawa Mesir unggul dua gol di babak pertama. Namun, gol bunuh diri Ahmed Aboul-Fetouh membuka peluang kebangkitan Pantai Gading.

Ket. Foto: Pemain Mesir Mohamed Salah menembak bola ke gawang Pantai Gading dalam laga Piala Afrika Minggu (11/1) dini hari WIB. — Sumber: AFP

Mesir kembali menjauh lewat gol Mohamed Salah di awal babak kedua. Pantai Gading sempat menipiskan jarak melalui Guela Doue, tetapi Mesir mampu mempertahankan keunggulan hingga laga usai. Di semifinal, Mesir akan menghadapi Senegal pada Rabu mendatang di Tangiers.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pemain. Mereka adalah orang Mesir sejati yang berjuang demi kebahagiaan rakyatnya,” ujar pelatih Mesir, Hossam Hassan.

Kekalahan ini memperpanjang kutukan juara bertahan di Piala Afrika. Pantai Gading menjadi tim kedelapan secara beruntun yang gagal mempertahankan gelar sejak Mesir terakhir kali melakukannya pada 2010.

Mesir juga menegaskan dominasi historis mereka atas Pantai Gading. Sejak pertemuan pertama kedua negara 56 tahun lalu, Mesir kini telah meraih 11 kemenangan, sementara Pantai Gading hanya sekali menang.

Bagi Salah, gelar Piala Afrika masih menjadi kepingan prestasi yang belum lengkap. Bersama Liverpool, penyerang berusia 33 tahun itu telah memenangi Liga Inggris, Piala FA, Piala Liga, Liga Champions, hingga Piala Dunia Antarklub dalam format lama.

Namun di level Afrika, ia dua kali harus puas sebagai runner-up setelah Mesir kalah di final AFCON 2017 dari Kamerun dan final 2021 dari Senegal. Salah juga sempat menjadi bagian dari tim Mesir yang tersingkir mengejutkan di babak 16 besar dalam dua edisi berbeda.

Kini, Salah tinggal berjarak dua pertandingan dari impiannya membawa Mesir meraih gelar Piala Afrika kedelapan, yang akan memperpanjang rekor mereka sebagai negara tersukses di turnamen ini.

Salah datang ke Maroko untuk turnamen akbar Afrika tersebut dengan situasi masa depan yang belum pasti di Liverpool, menyusul luapan emosinya usai hasil imbang kontra Leeds United. Namun di AFCON, ia tampil tajam dengan mencetak gol penentu kemenangan melawan Zimbabwe dan Afrika Selatan di fase grup, serta gol yang mengantar Mesir menyingkirkan Benin di babak 16 besar.

Gol ke gawang Pantai Gading menjadi gol keempat Salah di turnamen ini.

Jumlah gol Salah itu menyamai koleksi Victor Osimhen, yang mencetak satu gol dan satu assist saat Nigeria mengakhiri langkah Aljazair di laga pertama hari itu di Marrakesh.

Nigeria mendominasi babak pertama tanpa mencetak gol. Kebuntuan pecah hanya dua menit setelah babak kedua dimulai, ketika Osimhen menyundul umpan silang Bruno Onyemaechi.

Pemain Terbaik Afrika 2023 itu kemudian berperan sebagai kreator gol kedua menjelang satu jam pertandingan berjalan. Umpannya dimanfaatkan Akor Adams, yang melewati kiper Aljazair sebelum menceploskan bola ke gawang.

“Selamat yang sebesar-besarnya untuk seluruh tim atas performa luar biasa melawan tim Aljazair yang sangat kuat,” ujar Osimhen setelah menerima penghargaan pemain terbaik laga.

“Saya hanya melakukan tugas saya, berjuang untuk tim, mencetak gol atau memberi assist. Tapi seluruh skuad pantas mendapatkan pujian.”

Nigeria, yang menjadi runner-up pada AFCON edisi sebelumnya dua tahun lalu di Pantai Gading, datang ke Maroko dengan ambisi besar meski masih terluka akibat kegagalan lolos ke Piala Dunia mendatang. Kini, Super Eagles bermimpi meraih gelar Piala Afrika keempat mereka.

Mereka tidak gentar menghadapi dukungan mayoritas penonton di Marrakesh, sebanyak 32.452 suporter, yang hampir sepenuhnya memihak Aljazair. Namun, atmosfer dipastikan akan jauh lebih panas saat Nigeria menghadapi Maroko di semifinal, Rabu, di Rabat.

“Maroko adalah tim yang hebat. Bermain sebagai tuan rumah tidak mudah karena tekanannya besar,” kata pelatih Nigeria, Eric Chelle.

“Saya hanya berharap ini menjadi pertandingan besar antara dua tim besar, dan tim terbaik yang menang.”

Aljazair sebelumnya pernah menyingkirkan Nigeria dalam perjalanan menuju gelar Piala Afrika 2019 di Mesir. Turnamen kali ini menjadi penampilan terbaik mereka sejak saat itu, dengan dukungan besar suporter yang memadati stadion berlatar Pegunungan Atlas.

Namun pelatih Aljazair, Vladimir Petkovic, mengakui timnya kalah kelas.

“Nigeria pantas memenangkan pertandingan ini. Mereka memang lebih baik dari kami,” ujarnya, seraya menggambarkan kondisi timnya “seperti petinju yang terus menerima pukulan saat sudah terjatuh.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.