“Kamikaze' Bantu Gagalkan Invasi Mongol ke Jepang
Rabu, 07 Feb 2024, 06:10 WIBMeski beberapa kali kalah, pasukan Mongol terus berusaha menguasai Jepang oleh alasan kaya emas. Pada invasi terakhir mengalami kegagalan total karena pasukan samurai dibantu oleh alam berupa badai yang disebut dengan "kamikaze" atau angin ilahi.
Invasi Mongol ke Eropa tengah dan timur di bawah kepemimpinan Jenghis Khan, berhasil mendirikan Kekaisaran Mongol. Penaklukan Mongol di Tiongkok berlangsung selama 70 tahun, dari Jenghis Khan hingga berdirinya Dinasti Yuan (Mongol) oleh Kubilai Khan. Penaklukan Tiongkok menandai pergeseran konseptual dari nomadisme ke imperialisme.
Setelah pengepungan Kaifeng pada 1232 mengakhiri Dinasti Jin, bangsa Mongol terus maju melawan Dinasti Song di selatan. Upaya ini terhalang oleh rintangan dan menghadapi tantangan angkatan laut. Namun kapal-kapal Song berhasil direbut.
Pengepungan Mongol yang berkepanjangan di Xiangyang dan pertempuran berikutnya menyebabkan jatuhnya ibu kota Song di Hangzhou pada 1276. Pertempuran laut pada 1279 melenyapkan sisa-sisa terakhir dinasti tersebut.
Belum puas menaklukan Tiongkok, bangsa Mongol menginvasi Korea pada 1231. Para penghuni istana kerajaan dari Dinasti Goryeo kemudian mencari perlindungan di Pulau Ganghwa di barat laut Seoul. Ini menandai pertama kalinya dalam sejarah penaklukan Mongol menghadapi penghalang laut meski tidak berhasil melumpuhkan Raja Goryeo.
Perubahan politik di Korea pada 1258 menguntungkan bangsa Mongol. Perlawanan dari Ganghwa, yang dikendalikan oleh faksi anti-Mongol, melemah. Keluarga kerajaan Korea memanggil pasukan Mongol untuk menggulingkan para pemberontak pada 1270, yang menyebabkan para pemberontak melarikan diri ke Pulau Jeju.
Aliansi yang strategis pada 1273 mengukuhkan bangsa Mongol sebagai penguasa. Dalam setahun, raja Korea menyaksikan komando tentara dan sumber daya angkatan laut negaranya dikuasai oleh bangsa Mongol untuk proyek maritim mereka yang ambisius yaitu invasi ke Jepang.
Setelah menaklukkan Korea, Khubilai Khan berusaha memperluas hegemoninya ke Jepang pada 1271. Saat itu Jepang telah mempertahankan kebijakan isolasi selama lebih dari 70 tahun dengan tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Tiongkok dan Korea.
Sampai sekarang motivasi di balik invasi Kubilai Khan ke Jepang pada tahun 1274 masih menjadi spekulasi sejarah. Saudagar dan penjelajah Venesia, Marco Polo, menunjukkan cadangan emas sejak penemuannya tambang pada 749 Masehi menjadi daya tariknya.
Reputasi Jepang di luar negeri diperkuat oleh kemampuannya mengirimkan emas dalam jumlah besar ke Tiongkok pada masa Dinasti Song. Legenda Jepang sebagai "negeri emas" mungkin mempengaruhi keputusan Kubilai Khan untuk menaklukkan pulau tersebut.
Untuk menaklukkan Jepang, Kubilai Khan pada awalnya melakukan pendekatan diplomatis. Upaya diplomasi Mongol melawan Jepang difasilitasi melalui tekanan terhadap istana Korea untuk membawa pesan. Pendekatan ini memperkuat kendali Mongol atas Korea. Jika cara damai gagal, menempatkan Korea yang tunduk sebagai basis invasi.
Strategi yang Dinamis
Pada awal November 1274, Kublai Khan mengumpulkan armada tangguh yang terdiri dari sekitar 800-900 kapal dan melancarkan invasi dari Korea hingga Jepang. Armada tersebut membawa pasukan yang terdiri dari bangsa Mongol dan wajib militer Tiongkok dan Korea.
Jumlah pasukan gabungan tersebut diperkirakan antara 16.600 dan 40.000 orang.
Meskipun Jepang telah mengantisipasi serangan ini, pasukan pertahanan mereka yang hanya berjumlah antara 4.000 dan 6.000 orang, harus menghadapi tantangan melawan pasukan Mongol yang jumlahnya lebih banyak dengan persenjataan lebih baik.
Keberhasilan militer bangsa Mongol disebabkan oleh strategi medan perang yang dinamis, kavaleri yang disiplin, dan penggunaan senjata yang efektif, apalagi mereka juga memanfaatkan mesiu yang digunakan pertama kali muncul di luar Tiongkok.
Tentara Mongol juga memperkenalkan taktik yang asing, maju dengan berjalan kaki dalam kelompok besar dengan perisai, genderang, dan kebisingan. Di Jepang, bangsa Mongol membakar tempat tinggal. Mereka memilih untuk tidak bermalam di pantai dan kembali ke kapal mereka setelah melakukan penyerangan dengan alasan masalah pasokan.
Para penjajah Mongol mundur ke teluk pada 20 November, sebuah keputusan yang terbukti menentukan. Laporan menunjukkan badai hebat melanda, menewaskan sebagian besar tentara Mongol dan merusak armada.
Akhirnya pasukan Mongol terpaksa mundur kembali ke Korea, invasi 1274 berakhir. Masyarakat Jepang menganggapnya sebagai kemenangan, menghubungkan perlindungan ilahi dengan adanya perubahan arah angin yang terjadi.
Invasi kedua armada Kubilai Khan menandai peningkatan ukuran yang signifikan dibandingkan armada pertama, terdiri dari 4.400 kapal dan sekitar 100.000 prajurit, campuran prajurit Mongol, Tiongkok, dan Korea.
Pertempuran laut yang sengit terjadi di dekat Takashima pada 12 Agustus. Anehnya, hanya ada sedikit laporan orang Jepang mengenai pertempuran ini. Jepang mundur saat fajar kapal perang kecil Jepang dianggap bukan tandingan kapal Mongol, sehingga menimbulkan ketakutan yang meluas.
Namun, sekali lagi, "kuasa alam" ikut campur ketika topan pada 14 Agustus mendatangkan malapetaka. Angin kencang, yang dipicu oleh angin utara, menghantam armada Mongol saat mereka berlayar sekitar empat mil, menyebabkan tabrakan dan kehancuran di antara kapal-kapal, yang menyebabkan invasi terhenti. Badai tersebut, yang kemudian diberi nama "kamikaze" atau angin ilahi. hay/I-1
Berita Terkait:
-
Mengenang 100 Jam Penataran P4 Pancasila
-
Inter Milan Masih di Puncak Klasemen walau Main Imbang dengan Napoli 2-2
-
Shai Gilgeous-Alexander dan Jalen Brunson Dinobatkan sebagai Pemain Terbaik NBA Desember 2025
-
Pipa Gas PT TGI Meledak di Inderagiri Hilir, 10 Orang Terluka
-
Pemkot Surabaya Hentikan Layanan Kependudukan bagi Ayah yang Terlantarkan Anak dan Hak Mantan Istri
-
BPBD DKI Jakarta: Banjir Rob Terjadi di Kepulauan Seribu
-
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Prabowo: Ini Pertama Kali dalam Sejarah Bangsa Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.