• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Dukung LGBT, Ed Sheeran Te...

Dukung LGBT, Ed Sheeran Terancam Batal Konser di Malaysia

Sabtu, 03 Feb 2024, 14:42 WIB

SINGAPURA - Penyanyi dan penulis lagu asal Inggris Ed Sheeran terancam dilarang menggelar konser di Malaysia. Ulama negara itu menyerukan larangan artis-artis yang mendukung komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

Fraksi ulama dari Partai Islam Parti Islam Se-Malaysia (PAS), serta mufti Penang, dalam beberapa hari terakhir meminta pemerintah memblokir konser Sheeran, yang dijadwalkan pada 24 Februari di Stadion Nasional Bukit Jalil di Kuala Lumpur.

Ket. Foto: Penampilan Ed Sheeran di Auckland, Selandia Baru. — Sumber: CNA/Facebook/Ed Sheeran

Para analis mengatakan, langkah PAS - yang merupakan pengulangan larangan konser band Inggris Coldplay di Malaysia pada November lalu - kemungkinan akan meningkatkan basis pemilih konservatif, bahkan jika kemungkinan konser dibatalkan sangat kecil.

Dalam pernyataannya pada Kamis (1/2), Ketua Ulama PAS Ahmad Yahaya meminta pemerintah "mengambil sikap tegas dengan membatalkan konser artis Barat saat umat Islam menyambut bulan Ramadhan".Tahun ini, bulan puasa umat Islam diperkirakan akan dimulai pada 12 Maret.

"Yang lebih miris lagi… artis yang diundang memiliki latar belakang (mendukung) ideologi LGBT yang ditolak mentah-mentah oleh Malaysia," ujarnya.

Fraksi ulama PAS telah berulang kali mengatakan artis-artis Barat yang pro-LGBT "tidak boleh diizinkan tampil di negara ini", tambahnya.

Partai tersebut juga pernah melobi agarkonser Coldplay di Malaysia tahun lalu dibatalkan.

Sebagai tanggapan atas konser girl grup Korea BLACKPINK dan penyanyi Amerika Billie Eilish, partai tersebut mendesak pemerintah untuk mengendalikan meningkatnya jumlah konser dan pertunjukan yang diadakan oleh artis asing.

"Kegaduhan konser Ed Sheeran - dan konser Coldplay sebelumnya - mencerminkan strategi oposisi yang menggunakan isu-isu etnoreligius seperti (masalah) LGBT untuk menyerang pemerintahan saat ini.(Hal ini) hanya memperburuk polarisasi yang terjadi di negara ini saat ini," kata Dr Azmil Mohd Tayeb, ilmuwan politik di Universiti Sains Malaysia.

Dr Syaza Shukri, kepala departemen ilmu politik di Universitas Islam Internasional Malaysia, mengatakan langkah PAS adalah "konfirmasi" kepada basis pemilih konservatif yang sebagian besar berlokasi di luar ibu kota negara, bahwa partai tersebut setia pada perjuangannya.

"Sebagian besar yang menyerukan pembatasan adalah mereka yang tinggal di luar Kuala Lumpur dan Selangor.(Pembatalan konser ini tidak terlalu) berdampak pada mereka, oleh karena itu lebih mudah untuk meminta intervensi pemerintah (untuk membatalkan konser)," ujarnya kepada CNA.

Menanggapi masalah ini, Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil mengatakan Jumat lalu bahwa Badan Pusat Permohonan Pembuatan Film dan Pertunjukan Artis Asing (PUSPAL) dan Departemen Perkembangan Islam Malaysia (JAKIM) sudah meninjau permohonan konser Sheeran sebelum dia diberi izin konser.

Jika ada kebutuhan untuk merevisi persetujuan tersebut, pemerintah akan mempertimbangkan masalah tersebut sesuai dengan pedoman yang berlaku saat ini, kata Fahmi dalam sambutannya yang dilansir Malay Mail.

Namun Ahmad mengatakan PUSPAL harus menerapkan persyaratan yang lebih ketat untuk memastikan tidak ada elemen LGBT yang menyusup ke negara ini melalui artis asing.

Homoseksualitas adalah kejahatan di Malaysia yang mayoritas penduduknya Muslim, dan band asal Inggris, The 1975, memicu kontroversi pada bulan Juli lalu ketika vokalis Matty Healy mengkritik undang-undang anti-LGBT di negara tersebut dan mencium seorang pria rekan bandnya di atas panggung pada Good Vibes Festival.

Menyusul insiden tersebut, pemerintah Malaysia menginstruksikan penyelenggara konser untuk membuat kill switch (tombol mati) yang akan menghentikan konser secara instan dengan memutus aliran listrik.

Upaya terbaru untuk memblokir konser Sheeran dapat menghalangi artis asing lainnya untuk maju, kata Dr Azmil dari Universiti Sains Malaysia.

"Pihak oposisi tahu bahwa peluang mereka untuk memaksa pembatalan konser sangat kecil namun kontroversi yang dibuat-buat akan berdampak buruk pada artis yang berencana mengadakan konser di Malaysia di masa depan," katanya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: CNA

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.