Konsumsi dan Investasi Jadi Mesin Pertumbuhan 2024
Kamis, 01 Feb 2024, 11:14 WIBJAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai peningkatan konsumsi dan investasi diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi tahun ini. Bank sentral memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2024 tumbuh sebesar 4,7-5,5 persen, dengan kondisi stabilitas terjaga baik dari sisi internal maupun eksternal.
"Dari angka-angka proyeksi kami, komposisi dari pertumbuhan ekonomi nanti akan berasal dari permintaan domestik. Untuk itu, Indonesia harus bisa menjaga konsumsi dan investasi," kata Deputi Gubernur BI, Aida S Budiman dalam acara peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2023 di Jakarta, Rabu (31/1).
Dia menuturkan Indonesia perlu memastikan pertumbuhan ekonomi terus berada dalam tren meningkat. Sementara, untuk menjaga optimisme terhadap perekonomian 2024 dibutuhkan sinergi guna menjaga ketahanan dan kebangkitan perekonomian nasional.
Dalam jangka menengah, prospek perbaikan ekonomi nasional akan terus berlanjut dengan stabilitas yang tetap terjaga sehingga mendukung kebangkitan ekonomi nasional menuju Indonesia Maju. Sementara, perekonomian Indonesia 2023 tetap tumbuh baik dan berdaya tahan di tengah perlambatan global dan ketidakpastian tinggi.
Tantangan ekonomi global pada 2023 meliputi antara lain pertumbuhan ekonomi yang lemah dan disertai divergensi, penurunan inflasi lambat, suku bunga tinggi dalam waktu lama, arus modal keluar dari negara berkembang (emerging markets and developing economies/EMDEs) serta nilai tukar dolar AS tetap kuat.
Pada 2023 pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung oleh permintaan domestik dan diperkirakan berada dalam kisaran 4,5 sampai 5,3 persen. Posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi 146,4 miliar dolar AS pada akhir Desember 2023.
"Pertumbuhan ekonomi kita baik mungkin sekitar 5 persen. Inflasi terjaga. Sektor eksternal juga bagus, 146,4 miliar dolar AS cadangan devisa kita, dan tentunya ini menjaga nilai tukar kita yang terapresiasi," tuturnya.
Penguatan Hilirasi
Lebih lanjut, Aida menyatakan penguatan hilirisasi pangan dan minerba mendukung pertumbuhan dan ekonomi inklusif. Kebijakan hilirisasi pangan dan minerba merupakan langkah strategis untuk memperkuat upaya meningkatkan nilai tambah dan produktivitas serta mendukung stabilitas perekonomian.
Selain menjaga ketahanan pangan, Aida menuturkan hilirisasi pangan juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas industri makanan dan minuman, dan menambah penyerapan tenaga kerja. Strategi penguatan hilirisasi pangan diarahkan untuk menjaga stabilitas harga, mendukung pertumbuhan, mendorong ekonomi makin inklusif melalui peningkatan penyerapan tenaga kerja. Sektor pertanian menyerap 30 persen dari tenaga kerja.
Hilirisasi pangan difokuskan pada tujuh komoditas dengan kriteria komoditas yang dapat menjaga inflasi, memiliki dampak pengganda besar, berdaya saing dan bisa menyerap tenaga kerja. Tujuh komoditas tersebut adalah beras, aneka cabai, bawang, perikanan, gula, crude palm oil (CPO) dan rumput laut.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Popularitas Premier League Meningkat 20 Persen di Kalangan Anak Muda Amerika Serikat
-
Bukan Cuma Hiburan, Film Jadi Mesin Uang Baru Jakarta: BI Ungkap Strateginya!
-
Setelah Eksekusi Suntik Mati yang Menyiksa dan Gagal, Terpidana Mati Christa Pike Pulang dari Rumah Sakit dan Harus Kembali ke Penjara
-
Tim Bulu Tangkis Junior Indonesia ke Semifinal Piala Suhandinata Usai Kalahkan UEA 2-0
-
Krisis Energi Eropa Mendorong UE Percepat Transisi Energi Bersih
-
Menkeu Suahasil: APBN Dirancang Fleksibel untuk Respons Kondisi Global
-
Pengakuan Elkan Baggott soal Indonesia Ini Bikin Fans Timnas Tersentuh
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.