Kebangkitan Para Seniman Sudan di Kairo

Sabtu, 20 Jan 2024, 02:15 WIB

Ketika bom pertama meledak di Sudan, Fatima, Mazin, dan Amjad, serta merta meninggalkan kuas, alat musik, dan studio mereka, melepaskan kehidupan yang mereka kenal dan pergi ke negara asing.

Kini di Mesir, mereka berupaya menghadirkan kembali pemandangan dan suara dari rumah yang telah lama hilang kepada sekitar seratus penonton, hanya sepelemparan batu dari Tahrir Square yang ikonis di Kairo.

Ket. Foto: Seniman Sudan | Fatima Ismail, seorang seniman visual asal Sudan, memandang ke salah satu karya sketsanya saat ia mengikuti sebuah ajang pameran seni di Kairo, Mesir, pada 26 November lalu. Akibat kecamuk perang, para seniman asal Sudan berupaya bangkit dengan menggelar pameran seni di negara asing.  — Sumber: AFP/Ahmed HASAN

Mazin Hamid adalah seorang selebritas di kampung halamannya, Khartoum, yang pernah menggemparkan penonton dengan lagu-lagu lokalnya di sebuah konser yang mengiringi sebuah pameran.

Ketika perang pecah di negara asalnya pada April lalu, Mazin sedang berada di bawah tenggat waktu yang ketat untuk memproduksisoundtrackuntukGoodbye Julia, sebuah produksi film Sudan pertama yang diputar dan mendapat penghargaan di Cannes.

Setelah terbiasa mengalami revolusi, kudeta, dan tindakan keras brutal terhadap aktivis prodemokrasi hanya dalam empat tahun, produser berusia 31 tahun ini mengunci diri di studionya dan terus berkarya.

"Di dinding studio yang kedap suara, saya masih bisa mendengar sesekali suara tembakan yang sporadis," kata Mazin kepadaAFPdi Kairo. Namun ketika suara jet tempur menerobos dinding itu, Mazin tersadar bahwa keadaannya telah semakin serius.

Jam-jam pertempuran berubah menjadi hari-hari dan bulan-bulan, dan perang antara tentara dan pasukan paramiliter mulai mencengkeram sebagian besar negara yang sudah miskin ini dan tidak ada tanda-tanda akan mereda.

Jumlah korban akibat perang di Sudan menurut perkiraan yang paling konservatif dari Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata mencapai lebih dari 13.000 orang tewas. Sementara di wilayah barat Darfur, PBB dan pengacara internasional telah memperingatkan bahwa gelombang pembersihan etnis lainnya sedang terjadi.

Dengan jutaan orang yang mengungsi, wabah penyakit di seluruh negeri, dan terhentinya musim panen pertanian, Sudan kini amat terpuruk. Dan seperti jutaan orang lainnya, Mazin tahu bahwa ia harus pergi. Dia melarikan diri, meninggalkan seluruh instrumen dan perlengkapannya, agar tidak menarik perhatian di pos pemeriksaan yang didirikan oleh tentara dan pejuang paramiliter di seluruh kota.

Sementara itu Fatima Ismail menuturkan bahwa ia pada awalnya terpaksa harus mengurung dan berdiam diri di apartemennya karena takut terhadap pasukan paramiliter yang ditempatkan di lantai bawah di mana karya seni yang menggambarkan kehidupannya di pengasingan, dipajang. Ia merasa ngeri karena sejak hari-hari awal perang tersebar cerita tentang kekerasan seksual mengerikan yang dilakukan oleh para anggota pasukan paramiliter itu.

Fatima akhirnya berhasil melarikan diri, menarik keluarganya ke minibus pertama yang mereka temukan, melaju melewati lingkungan yang hancur. "Saya harus pergi tanpa peralatan apa pun. Tuhan dan gambar menyelamatkan saya," kata Fatima yang dikelilingi oleh karya seninya sementara musik dari sesama seniman diputar di sekelilingnya.

Sumpah untuk Kembali

Di antara mereka adalah Amjad Badr, 28 tahun, yang juga meninggalkan instrumen dan studionya di Sudan. "Saya sedang bermain gitar yang dipinjamkan seorang teman kepada saya," kata Amjad kepadaAFPpada pertemuan di Kairo.

Setelah perjalanan panjang ke Mesir dan 11 hari ia lewatkan untuk tidur, Amjad akhirnya menemukan jalan kembali ke dunia musik.

"Sangat penting bagi saya untuk mengungkapkan semua yang telah saya lalui," kata dia. "Sentimen tersebut lazim di kalangan seniman Sudan di Kairo, begitu juga di Nairobi atau di Ethiopia," imbuh dia, merujuk pada beberapa tujuan di mana lebih dari 1,5 juta orang Sudan telah mengungsi.

Juga pada pameran di Kairo itu ada seniman bernama Hashim Nasr yang menampilkan foto-foto bergaya yang mewakili anggota keluarga yang hilang. Mantan dokter gigi berusia 33 tahun ini membuat rumah baru di kota pesisir Alexandria, tempat ia kembali melakukan aktivitas fotografi.

Namun di sana, Hashim mengatakan kepadaAFP, dia tidak mengenal siapa pun. Tanpa model, akhirnya ia memotret keluarganya sendiri.

Jauh dari rumah dan sangat sadar akan pembantaian yang mereka tinggalkan, Hashim mengatakan sulit menemukan motivasi atau inspirasi.

"Tapi kami akan kembali," dia bersumpah, seolah meyakinkan dirinya sendiri. "Dunia seni benar-benar mulai berkembang sebelum perang, jadi kami akan segera kembali, dan bahkan lebih kuat lagi," tegas dia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.