Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Zimbabwe Dilanda Kekeringan, Puluhan Gajah Mati Kehausan

📅 Sabtu, 09 Des 2023, 08:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Zimbabwe Dilanda Kekeringan, Puluhan Gajah Mati Kehausan Doc: ANTARA/REUTERS/Nyasha Chigono
Ket. Petugas memeriksa gading gajah yang mati di Taman Nasional Hwange, Zimbabwe, 7 Desember 2023.

ZIMBABWE - Puluhan gajah ditemukan mati kehausan di Taman Nasional Hwange yang populer di Zimbabwe ketika negara itu dilanda kekeringan akibat perubahan iklim.

Insiden itu membuat para pegiat konservasi lingkungan khawatir jumlah gajah yang mati akan bertambah karena kekeringan dan fenomena cuaca El Nino ?????? yang ?membuat lubang air menjadi kering.

El Ninomemicu cuaca yang lebih panas dan lebih kering sepanjang tahun, kata ahli cuaca, dan fenomena cuaca global musiman itu menjadi sorotan pada forum COP28 tentang aksi penanganan iklim di Dubai.

Hwange tidak dilintasi aliran sungai yang besar dan hewan-hewan bergantung pada sumur bor bertenaga surya, kata pejabat Otoritas Taman dan Satwa Liar Zimbabwe (Zimparks).

"Kami mengandalkan lubang air buatan karena air permukaan menyusut. Karena gajah sangat bergantung pada air, kami terus mencatat kematian akibat kekeringan ini," kata ahli ekologi Taman Nasional Hwange, Daphine Madhlamoto, kepada Reuters.

Populasi gajah di Hwange mencapai 45.000 ekor dan gajah-gajah dewasa membutuhkan 200 liter air per hari.

Namun, karena sumber air semakin berkurang, pompa air bertenaga surya di 104 sumur bor tidak sanggup menyediakan air yang cukup.



Reuters melihat puluhan bangkai gajah bergelimpangan di dekat lubang air. Pejabat taman nasional itu mengatakan ada gajah yang mati di semak-semak sehingga menjadi santapan singa dan burung pemakan bangkai.

"Taman ini telah menyaksikan dampak dari perubahan iklim. Curah hujan semakin berkurang," kata Madhlamoto.

Musim hujan diZimbabwe berlangsung dari November hingga Maret, tetapi tahun ini hampir tidak ada hujan. Kemarau di sana diperkirakan akan berlanjut hingga 2024, menurut badan meteorologi setempat.

Zimparks mengatakan para hewan terpaksa berjalan jauh untuk mencari air dan makanan, dan beberapa kawanan menyeberang ke Botswana.

Kelompok-kelompok konservasi berusaha menyediakan tambahan air dengan mengeruk lubang dan memompa lebih banyak air melalui sumur bertenaga surya.

Zimbabwe menjadi habitat bagi hampir 100.000 ekor gajah, tetapi kapasitas air di negara itu hanya cukup memberi minum sekitar 50.000 gajah sehingga taman-taman nasional di sana kewalahan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

27 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

36 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.