- Home
-
- Luar Negeri
-
- PBB: Gas Rumah Kaca Mencap...
PBB: Gas Rumah Kaca Mencapai Rekor Tertinggi pada Tahun 2022
Jumat, 17 Nov 2023, 00:00 WIBJENEWA - PBB, pada Rabu (15/11), memperingatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mencapai rekor tertinggi baru pada tahun 2022, dan tren peningkatannya belum terlihat akan berakhir.
Organisasi Meteorologi Dunia PBB atau World Meteorological Organization (WMO) mengatakan tingkat tiga gas rumah kaca utama, yaitu karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida yang menyebabkan pemanasan iklim, semuanya memecahkan rekor tahun lalu.
"Tingkat gas yang memerangkap panas ini berarti peningkatan suhu lebih lanjut, cuaca yang lebih ekstrem, dan permukaan air laut yang lebih tinggi," kata WMO dalam Buletin Gas Rumah Kaca tahunannya yang ke-19.
"Meskipun sudah ada peringatan selama puluhan tahun dari komunitas ilmiah, ribuan halaman laporan, dan puluhan konferensi iklim, kita masih menuju ke arah yang salah," kata Ketua WMO, Petteri Taalas.
Dikutip dari France 24, buletin ini diterbitkan menjelang KTT Iklim PBB Conference of the Parties 28 (COP-28) pada 30 November-12 Desember di Dubai.
Perjanjian Paris tahun 2015 menyatakan negara-negara sepakat untuk membatasi pemanasan global pada "jauh di bawah" dua derajat Celsius di atas tingkat rata-rata yang diukur antara tahun 1850 dan 1900, dan 1,5 Celsius jika memungkinkan.
Tahun Terpanas
Suhu rata-rata global pada tahun 2022 adalah 1,15 Celsius di atas rata-rata suhu pada tahun 1850-1900, dan Taalas mengatakan, tahun 2023 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.
"Tingkat konsentrasi gas rumah kaca saat ini menempatkan kita pada jalur peningkatan suhu jauh di atas target Perjanjian Paris pada akhir abad ini," kata Taalas.
"Hal ini akan disertai dengan cuaca yang lebih ekstrem, termasuk panas dan curah hujan yang tinggi, pencairan es, kenaikan permukaan laut, serta panas dan pengasaman laut. Kerugian sosio-ekonomi dan lingkungan akan melonjak. Kita harus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil sebagai hal yang mendesak," katanya.
Pada tahun 2022, konsentrasi karbon dioksida mencapai 418 bagian per juta, metana sebesar 1.923 bagian per miliar, dan dinitrogen oksida sebesar 336 bagian per miliar.
Nilai-nilai ini masing-masing mencakup 150 persen, 264 persen dan 124 persen dari tingkat pra-industri (sebelum tahun 1750). Dari tiga gas rumah kaca utama, karbon dioksida (CO2) menyumbang sekitar 64 persen dampak pemanasan terhadap iklim.
Menurut WMO, konsentrasi rata-rata CO2 global pada tahun 2022, untuk pertama kalinya, 50 persen lebih tinggi dibandingkan era pra-industri, dan "terus meningkat pada tahun 2023".
"Mengingat umur CO2 yang panjang, tingkat suhu yang telah diamati akan bertahan selama beberapa dekade, bahkan jika emisi dikurangi dengan cepat hingga mencapai nol," kata WMO memperingatkan.
"Tidak ada tongkat ajaib untuk menghilangkan kelebihan karbon dioksida dari atmosfer," tambah Taalas.
Metana di atmosfer merupakan penyumbang terbesar kedua terhadap perubahan iklim, menyumbang sekitar 16 persen dampak pemanasan.
Metana hanya bertahan di atmosfer selama sekitar 10 tahun, namun mempunyai dampak pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan CO2. "Kami tidak sepenuhnya memahami mengapa konsentrasi metana terus meningkat," kata Taalas.
"Untuk oksida nitrat yang menyumbang sekitar tujuh persen dari efek pemanasan peningkatan tahun lalu lebih tinggi dari yang diamati sebelumnya dalam catatan waktu modern kita," kata WMO.
Sekitar 80 persen emisi gas rumah kaca berasal dari negara-negara G20. Meskipun komunitas ilmiah memiliki pemahaman yang luas tentang perubahan iklim dan implikasinya, masih terdapat beberapa ketidakpastian mengenai siklus karbon, dan perubahan yang terjadi di lautan, biosfer daratan, dan kawasan permafrost.
Buletin tersebut menyerukan informasi yang lebih luas mengenai topik-topik tertentu. Hal ini termasuk putaran umpan balik (feedback loops) dalam sistem iklim, misalnya, peningkatan emisi karbon dari tanah atau penurunan serapan karbon oleh lautan akibat perubahan iklim.
WMO juga prihatin dengan apa yang disebut titik kritis, yaitu ketika tingkat perubahan tertentu mengarah pada serangkaian perubahan yang semakin cepat dan berpotensi tidak dapat diubah.
Salah satu contohnya adalah bagaimana sebagian hutan hujan Amazon, yang telah lama menjadi penyerap karbon, kini menjadi sumber emisi karbon akibat deforestasi.
Organisasi tersebut mengatakan diperlukan lebih banyak informasi mengenai gas rumah kaca non-CO2.
Taalas mengatakan ada risiko perang di Ukraina dan Gaza membayangi perubahan iklim. "Yang masih menjadi tantangan terbesar bagi kesejahteraan umat manusia di abad ini," pungkasnya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pemanasan Global Justru Bisa Berujung Zaman Es
-
Eddy Soeparno: Krisis Energi Dunia Momentum Perkuat Ketahanan Energi Nasional
-
Hotel Ciputra Jakarta Resmi Menerima Sertifikasi Chinese Friendly Hotel dari Ctrip
-
Industri Butuh, SDM Belum Siap: Ini Solusi dari Kemnaker
-
Plt Bupati: Warga Bekasi Diingatkan Pakai Masker untuk Cegah Wabah Super Flu
-
Suhu Bumi Cetak Rekor Terpanas 11 Tahun, PBB Serukan Aksi Global
-
Perubahan Sirkulasi Laut Jadi Kunci Pendinginan Periode Glasial Terakhir
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.