Defisit Neraca Transaksi Berjalan pada 2024 Berpotensi Meningkat

Sabtu, 04 Nov 2023, 00:04 WIB

» Higher for longer memicu arus modal keluar dari negara- negara berkembang, termasuk Indonesia.

» Indonesia masih mengejar pertumbuhan dengan konsumsi yang banyak dari impor, sehingga yang menikmati hasilnya negara lain.

Ket. Foto: TEUKU RIEFKY Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI - Mengingat 90 persen dari impor Indonesia adalah bahan baku dan barang modal, depresiasi akan meningkatkan ongkos produksi domestik, membahayakan performa sektor manufaktur yang akan mempengaruhi pertumbuhan investasi ke depan. — Sumber: ISTIMEWA

JAKARTA - Pemerintah diingatkan akan risiko meningkatnya defisit neraca transaksi berjalan pada 2024. Hal itu disebabkan meningkatnya arus modal keluar dan menurunnya kinerja neraca perdagangan Indonesia.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, dalam kajian Indonesia Economic Outlook 2024 berjudul "Transisi Politik di tengah era Higher for Longer" di Jakarta, Jumat (3/11).

Ketatnya pasar tenaga kerja dan masih tingginya inflasi di beberapa negara maju, katanya, mendorong beberapa bank sentral di dunia menjaga tingkat suku bunga tinggi (higher for longer).

"Higher for longer memicu arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menyebabkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS)," kata Teuku.

Laporan terakhir dari Bank Indonesia (BI) juga mencatat aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik pada pada 16 hingga 19 Oktober 2023 mencapai 5,36 triliun rupiah. Sebelumnya, pada 25 hingga 27 September 2023, aliran modal asing keluar dari pasar keuangan domestik tercatat senilai 7,77 triliun rupiah.

Terkait penurunan neraca perdagangan, Riefky mengatakan kalau hal itu karena kebijakan moneter kontraktif berbagai bank sentral di dunia yang memicu perlambatan permintaan global dan menekan harga komoditas, sehingga berpotensi memberikan implikasi lanjutan terhadap Indonesia pada aspek perdagangan, seiring tingginya ketergantungan ekspor nasional terhadap harga komoditas.

"Mengingat 90 persen dari impor Indonesia adalah bahan baku dan barang modal, depresiasi akan meningkatkan ongkos produksi domestik, membahayakan performa sektor manufaktur yang akan mempengaruhi pertumbuhan investasi ke depan," jelas Riefky.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter telah secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas), dan bahkan menaikkan tingkat suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir untuk meredam fluktuasi nilai tukar rupiah.

Kenaikan Harga Energi

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Imron Mawardi, mengatakan pemerintah perlu mewaspadai risiko defisit transaksi berjalan yang terutama dipicu oleh kenaikan suku bunga di AS dan kinerja perekonomian yang menurun.

"Dengan langkah-langkah ekonomi AS yang menyebabkan capital outflow, sektor finansial tidak lagi kuat untuk menutup, dan ancaman ke depan masih sangat berpotensi berdampak transkasi finansial terus menurun," kata Imron.

Kondisi tersebut makin diperparah dengan konflik di Timur Tengah, dan perang Ukraina tentu akan berdampak di berbagai sektor, seperti energi dengan potensi kenaikan harganya, dan Indonesia semakin sulit meningkatkan ekspor karena perdagangan akan turut terganggu, menyebabkan defisit neraca perdagangan akan cukup besar.

Di sisi lain, Indonesia masih mengejar pertumbuhan dengan konsumsi yang banyak dari impor, sehingga yang menikmati hasilnya bukan Indonesia. Pemerintah harus mendorong agar produsen meningkatkan added value sehingga saat dieskpor punya nilai yang besar. "Insentif pajak dan regulasi yang mudah bisa dilakukan. Selain itu, langkah-langkah dari makroekonomi menjaga iklim investasi baik. Investment grade membuat pasar percaya akan memberikan capital inflow besar, dan perlu juga mencari pasar ekspor alternatif," kata Imron.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan defisit neraca transaksi berjalan yang meningkat menunjukkan adanya risiko melemahnya rupiah selanjutnya. "Defisit ini jika berasal dari neraca pendapatan modal investasi portofolio bisa segera diatasi dengan menaikkan suku bunga untuk meningkatkan daya tarik surat berharga dalam negeri dan akhirnya meredam capital outflow," kata Suhartoko.

Namun, jika sumber defisitnya dari pendapatan modal terutama dari investasi langsung, maka perlu waktu cukup panjang dan membutuhkan dana besar untuk meredamnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.