Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Terlalu Bergantung pada Impor, RI Sulit Keluar dari 'Middle Income Trap'

📅 Jumat, 03 Nov 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Terlalu Bergantung pada Impor, RI Sulit Keluar dari 'Middle Income Trap' Doc: ISTIMEWA
Ket. Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Eugenia Mardanugra­ha - Sulitnya RI melangkah lebih tinggi menjadi negara maju karena aktivitas produksi yang tidak efisien. Selain itu, pertumbuhan ekonomi hanya mengan­dalkan sektor-sektor tertentu saja, serta rumah tangga terlalu konsumtif dan ter­lalu banyak impor.

JAKARTA - Sejumlah akademisi memperkirakan Indonesia akan sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap menuju ke negara berpendapatan tinggi atau maju.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Eugenia Mardanugraha, di Jakarta, Kamis (2/11), mengatakan sulitnya RI melangkah lebih tinggi menjadi negara maju karena aktivitas produksi yang tidak efisien. Selain itu, pertumbuhan ekonomi hanya mengandalkan sektor-sektor tertentu saja, serta rumah tangga terlalu konsumtif dan terlalu banyak impor.

Eugenia menjelaskan middle income trap merujuk pada situasi di mana negara yang telah mencapai pendapatan per kapita di kisaran kategori pendapatan menengah (middle income) mengalami kesulitan untuk naik ke tingkat pendapatan yang lebih tinggi dan berlanjut menjadi negara berpendapatan tinggi.

"Negara-negara yang terjebak dalam middle income trap umumnya menghadapi tantangan ekonomi yang membuat mereka kesulitan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Indonesia mungkin saja terjebak dalam middle income," katanya.

Untuk keluar dari jebakan tersebut, masyarakat Indonesia harus lebih banyak berproduksi dan menurunkan impor. "Ekspor harus menjadi orientasi dalam perencanaan ekonomi," katanya.

Termasuk juga tenaga kerja Indonesia harus meningkatkan kualitasnya, dan lebih banyak yang bekerja di luar negeri. Mengenai berapa lama Indonesia dapat keluar dari jebakan tersebut, dia mengaku sangat sulit untuk diprediksi, bisa cepat atau lambat bergantung dari perubahan gaya hidup masyarakat dan kemampuan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan permintaan pasar internasional.

Optimisme Semu

Di kesempatan lain, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan ada banyak masalah di pengelolaan ekonomi dalam negeri sehingga potensi kegagalan Indonesia menjadi negara maju terlihat sangat nyata.

Bhima mengatakan dengan mengacu pada perhitungan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, untuk menjadi negara maju, maka rata-rata pendapatan masyarakat harus mencapai 10 juta rupiah per bulan.

Jika dihitung dari rata-rata kenaikan pendapatan masyarakat Indonesia saat ini, baru pada 2092 Indonesia bisa jadi negara maju.

"Tahun 2092 bayangkan. Berarti kan hampir mustahil di 2045 jadi negara maju. Itu cuma retorika saja untuk membangun optimisme semu," kata Bhima.

Masalah utama Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045 ada pada kelemahan institusi yang dirundung korupsi dan macetnya industrialisasi yang sering diungkapkan oleh berbagai ahli salah satunya Daron Acemoglu dan Dani Rodrik.

"Sekarang korupsi dan nepotisme menjadi terlembagakan, bahkan muncul fenomena desentralisasi korupsi sampai ke tingkat yang paling bawah. Biaya investasi pun, akhirnya menjadi lebih mahal, tecermin dari ICOR 7,6 yang lebih tinggi dari rata-rata negara Asean, di bawah 5. Semakin tinggi ICOR artinya ekonomi makin tidak efisien.

Selain itu, deindustrialisasi prematur terjadi dengan skala yang sangat cepat. Data terakhir menunjukkan porsi industri manufaktur terhadap PDB kembali ke 30 tahun yang lalu. Menurut Bhima, hal tersebut menunjukkan industri pengolahan jalan di tempat, makin tersalip oleh Vietnam. Padahal, sektor industri manufaktur adalah sektor terbesar penyerap tenaga kerja.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Ilmuwan Ungkap Gletser Swis...
Nasional
BMKG Prediksi Musim Hujan 2...
Advertisement
Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.