Layanan Taksi Robot dalam Proses Penyempurnaan
Selasa, 31 Okt 2023, 06:10 WIBTaksi robot saat ini sedang memperluas jangkauannya operasinya di beberapa kota di Amerika Serikat. Layanan ini menawarkan alternatif yang lebih aman dibandingkan pengemudi manusia dan dapat meningkatkan kelancaran arus lalu lintas di perkotaan, walau memiliki masih memiliki sejumlah kelemahan.
Di Amerika Serikat (AS) layanan robotaxi atau taksi robot mulai berkembang. Pada 8 September 2023 dua perusahaan yaitu Cruise dan Waymo melaporkan perluasan layanan mobil tanpa pengemudi tersebut setelah dua perusahaan mendapat izin untuk menjalankan taksi tanpa pengemudi di Kota San Francisco.
Sebelumnya Departemen Kendaraan Bermotor California menangguhkan izin pengujian tanpa pengemudi Cruise setelah insiden awal bulan ini. Pada insiden itu kendaraan otonomnya menabrak pejalan kaki yang sebelumnya ditabrak oleh mobil lain.
Mobilself-drivingkini hadir di jalanan kota dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada bulan Agustus, Komisi Utilitas Umum California (California Public Utilities Commission/CPUC) memberi izin kepada dua perusahaan, Cruise dan Waymo, untuk menjalankan armada taksi robot tanpa pengemudi yang beroperasi selama 24 jam dalam sepekan di San Francisco.
Turunnya izin kepada dua perusahaan tersebut merupakan lampu hijau bagi perusahaan taksi robot. Pemerintah kota semakin memberi kelonggaran bagi kendaraan otonom (autonomous vehicles/AV) di kota tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya taksi robot dari Cruise dilaporkan berperilaku tidak menentu di jalananan. Satu diantaranya memblokir jalan di luar festival musik besar, satu lagi terjebak di cor-coran beton yang masih basah, dan satu lagi bahkan bertabrakan dengan truk pemadam kebakaran.
Insiden-insiden ini telah membawa perhatian baru terhadap potensi kesulitan dalam mengintegrasikan mobil tanpa pengemudi ke dalam lingkungan perkotaan, dalam kurun waktu kurang dari 10 hari setelah persetujuan dari CPUC.
Menanggapi permasalah yang terjadi di lapangan, Departemen Kendaraan Bermotor California (California Department of Motor Vehicles) meminta agar Cruise mengurangi separuh jumlah armada operasinya di San Francisco. Sementara itu regulator menyelidiki kasu tabrakan dengan truk pemadam kebakaran.
Namun terlepas dari kendala-kendala ini dan masih adanya pertentangan, perusahaan-perusahaan mobil mengemudi sendiri (self-driving) terus memperluas pengujian dan operasinya ke lebih banyak kota di AS. Mereka yang mendukung umumnya menyatakan bahwa kendaraan ini dapat menawarkan alternatif yang lebih aman dibandingkan pengemudi manusia.
Selain hal tersebut, taksi robot membuat transportasi dapat diakses oleh lebih banyak orang. Kendaraan yang sepenuhnya listrik ini juga dinilai dapat meningkatkan kelancaran arus lalu lintas di sekitar kota dan mengurangi dampak lingkungan dari mobil.
Namun sejauh ini, sebagian besar manfaat yang dijanjikan tersebut masih menjadi harapan, karena kompleksitas masalah yang masih menyertainya. Salah satunya mobil otonom yang dioperasikan oleh Cruise dan Waymo, tidak sama dengan mobil yang tersedia secara komersial, seperti Tesla, yang dilengkapi dengan beberapa fitur bantuan pengemudi.
Berbeda dengan kendaraan yang mengharuskan pengemudi manusia untuk mengawasi kendali setiap saat, robotaxi menunjukkan apa yang sering disebut kendaraan otonom Level 4. Pada tahap ini, kendaraan dapat menavigasi area yang telah ditentukan tanpa ada orang yang memantau dan mengatur setiap pergerakan dari belakang kemudi.
"Hal ini dimungkinkan melalui peta internal yang sangat rinci," kata Ramanarayan Vasudevan, seorang insinyur yang meneliti kendaraan otonom di Universitas Michigan, dalam sesi wawancara denganScientific American.
Peta yang terhubung dengan satelit tersebut mencakup area terbatas di mana kendaraan-kendaraan ini melayani wilayah tersebut. Hal ini berarti kendaraan tersebut tidak dapat beroperasi di luar batas yang ditentukan.
Dengan itu, mobil dapat mengatasi lingkungan yang kompleks. Mereka juga mengandalkan jaringan sensor yang luas, termasuk kamera, detektor suara, dan lidar berbasis laser. Sensor-sensor ini semuanya membantu menempatkan kendaraan di dalam jalur peta dan mengirim informasi secarareal-timemengenai cuaca, pejalan kaki yang lewat, konstruksi, dan kondisi jalan lainnya.
"Dari sana, algoritma pembelajaran mesin yang dilatih pada kumpulan besar data berkendara yang dimodelkan dan di dunia nyata menerjemahkan peta kendaraan dan informasi sensor menjadi proyeksi tentang apa yang mungkin dilakukan oleh mobil, orang, atau pengendara sepeda di sekitar," kata Vasudevan.
Kecerdasan Buatan
Menurut insinyur perangkat lunak Waymo, Josh Herbach, mengatakan operator pemrograman kecerdasan buatan tambahan memberi tahu kendaraan otonom cara bergerak, sementara pedoman yang telah ditetapkan memastikan AV mengikuti peraturan lalu lintas. Jika terjebak dalam situasi yang sulit, operator manusia dapat memandunya dari jarak jauh untuk melakukan tindakan yang tepat dari meja di pusat kendali.
Sedangkan perusahaan robotaxi Waymo dan Cruise mengklaim bahwa kendaraan otonom (autonomous vehicles/AV) yang dimiliki lebih aman daripada pengemudi manusia. Kedua perusahaan telah merilis data yang mereka klaim mendukung hal ini, di antaranya dari beberapa peneliti dari luar perusahaan.
"Namun kenyataannya mungkin tidak sesederhana yang terlihat dari statistik perusahaan," kata Steven Shladover, seorang insinyur di Universitas California, Berkeley, yang telah mempelajari otomatisasi kendaraan selama 50 tahun, dikutipScientific American.
"Saya rasa belum cukup data yang tersedia bagi publik, termasuk peneliti seperti saya, untuk dapat menilai keamanan relatif," tambah Shladover.
Menurut dia perusahaan kendaraan otonom tidak membagikan semua data yang mereka kumpulkan. Seringkali kejadian negatif baru terungkap jika direkam atau diposting di media sosial. Bahkan data tentang pengemudi manusia tidak lengkap karena hanya mencakup tabrakan besar.
Data yang dirilis dapat dengan mudah memiliki kelemahan karena untuk membandingkan taksi robot dengan manusia secara akurat, perlu memperhitungkan berapa mil jarak tempuh yang dicapai dan dalam kondisi apa data yang sebenarnya tidak ada.
Namun yang jelas jumlah kendaraan yang mengalami kecelakaan lebih banyak dibandingkan kendaraan otonom. Diperkirakan lebih dari 100 juta orang mengemudi di jalan raya AS setiap hari, dibandingkan dengan hanya ratusan taksi tanpa pengemudi yang beroperasi.
Shaldover mengatakan, melihat perkiraan berapa jam mengemudi yang dilakukan orang secara nasional, kecelakaan yang melibatkan pengemudi manusia sebenarnya merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi dibandingkan dengan jumlah total waktu yang dihabiskan manusia di jalan. Data dari Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (National Highway Traffic Safety Administration) tampaknya mendukung hal ini. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Tingkat Polusi Udara di Laos Memprihatinkan
-
Jasamarga Pantau Terus Jalan Berlubang di Tol Jakarta–Cikampek
-
Gubernur NTB Hubungi Dubes RI untuk Pastikan Warganya Aman di Timur Tengah
-
Tingkatkan Pelayanan Penyebrangan, Ditjen Hubdat Gelar Bimtek Pemeriksaan SPM Kapal
-
Lestari Moerdijat Dorong Aksi Nyata untuk Atasi Krisis Pembelajaran dan Jawab Tantangan Pendidikan di 2026
-
ROSA (Robot Sampah): Solusi Inovatif Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan
-
Tinjau Terminal BBM Plumpang, Badan Perlindungan Konsumen Nasional Pastikan Cek Kualitas Dilaksanakan Berlapis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.