Optimalkan Sumber Pangan Lokal

Sabtu, 14 Okt 2023, 06:05 WIB

JAKARTA - Realisasi kemandirian pangan nasional perlu dilakukan bukan hanya di tingkat hulu, melainkan juga di sisi hilir. Selain memacu produktivitas, diversifikasi tanaman pangan lokal perlu terus didorong untuk mengurangi kebergantungan terhadap konsumsi nasi.

"Pangan lokal yang ada di sekitar harus didorong untuk menopang ketahanan pangan nasional. Apalagi sumber pangan lokal kita cukup banyak tersedia," kata Dosen dan Peneliti Pangan di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Angga Dwiartama, pada diskusi virtual, Kamis (12/10).

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

Angga menambahkan, dampak El-Nino terhadap sentra produksi pangan yang saat ini berpusat di Pulau Jawa, Sumatera, Lampung, dan Sulawesi Selatan. "Kurangnya lahan produksi serta minimnya akses masyarakat terhadap lahan menjadi salah satu faktor yang memperburuk dampak El Nino terhadap turunnya produksi pangan," katanya.

Karena akses terhadap lahan terbatas, lanjut dia, akhirnya kelompok masyarakat cenderung menerapkan sistem pertanian intensif monokultur, seperti menanam padi yang memiliki nilai ekonomi. Masalahnya, pertanian padi sangat bergantung dengan ketersediaan air sehingga, di masa kekeringan akibat El Nino dengan tingkat risiko gagal panen tinggi menyebabkan tingkat kerentanan petani juga makin meningkat.

Senada, Nugroho Hasan, CEO Kans.id, Konsultan Pemberdayaan Masyarakat dan Pertanian Berkelanjutan mengatakan El Nino menyebabkan penurunan produksi pangan. Meskipun produktivitas hasil produksi padi di Jawa Tengah secara umum masih cukup baik di daerah Boyolali dan Klaten, namun efek dari El Nino menyebabkan hasil produksi turun menjadi hanya 5-6 ton per hektare dari angka rata-rata 7-8 ton per hektare. Dampak lainnya, ada kenaikan pada harga Gabah Kering Panen (GKP).

Upaya diversifikasi tanaman pangan lokal mulai dikembangkan di beberapa daerah. Di Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan, pemerindah daerah (pemda) setempat memetakan sumber pangan lokal yang dapat dikembangkan di setiap kawasan sehingga menjadi bahan pangan pengganti beras atau nasi.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Banjarbaru, Wiwien Robiaty, mewakili Kepala DKP3 Abu Yajid Bustami menuturkan potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan, seperti tanaman ubi kayu, ubi jalar hingga buah sukun yang memiliki nilai karbohidrat sama dengan nasi dengan takaran tertentu.

"Kami berharap, melalui pemetaan itu diketahui potensi sumber pangan lokal selain beras sehingga suatu kelurahan memiliki produk pangan yang dapat dikembangkan," ucap Wiwien, beberapa waktu lalu.

Makan Umbi-umbian

Tak hanya di tingkat produsen, diversifikasi pangan juga terus dikampanyekan di tingkat konsumen. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi kebergantungan terhadap konsumsi nasi yang selama ini dominan di masyarakat Indonesia.

Di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pemda setempat menggalakkan program Rabu tanpa makan beras dan terigu, untuk mengurangi konsumsi beras masyarakat di Kota Beribu Senyuman ini.

"Setiap Rabu tidak makan beras, terigu, dan digantikan makan umbi-umbian," kata Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang Mie Go, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan inovasi Rabu tanpa makan beras dan terigu ini, tidak hanya sebagai upaya Pemkot Pangkalpinang dalam mengurangi konsumsi beras, tetapi juga untuk mengendalikan inflasi yang tinggi karena naiknya harga pangan tersebut.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.