Gencarkan Gerakan Pengendalian Hama
Sabtu, 14 Okt 2023, 06:02 WIBJAKARTA - Pemerintah fokus mengendalikan serangan hama selama El Nino. Selama kemarau panjang ini, serangan hama penggerek batang, tikus dan burung emprit sangat mengancam produksi pertanian, terutama padi.
Plt Menteri Pertanian (Mentan), Arief Prasetyo Adi menginstruksikan Dirjen Tanaman Pangan dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian segera melakukan gerakan pengendalian di lapangan. Salah satunya, berkoordinasi dengan para kepala daerah untuk sama-sama membasmi hama ini.
"Kementerian Pertanian menyiapkan bantuan bahan-bahan yang diperlukan dalam pengendaliannya. Misal untuk burung emprit, kami siapkan bantuan jaring penangkap burung," ungkapnya di Jakarta, Jumat (13/10).
Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan hingga saat ini Kementan secara masif mengendalikan hama penggerek batang, tikus dan emprit di semua daerah. Selain cara kimia, Kementan mengedepankan pengendalian hama secara ramah lingkungan.
"Misal untuk tikus, tidak perlu lagi dengan cara kimia. Kementerian Pertanian merekomendasikan melalui gropyokan dilakukan terus menerus dimulai selesai pengolahan pertama sampai dengan sebelum tanam. Kemudian bisa dengan inovasi ramah lingkungan yaitu Ramuan Bioyoso," ujarnya.
Suwandi menjelaskan Ramuan Bioyoso merupakan pestisida berbahan alami guna mengendalikan hama tikus. Caranya adalah ramuan Bioyoso dijadikan umpan sistemik agar dimakan tikus dan kemungkinan tikus akan mengalami kemandulan dan gigi rontok, lalu selanjutnya mati dalam kurun waktu 2 minggu.
"Pembuatan dapat dilakukan petani sendiri yakni dari ubi gadung, bekatul, ikan yang amis terus ditambah kulit pohon kambija ditambah empat potong ragi tape lalu ditumbuk. Lalu ditaruh jaraknya 3 sampai 5 meter. Nanti dalam waktu 3 sampai 5 hari tikusnya mati," jelasnya.
Pengendalian Efisien
Untuk teknik pengendalian penggerek batang padi yang lebih efektif, Suwandi menyebutkan efisien dan ramah lingkungan perlu dikembangkan. Salah satunya adalah pemanfaatan feromon yang dapat digunakan untuk pemantauan tingkat populasi dan perangkap massal. Sebagai alat pemantau populasi maka perangkap berferomon akan memberikan informasi lebih dini dan tepat untuk melakukan tindakan pengendalian hama tersebut.
"Sebagai alat perangkap massal, maka pemakaian perangkap berferomon dapat menurunkan tingkat populasi serangga jantan yang secara tidak langsung akan menekan jumlah serangga berkopulasi (kawin) sehingga akan menurunkan tingkat populasi serangga hama generasi berikutnya. Pemanfaatan perangkap berferomon untuk pengendalian penggerek batang padi kuning dengan memasang 24 perangkap perhektar, akan memberikan hasil yang cukup baik," jelasnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
10 Film Terbaik Abad Ini Pilihan Penulis Tersohor Stephen King, Wajib Ditonton Lagi!
-
Industri Susu Tingkatkan Produksi Kemasan untuk Program MBG
-
Pengendalian hama untuk antisipasi gagal panen
-
Sikap China Terkait Ancaman Serangan Militer Amerika Serikat ke Iran dan Krisis Energi Global
-
Ambisi Treble Winners Bayern Diuji Leverkusen di Semifinal Piala Jerman
-
Kementan Gandeng Pemda Magetan Perkuat Serapan Telur Peternak Rakyat
-
Kemendiktisaintek Terbitkan Edaran Soal Penyesuaian Pola Belajar di Kampus
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.