Dolar AS Menguat, Indeks Capai Tertinggi Sekitar 10 Bulan

Rabu, 27 Sep 2023, 08:04 WIB

NEW YORK - Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (26/9) atau rabu pagi WIB, karena pasar masih gelisah terhadap proyeksi suku bunga hawkish dari Federal Reserve.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang menjadi acuan naik beberapa basis poin mendekati 4,57 persen pada Selasa pagi, tertinggi sejak 2007, sebelum turun kembali.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi mengangkat dolar AS, dengan indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,22 persen menjadi 106,2270 pada akhir perdagangan, yang merupakan level tertinggi dalam sekitar 10 bulan.

Presiden Joe Biden pada Selasa (26/9) meminta Kongres melalui unggahan di media sosial untuk mendanai pemerintah ketika muncul peringatan bahwa penutupan pemerintahan yang akan terjadi dapat merusak peringkat kredit dan dolar AS.

Moody's dan Wells Fargo pekan ini memperingatkan bahwa penutupan pemerintahan akan berdampak negatif terhadap perekonomian AS.

Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen The Conference Board turun untuk bulan kedua berturut-turut, merosot ke 103 pada September dari revisi naik sebesar 108,7 pada bulan sebelumnya.

Indeks kepercayaan konsumen berada pada level terendah kedua tahun ini, tepat di atas angka 102,5 pada Mei, menurut data. Belanja konsumen berperan sebagai pendorong penting bagi pertumbuhan ekonomi AS.

Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan pada Selasa (26/9) bahwa ia melihat kemungkinan terjadinya soft landing pada perekonomian AS, namun juga terdapat peluang sebesar 40 persen bahwa The Fed harus menaikkan suku bunga secara signifikan untuk memerangi inflasi.

Dalam sebuah wawancara, Ketua JP Morgan Jamie Dimon mengatakan pada Selasa (26/9) bahwa kasus terburuk adalah suku bunga 7,0 persen dengan stagflasi, "Jika mereka ingin menurunkan volume dan menaikkan suku bunga, akan ada tekanan dalam sistem. Kami mendesak klien kami untuk bersiaplah menghadapi tekanan seperti itu. Saya tidak yakin apakah dunia siap menghadapi 7,0 persen."

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,0566 dolar AS dari 1,0587 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2157 dolar AS dari 1,2208 dolar AS.

Dolar AS dibeli 149,0710 yen Jepang, lebih tinggi dari 148,8090 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9152 franc Swiss dari 0,9123 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3521 dolar Kanada dari 1,3471 dolar Kanada. Dolar AS turun menjadi 11,0285 krona Swedia dari 11,0561 krona Swedia.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.