India Berlakukan Pembatasan Pertemuan karena Virus Nipah

Jumat, 15 Sep 2023, 00:00 WIB

NEW DELHI - India mulai Kamis (14/9) melakukan pembatasan pertemuan warga dan menutup beberapa sekolah di negara bagian Kerala, di bagian selatan negara itu, setelah dua orang meninggal karena Nipah, infeksi yang disebabkan oleh virus dari kelelawar atau babi yang dapat menyebabkan demam mematikan.

Dikutip dari The Straits Times, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) mengatakan infeksi virus Nipah memiliki tingkat kematian berkisar antara 40 persen hingga 75 persen, dan belum ada vaksin untuk melawan virus ini.

Ket. Foto: Warga memasang tanda bertuliskan “Zona penahanan Nipah” di Desa Ayancheri, di Kerala, India, Rabu (13/9). — Sumber: ISTIMEWA

Gejalanya meliputi demam tinggi, muntah-muntah, dan infeksi saluran pernapasan, namun kasus yang parah dapat menyebabkan kejang dan ensefalitis, peradangan otak, dan mengakibatkan koma.

"Tiga orang lainnya di India dinyatakan positif mengidap virus tersebut. Dan lebih dari 700 orang, termasuk 153 petugas kesehatan, yang melakukan kontak dengan mereka yang terinfeksi sedang dalam pengawasan," kata pejabat kesehatan.

Setidaknya empat orang telah dirawat di rumah sakit, termasuk anak berusia sembilan tahun dari salah satu orang yang meninggal.

"Awalnya ditularkan dari hewan seperti kelelawar buah dan babi, Nipah juga menyebar dari orang ke orang," kata WHO.

Masa Inkubasi

Menurut WHO, masa inkubasi, waktu dari infeksi hingga timbulnya gejala, berkisar antara empat hingga 14 hari, namun dilaporkan mencapai 45 hari.

Pada tahun 2018, setidaknya 17 orang meninggal setelah tertular virus tersebut di Kerala. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1998 setelah menyebar di kalangan peternak babi di Malaysia. Di India, wabah Nipah pertama kali dilaporkan di negara bagian Benggala Barat pada 2001.

"Nipah sebagai salah satu penyakit prioritas yang menimbulkan risiko kesehatan masyarakat terbesar karena potensi epideminya dan tidak ada atau tidak ada tindakan penanggulangan yang memadai," kata WHO.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Turun Langsung Padamkan Karhutla di Kalsel

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.