Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jelang Pemilu, Perlunya Menjaga Independensi dan Memperdalam Substansi

6 Kamis, 14 Sep 2023, 11:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Jelang Pemilu, Perlunya Menjaga Independensi dan Memperdalam Substansi Jelang Pemilu, Perlunya Menjaga Independensi dan Memperdalam Substansi Doc: The Conversation Indonesia/Shinta Saragih
Ket. Para panelis di ulang tahun TCID ke-6.

Hayu Rahmitasari, The Conversation

Perdebatan publik di Indonesia yang terjadi belakangan ini bisa menjadi pratinjau atas situasi di masa pemilihan umum (pemilu) tahun 2024. Sayangnya, perdebatan ini masih terpaku pada isu-isu sekunder dan dipenuhi oleh hoaks dan disinformasi yang minim pembahasan substansial mengenai masalah kemiskinan, ketimpangan, perubahan iklim, kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan ketimpangan gender.

Dalam kasus polusi udara misalnya, para kandidat masih menyajikan solusi yang tidak menyentuh akar permasalahan iklim tetapi justru memunculkan risiko beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang membebani lingkungan hidup dan warga. Sementara tekanan terhadap kebebasan akademik di kampus juga semakin memperlemah suara-suara kritis yang ada.

Begitulah kira-kira benang merah dari diskusi panel yang diadakan oleh The Conversation Indonesia (TCID) dalam rangka perayaan ulang tahunnya yang ke-6 pada 8 September 2023 di Institut Francais Indonesia (IFI) Jakarta.

Diskusi yang dimoderasi oleh editor lingkungan TCID, Robby Irfany Maqoma ini menghadirkan sejumlah pakar seperti Herlambang Wiratraman (Dosen Hukum, Universitas Gadjah Mada), Saras Dewi (Dosen Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia), Chairil Abdini (Tim Koordinasi Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang/RPJP 2025-2045), dan Ika Krismantari (Content Editor, The Conversation Indonesia).

Publik perlu ruang diskusi yang demokratis

Para panelis mengemukakan bahwa salah satu penyebab minimnya perdebatan yang substansial menjelang pemilu di Indonesia adalah kurangnya ketersediaan ruang yang mendukung.

Saras menggarisbawahi adanya polarisasi dan pertikaian di media sosial yang tidak memberikan ruang bagi pertukaran pemikiran yang lebih mendalam. Ruang di media sosial kini dikuasai oleh isu-isu yang terpolarisasi sehingga tidak lagi memberikan kesempatan bagi warga untuk mendiskusikan hal-hal yang lebih berdampak terhadap mereka.

"Di media sosial, kita mulai melihat perdebatan yang sangat membuka polarisasi yang tidak sehat di masyarakat. Sedikit sekali di dalam perlagaan politik, saya melihat hal substansial yang disampaikan oleh orang-orang yang berkepentingan untuk mengajukan dirinya sebagai kandidat," ungkap Saras.

Sementara itu, Herlambang menyebutkan bahwa kebebasan akademik yang semestinya memungkinkan pembentukan wacana yang lebih kritis juga mulai terbatasi dengan adanya tekanan politik yang hegemonis. Padahal, kebebasan di lingkungan kampus dapat mencerminkan kebebasan yang ada di masyarakat.

"Kebebasan berekspresi dan berpendapat atau bentuk-bentuk kebebasan lain, ini paralel dengan situasi demokrasi yang merosot kualitasnya, sementara politik otoriter semakin menguat," jelas Herlambang.

Hal ini senada dengan pendapat Ika yang menyebutkan bahwa pemilik media dengan kepentingan bisnis atau politik tertentu dapat membatasi perdebatan publik.

"Saya melihat, dengan lanskap media yang ada pada saat ini, diskursus pembicaraan publik didominasi oleh kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan politis,"

Terkait hal ini, Chairil menegaskan bahwa semua permasalahan ini terjadi karena kita melupakan visi misi kita sebagai bangsa, atau sibuk dengan visi misi sendiri-sendiri bukan visi misi bersama. Absennya perlindungan terhadap akademia, contohnya, tidak sesuai dengan misi Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah indonesia. Chairil menambahkan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah menyusun RPJP yang sudah melalui proses konsultasi publik kepada akademisi, rektor, gubernur dan media, tetapi gaungnya tidak muncul karena kita tidak menganggapnya penting.

Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha untuk menjaga independensi, memperkuat kolaborasi dan memperdalam substansi, terutama di masa menjelang pemilu ini.

Para panelis sepakat bahwa kebijakan-kebijakan yang ada perlu menyasar pada solusi yang sampai ke akar, bukan hanya di permukaan. Lalu kebebasan akademik perlu mendapatkan perlindungan, terutama dengan adanya intensitas serangan yang semakin menguat tatkala berurusan dengan ritual politik seperti pemilu. Dari sisi media, tugas media sebagai pilar demokrasi perlu dikuatkan kembali agar bisa memastikan tersedianya ruang untuk mengingatkan bahwa ada isu-isu yang harus diangkat untuk kemudian dipecahkan oleh para kandidat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
Advertisement
Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

06 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.