Roket Jepang yang Bawa Satelit Akan Diluncurkan ke Bulan pada Minggu

Sabtu, 26 Agu 2023, 00:03 WIB

TOKYO - Jepang akan menjadi negara terbaru yang mengincar bulan akhir pekan ini, hanya beberapa hari setelah pesawat ruang angkasa Russia bertabrakan dengan permukaan bulan dan Chandrayaan-3 milik India mendarat di dekat kutub selatan satelit Bumi itu.

Dikutip dari The Straits Times, roket H2-A milik Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang atau Japan Aerospace Exploration Agency (Jaxa) dijadwalkan lepas landas pada Minggu (27/8) pagi dari Pusat Luar Angkasa Tanegashima di Jepang selatan, membawa satelit pencitraan canggih dan wahana pendarat ringan, diperkirakan akan mendarat di bulan pada Januari atau Februari 2024.

Ket. Foto: Perusahaan Jepang, ispace, menunjukkan pendarat Hakuto-R Mission 1 yang disimpan di bagian depan roket Falcon 9 milik SpaceX, beberapa waktu lalu. Roket H2-A milik Jaxa, yang dijadwalkan lepas landas pada Minggu (27/8) pagi, akan mendarat di bulan pada bulan Januari atau Februari. — Sumber: HANDOUT/ISPACE/AFP

Kesuksesan misi ini akan memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan Jaxa untuk mulai membangun kembali reputasinya yang terpuruk setelah serangkaian kemunduran yang merugikan, selama setahun terakhir.

Hal ini mencakup beberapa kegagalan peluncuran yang menghalangi pengenalan roket generasi terbaru dan upaya pertama badan tersebut untuk meluncurkan satelit komersial.

Menurut pengamat di Departemen Teknik Dirgantara, Universitas Nagoya, Jiro Kasahara, kegagalan tersebut memberikan tekanan tambahan pada Jaxa untuk memperbaikinya kali ini. "Mendarat di benda angkasa yang bergerak adalah teknologi yang sangat penting untuk dikuasai," katanya.

Meskipun badan antariksa lain telah pulih dari kegagalan, Jaxa akan kesulitan untuk bangkit kembali jika tersandung lagi. "Jepang hanya punya satu kesempatan untuk melakukan hal ini," katanya.

Permintaan Meningkat

Penderitaan Jaxa dimulai pada Oktober 2022, ketika perusahaan tersebut membatalkan peluncuran keenam roket Epsilon di tengah penerbangan. Roket tersebut membawa dua satelit dari kontrak komersial pertama Jaxa, sebagai bagian dari upaya untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat di sektor swasta.

Ini adalah kegagalan besar pertama roket Jepang sejak 2003, dan penyelidikan Jaxa menyalahkan bagian yang rusak yang menghalangi roket untuk tetap tegak mencapai orbit.

Pada November, Jaxa mengungkapkan tim peneliti telah memalsukan sejumlah besar data yang dikumpulkan selama percobaan simulasi kehidupan di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Pada Februari, badan tersebut menunda peluncuran perdana roket H3, penerus H2-A Jaxa, setelah kerusakan sistem antara mesin utama dan penguat samping membuat roket tersebut tidak dapat terbang.

Mitsubishi Heavy Industries menghabiskan hampir satu dekade mengerjakan H3, roket sekali pakai yang dimaksudkan untuk memberikan alternatif yang lebih murah dan andal dibandingkan pesaing seperti Falcon 9 yang dapat digunakan kembali dari SpaceX.

Upaya kedua pada awal Maret berakhir jauh lebih dramatis setelah mesin tahap kedua roket gagal menyala. Operator mengirimkan kode penghancuran diri begitu pesawat itu berada di udara, menyebabkan pesawat dan satelit yang dibawanya jatuh ke Laut Filipina.

Dan kemudian pada Juli, mesin Epsilon S (iterasi ketujuh roket) meledak selama uji darat, menyebabkan api dan kepulan asap melahap sebuah fasilitas di Prefektur Akita, Jepang utara.

Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, insiden tersebut merupakan kemunduran tidak hanya bagi seri Epsilon, tetapi juga bagi H3, karena kedua roket tersebut menggunakan pendorong roket padat baru yang sama.

"Mengingat kejadian baru-baru ini, kami berupaya melakukan apa pun yang kami bisa untuk memperbaiki situasi," kata Direktur Jaxa, Hiroshi Yamakawa, pada konferensi pers setelah kecelakaan itu.

Jaxa telah mempersempit kemungkinan penyebab kegagalan H3 hanya pada busi atau unit kontrol pada mesin tahap kedua, kata badan tersebut kepada panel pemerintah pada 23 Agustus.

Badan tersebut sekarang dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah terulangnya upaya peluncuran H3 berikutnya, yang dijadwalkan sebelum akhir tahun fiskal berjalan pada Maret 2024.

"Sebelum tahun ini, roket-roket Jepang telah bekerja dengan baik, mungkin terlalu baik, yang mungkin menyebabkan kelalaian tertentu," kata Shinichi Kimura, Direktur Pusat Penelitian Inovasi Sistem Luar Angkasa Universitas Sains Tokyo.

Peluncuran Minggu ini memberikan Jaxa mendapat kesempatan untuk mengambil pelajaran menyakitkan itu. "Ini adalah misi penting, baik secara ilmiah maupun simbolis," katanya.

Kimura dan Kasahara adalah penasihat panel pemerintah yang menyelidiki kerusakan H3.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.