Gawat, Debit Air Sungai Cimahi Alami Penurunan

Sabtu, 19 Agu 2023, 00:27 WIB

Bandung - Gawat, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota Cimahi mengakui bahwa debit air di Sungai Cimahi yang menjadi sumber air baku Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) bagi masyarakat Cimahi, mengalami penurunan.

Kepala DPKP Kota Cimahi, Endang, menjelaskan bahwa saat ini debit air Sungai Cimahi yang digunakan sebagai sumber air yang diolah Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) Air Minum mengalami penurunan hingga 20 persen, karena musim kemarau.

"Memang debit air sungai yang digunakan, ada penurunan 10 sampai 20 persen di musim kemarau ini. Adapun debit totalnya tersebut sekitar 120 liter per detik," kata Endang, Jumat.

Meski begitu, Endang memastikan produksi air bersih setiap harinya tetap normal sehingga distribusi terhadap 4.550 sambungan rumah di Kota Cimahi tetap aman, mengingat tidak semua debit air di Sungai Cimahi dipergunakan untuk diolah sebagai air perpipaan.

"Aman untuk pasokan air baku, karena sisa debit masih cukup besar. Debit total sekitar 120 liter per detik, yang diambil untuk air baku 50 liter detik," ucap Endang.

Karena debit air baku yang tersedia masih aman, Endang mengucapkan bahwa pihaknya pada tahun 2023 ini akan menambah kapasitas produksi air bersih sebanyak 30 liter per detik.

Rencananya, kapasitas tambahan tersebut akan didistribusikan bagi 2.500 sambungan rumah di wilayah Cigugur Tengah, dan Cibeureum.

"Kita sudah mulai untuk tambahan produksinya. Jadi nanti air baku yang diproduksi jadi 80 liter per detik karena ada tambahan 30 liter per detik. Rencananya akan disambungkan ke Cigugur Tengah dan Cibeureum," katanya.

Endang melanjutkan, ketersediaan air bersih yang ada di SPAM dari Sungai Cimahi yang berada di kawasan perkantoran Pemkot Cimahi itu, masih bisa menyuplai bantuan bagi warga yang mengalami kesulitan air bersih selama musim kemarau tahun 2023 ini.

Yakni, kata dia, ke beberapa daerah seperti di Kelurahan Cibeber, Kelurahan Leuwigajah dan Kelurahan Cipageran yang dilaporkan mengalami kesulitan air bersih dan rutin dipasok air bersih menggunakan mobil tanki setiap pekan.

"Laporan yang sudah masuk ke kita itu ada beberapa RT dan RW di tiga kelurahan sejak Juli sampai Agustus ini. Satu minggu itu kita rutin kirim dua kali, tidak dipungutbiaya," ujar Endang.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi mengungkapkan bahwa semua kelurahan di Cimahi memiliki titik yang berpotensi terdampak kekeringan dengan rata-rata berkategori sedang, berdasarkan hasil Kajian Risiko Bencana(KRB) yang dilakukan BPBD Cimahi tahun 2022 lalu.

Berdasarkan pemetaan, luas potensi bencana kekeringan di Kota Cimahi adalah sebesar 4.280,40 hektare, dengan kelurahan yang memiliki luas bahaya kekeringan tertinggi adalah Kelurahan Cipageran (620,28 hektare) dengan kelas tinggi, atau sekitar 14,49 persen dari total luas wilayah bahaya kekeringan.

Dengan munculnya fenomena El Nino yang berefek kemarau, Kota Cimahi menetapkan status siaga darurat bencana alam kekeringan, dalam rangka mengantisipasi berbagai bencana alam yang diakibatkan musim kemarau.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.